Dana Asing Banyak Keluar dari Pasar Saham RI, OJK Soroti Dampak Kebijakan The Fed
Suku bunga tinggi di AS membuat instrumen keuangan berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi investor global.
Pasar modal Indonesia tengah menghadapi tekanan arus keluar dana asing (capital outflow) di tengah ketidakpastian global. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, kondisi ini tidak terlepas dari faktor eksternal, terutama kebijakan suku bunga tinggi yang dipertahankan lebih lama oleh bank sentral Amerika Serikat.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi menyampaikan bahwa fenomena outflow yang terjadi saat ini merupakan bagian dari dinamika global yang juga dialami banyak negara. Meski demikian, OJK tetap optimistis bahwa kondisi ini bersifat sementara selama fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga.
"Dapat kami sampaikan kalau teman-teman lihat terjadi outflow ya. Karena memang saat ini kondisi dari faktor geopolitik dan geokonomi secara global. Di mana tentu kalau dari The Fed Higher for longer makanya pada outflow. Namun selama kita yakini fundamental kita baik, kita harapkan ini akan bisa berbalik," kata Friderica dalam Keterangan Pers KSSK, di Istana Merdeka, Jakarta, ditulis Rabu (6/5).
Perempuan yang akrab disapa Kiki ini menjelaskan, kebijakan 'higher for longer' yang diambil bank sentral AS atau Federal Reserve menjadi salah satu faktor utama yang mendorong keluarnya dana asing dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Suku bunga tinggi di AS membuat instrumen keuangan berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi investor global. Akibatnya, terjadi pergeseran alokasi dana dari pasar negara berkembang menuju aset yang dianggap lebih aman.
Selain itu, ketidakpastian geopolitik dan geokonomi global turut memperkuat tekanan terhadap pasar keuangan domestik. Kombinasi faktor ini membuat arus keluar dana asing sulit dihindari dalam jangka pendek.
Reformasi Pasar Modal
OJK juga terus mendorong reformasi di pasar modal untuk meningkatkan transparansi dan likuiditas. Sejumlah langkah yang telah dilakukan antara lain membuka data kepemilikan saham hingga level tertentu, memperinci klasifikasi investor, serta mengungkap ultimate beneficial owner.
Langkah ini merupakan respons atas perhatian investor global, termasuk terkait evaluasi dari indeks internasional seperti MSCI. Ke depan, pengumuman dan penyesuaian indeks oleh MSCI berpotensi memicu volatilitas, namun dinilai hanya bersifat sementara.
"Kemudian ultimate beneficial owner juga sudah kita sampaikan. Dan juga satu lagi terkait likuiditas yaitu untuk free float di atas 15 persen dengan stages yang kita sampaikan," pungkasnya.