Analis: IHSG Mulai Turun Sejak Pemerintah Usut Perusahaan Penyebab Banjir Sumatera, Salah Satunya Tambang Emas Martabe
Menurut Fanny, salah satu kasus yang cukup memengaruhi pergerakan IHSG adalah tambang emas Martabe.
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman menyebut bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejatinya mulai menunjukkan tren penurunan sejak munculnya kabar pencabutan izin sejumlah perusahaan yang terdampak banjir besar di wilayah Sumatera.
Ia menjelaskan bahwa sentimen tersebut menjadi pemicu awal koreksi pasar. Menurut Fanny, salah satu kasus yang cukup memengaruhi pergerakan IHSG adalah tambang emas Martabe.
"IHSG kalau diperhatikan sebenarnya kapan sih mulai turunnya? Jadi kalau teman-teman lihat dari pergerakan IHSG mulai turun itu pertama kali ketika ada pencabutan izin beberapa perusahaan terkait dengan banjir Sumatera yang cukup berpengaruh, contohnya ini tambang Martabe," kata Fanny dalam Morning Investview, Selasa (3/2).
Tambang ini memiliki kapitalisasi pasar yang besar dan keterkaitan dengan emiten berkapitalisasi jumbo seperti United Tractors (UNTR) serta Astra Group, sehingga dampaknya terasa signifikan di pasar saham.
"Ketika tambang Martabe ini diumumkan kena imbas soalnya lumayan gede ini Capsnya yaitu UNTR dan juga Astra ricis itu yang membuat pertama kali IHSG mulai mengalami koreksi," ujarnya.
Sentimen negatif tersebut membuat investor mulai melakukan aksi jual, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi penopang utama indeks. Kondisi ini menandai fase awal koreksi IHSG setelah sebelumnya bergerak relatif stabil.
Dampak Laporan MSCI
Setelah sentimen dari sektor tambang, pasar kembali diguncang oleh pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berdampak signifikan terhadap perdagangan saham domestik.
Fanny mencatat, efek dari pengumuman tersebut membuat IHSG sempat mengalami trading halt hingga dua kali dalam waktu berdekatan. Pada hari pertama trading halt, investor asing tercatat membukukan aksi jual bersih atau net sell sekitar Rp6 triliun.
"Setelah itu kalau diperhatikan muncul pengumuman dari MSCI yang akhirnya membuat IHSG kita sempat dua kali mengalami trading halt dan di hari ketiga mulai rebound lagi. Sejak diumumkan dan karena halt pertama itu asing sudah netsell kurang lebih sekitar Rp6 triliun," ujarnya.
Trading Halt Terus Menerus
Fanny mengatakan, tekanan berlanjut pada hari kedua dengan net sell asing yang kembali mencapai sekitar Rp5 triliun. Memasuki hari ketiga, IHSG memang mulai menunjukkan rebound dan menguat sekitar 1,2 persen.
Namun demikian, aliran dana asing masih belum sepenuhnya pulih karena investor asing kembali mencatatkan net sell sekitar Rp1,9 triliun meskipun indeks bergerak naik. Baru pada perdagangan terakhir, asing mulai membukukan net buy sebesar Rp593 miliar.
Meski begitu, IHSG justru terkoreksi hampir 5 persen, dipengaruhi sentimen tambahan berupa pengunduran diri Kepala Eksekutif Bursa Efek Indonesia serta sejumlah pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menambah ketidakpastian di pasar.
"Ini kemarin akhirnya pertama kalinya asing mulai membukukan net buy Rp 593 miliar, walaupun IHSG nya memang koreksi lagi hampir 5 persen. Ini ada efek pengunduran diri dari kepala eksekutif bursa efek Indonesia hingga pejabat OJK kurang lebih itu yang terjadi di market kita belakangan ini," pungkasnya.