Produksi Krakatau Steel Tembus 360 Ribu Ton, Ini Faktor Pendorongnya

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk berhasil memproduksi baja sebanyak 360 ribu ton hingga bulan Maret 2026.

Immanuel Christian
Oleh Immanuel Christian - Reporter
Produksi Krakatau Steel Tembus 360 Ribu Ton, Ini Faktor Pendorongnya
Aspebindo menilai Krakatau Steel membutuhkan dukungan pemerintah untuk meningkatkan hilirisasi baja nasional, termasuk restrukturisasi dan modernisasi teknologi, serta pengendalian impor baja. (© 2025 Antaranews)

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk melaporkan bahwa produksi baja mencapai 360 ribu ton hingga Maret 2026. Pencapaian ini didorong oleh kinerja optimal dari fasilitas produksi utama yang telah beroperasi lebih baik sejak awal tahun.

Direktur Utama Krakatau Steel, Akbar Djohan, menyatakan bahwa kontribusi terbesar berasal dari pabrik Hot Strip Mill (HSM) yang menghasilkan 230 ribu ton, sedangkan pabrik Cold Rolling Mill (CRM) menyumbang 130 ribu ton. Peningkatan output ini menjadi salah satu indikator perbaikan operasional perusahaan setelah melalui fase restrukturisasi selama beberapa tahun terakhir.

"Kami fokus memastikan setiap lini produksi berjalan dengan efisien, agar dapat menghasilkan produk baja yang lebih kompetitif dan dapat bersaing di pasar," ungkap Akbar Djohan saat acara Coffee Morning Media with CEO KRAS di The Surosowan Jakarta pada Senin (27/4/2026).

Dia juga menambahkan bahwa optimalisasi lini produksi tidak terlepas dari upaya penguatan permodalan yang dilakukan bersama Danantara. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mendorong nilai tambah produk baja di dalam negeri.

Di tengah persaingan industri yang semakin ketat, Krakatau Steel berusaha memperkuat posisinya sebagai pemasok utama untuk sektor manufaktur nasional. Perusahaan juga menargetkan untuk berperan lebih besar dalam mendukung kemandirian ekonomi, terutama melalui substitusi impor baja. "Dengan fondasi yang lebih sehat ini, kami optimis Krakatau Steel dapat terus melangkah sebagai perusahaan yang memberikan nilai tambah yang berkelanjutan," tutupnya.

Rekomendasi