Indonesia Tak Sendirian, OJK Ungkap Banyak Negara Asia Kena Rebalancing MSCI
Kondisi ini bukan persoalan spesifik Indonesia, melainkan bagian dari dinamika global yang juga dialami banyak negara di kawasan.
Perubahan komposisi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) kembali menjadi sorotan pasar setelah sejumlah saham dari berbagai negara Asia Pasifik keluar dari indeks global tersebut, termasuk Indonesia. Namun, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa kondisi ini bukan persoalan spesifik Indonesia, melainkan bagian dari dinamika global yang juga dialami banyak negara di kawasan.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan rebalancing berkala MSCI merupakan mekanisme rutin yang dilakukan berdasarkan sejumlah parameter objektif seperti kapitalisasi pasar, free float, likuiditas, hingga dinamika harga saham.
“Perubahan komposisi indeks MSCI merupakan bagian dari mekanisme review berkala yang didasarkan pada sejumlah parameter objektif seperti market capitalization, free float, likuiditas, dan dinamika harga saham. Fenomena ini juga tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi terjadi di hampir seluruh pasar Asia Pasifik pada review kali ini,” kata Friderica dalam keterangannya, di Jakarta, Rabu (13/5).
Dia memaparkan, dalam MSCI Global Standard Index, Jepang mengalami 14 emiten keluar, Taiwan 7 emiten keluar, Malaysia 6 emiten keluar, Korea 3 emiten keluar, bahkan Tiongkok meskipun menambah 22 emiten juga mengalami 24 emiten keluar.
Menurut OJK, kondisi ini mencerminkan adanya penyesuaian alokasi portofolio global serta dinamika pasar yang meluas di kawasan Asia Pasifik. Dengan demikian, keluarnya sejumlah saham Indonesia dari MSCI tidak dapat dimaknai sebagai sinyal melemahnya pasar modal domestik semata.
“Jadi, ini mencerminkan adanya penyesuaian global portofolio allocation dan dinamika market yang cukup luas di kawasan, bukan semata isu spesifik Indonesia,” jelas dia.
OJK Perkuat Kualitas dan Kedalaman Pasar Modal RI
Kendati demikian, OJK memandang ini sebagai pengingat penting untuk terus memperkuat kualitas dan kedalaman pasar modal Indonesia. OJK bersama seluruh stakeholders akan terus mendorong penguatan market integrity, peningkatan free float, dan likuiditas, perluasan basis investor, serta penguatan governance emiten agar daya saing pasar modal Indonesia semakin kuat dan berkelanjutan.
Fundamental sektor jasa keuangan Indonesia tetap resilien dan stabil. Volatilitas jangka pendek maupun perubahan indeks global tidak mengubah komitmen kami untuk terus membangun pasar yang sehat, transparan, dan credible bagi investor domestik maupun global.
“Ke depan, kami juga terus memperkuat koordinasi dengan BEI, SRO, dan seluruh pelaku pasar guna memastikan pasar modal Indonesia semakin attractive, liquid, dan investable dalam jangka panjang,” ujar Perempuan yang akrab disapa Kiki.
Hasil Pengumuman Rebalancing MSCI
Morgan Stanley Capital International (MSCI) resmi mengumumkan hasil penyesuaian indeks global atau index review periode Mei 2026. Dalam peninjauan kali ini, sejumlah saham Indonesia tercatat keluar dari indeks MSCI, baik pada kategori Global Standard Indexes maupun Global Small Cap Indexes, dengan minim tambahan baru.
Melansir situs resmi MSCI, Rabu (13/5/2026), pada MSCI Global Standard Indexes, tidak ada saham Indonesia yang masuk dalam rebalancing kali ini.
Sebaliknya, MSCI menghapus enam saham domestik dari indeks tersebut, yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Di sisi lain, MSCI juga mengeluarkan 13 saham Indonesia dari indeks small cap. Saham-saham tersebut adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI).
Kemudian, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), serta PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), termasuk satu saham lain yakni Industri Jamu Farmasi (SIDO).