Jelang Grebeg Iduladha, Panembahan Agung Serukan Kerukunan Keluarga Keraton Surakarta
Imbauan tersebut disampaikan sebagai upaya menjaga kondusivitas dan persatuan masyarakat.
Panembahan Agung Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, kembali menginstruksikan seluruh pihak untuk menjaga ketertiban umum serta mengedepankan kerukunan bersama di tengah dinamika yang berkembang di lingkungan Keraton Surakarta. Imbauan tersebut disampaikan sebagai upaya menjaga kondusivitas dan persatuan masyarakat.
Melalui juru bicara, Kangjeng Candra Malik Pakoenegoro, Tedjowulan menegaskan, unsur-unsur yang mengganggu pelaksanaan kegiatan tradisi dan budaya, termasuk di antaranya Grebeg Iduladha 2026 serta revitalisasi keraton harus ditindak tegas.
"Berkaitan dengan Gerebeg Besar Iduladha Tahun Dal 1959, Gusti Tedjowulan sudah mengadakan rapat koordinasi dengan keluarga besar dan aparatur Pemerintah Kota Surakarta pada Selasa, 12 Mei 2026, untuk memastikan ketertiban umum dan kerukunan bersama, ujar Pakoenegoro, Rabu (13/5).
Gerebeg Besar Idul Adha
Dikatakannya, rapat koordinasi dihadiri oleh Pengageng Sasana Wilapa dan Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta GKR Wandansari Koesmurtiyah alias Gusti Moeng bersama KPH Eddy Wirobumi, Kapolsek Pasar Kliwon AKP Sunarto, Danramil 05/0735 Pasar Kliwon Kapten Kav Supriyanto, Camat Pasar Kliwon Ari Wibowo, dan Lurah Baluwarti Sri Winarni, serta perwakilan Dinas Perhubungan dan Satpol Pamong Praja Surakarta.
Hadir pula sejumlah Keluarga Besar Keraton Surakarta dan para abdidalem.
"Gusti Tedjowulan memberikan arahan agar Gerebeg Besar Idul Adha berjalan lancar, aman nyaman, dan damai. Jangan lagi menonjolkan ego personal maupun kelompok. Keluarga Besar Keraton Surakarta harus bersatu. Tidak boleh ada gesekan dari mana pun. Jangan mengadakan Gerebek Besar Idul Adha sendiri-sendiri," katanya.
Untuk menciptakan suasana kondusif, lanjutnya, Gusti Tedjowulan juga melibatkan unsur TNI/Polri untuk pengamanan dan keamanan.
Untuk penentuan hari dan tanggal Grebeg Besar Idul Adha, Tedjowulan, mengarahkan untuk menunggu penetapan dari Pemerintah.
"Prinsipnya, misalkan Idul Adha ditetapkan pada 27 Mei 2026, maka Gerebeg Besar akan diadakan hari berikutnya atau hari kedua Idul Adha," jelasnya.
TNI/Polri Akan Dikerahkan
Lanjut dia, TNI/Polri juga akan dikerahkan untuk pengamanan dan keamanan pelaksanaan Revitalisasi Keraton Surakarta tahap kedua.
"Insya Allah, pengerjaan revitalisasi Keraton Kilen akan dimulai pertengahan tahun ini. Berbagai tahapan awal sedang berlangsung saat ini. Selain Keraton Kilen, Kantordalem Panembahan Agung juga menjadi prioritas," lanjut Pakoenegoro.
Ditambahkan, saat ini juga terus berjalan pendataan kekayaan budaya yang berada di Keraton Surakarta. Dimulai dari Museum Keraton Surakarta, dan akan berlanjut inventarisasi ke tempat-tempat lain di keraton, termasuk nDalem Ageng dan nDalem Pakubuwanan.
Didampingi oleh keluarga besar keraton, pendataan dilaksanakan oleh Kementerian Kebudayaan dan Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah.
"Gusti Tedjowulan terus berusaha merangkul semua pihak agar pendataan berjalan sebaik-baiknya. Kekayaan budaya, terutama Pusaka-Pusaka Kagungandalem juga akan didata, dan sekiranya sudah berpindah tempat maka akan dikembalikan ke tempatnya semula. Beliau berharap semua pihak bersikap kooperatif," tegas Pakoenegoro.
Pusaka-Pusaka Kagungandalem
Keberadaan dan keamanan Pusaka-Pusaka Kagungandalem sangat penting, menurut Pakoenegoro, terkait persiapan pelaksanaan Kirab Malam 1 Suro Tahun Be 1960.
"Arahan Gusti Tedjowulan, kita akan mengadakan Doa Bersama pada Malam 1 Suro, dilanjutkan Kirab Pusaka-Pusaka Kangjeng Kyai Ageng Kagungandalem. Selain bahwa memang dinanti-nantikan masyarakat luas, Kementerian Kebudayan juga berharap kegiatan tahunan ini meningkatkan potensi pariwisata, khususnya di Soloraya," ucapnya.
Dikatakannya, Tedjowulan terus berkoordinasi dengan Kementerian Kebudayaan. Pada akhir pekan lalu, Tedjowulan hadir dalam rapat koordinasi revitalisasi keraton, di Hotel The Heritage, bersama Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Dr. Restu Gunawan, Staf Khusus Menteri Bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya Basuki Teguh Yuwono, Staf Khusus Menteri Bidang Hukum dan Kekayaan Intelektual B.R.Ay. Putri Woelan Sari Dewi dan Direktur Warisan Budaya Dr. Agus Widiatmoko. Hadir pula perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah, dan Pemerintah Kota Surakarta.