Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengungkap jejak digital para pelaku dalam kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus.
Berdasarkan analisis yang dilakukan, sedikitnya 14 orang teridentifikasi saling terhubung dalam aksi tersebut.
Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM, Saurlin P. Siagian, mengatakan temuan ini diperoleh dari kombinasi rekaman CCTV, analisis cell dump kepolisian, serta keterangan saksi.
“Berdasarkan hasil analisis dan bukti-bukti berupa rekaman CCTV, hasil analisis cell dump dari kepolisian, teknologi yang digunakan kepolisian untuk mengakses percakapan dari BTS, serta keterangan saksi, Komnas HAM menyimpulkan setidaknya terdapat 14 orang yang saling terhubung di sekitar Kantor YLBHI,” ujar Saurlin dalam konferensi pers, Senin (27/4/2026).
Selain itu, Komnas HAM juga menemukan adanya lima orang tak dikenal yang melakukan aktivitas mencurigakan di lokasi kejadian.
Bahkan, terdapat dugaan tiga pelaku lain yang tidak terlibat langsung di lapangan, namun memiliki keterkaitan dalam rangkaian peristiwa tersebut.
Advertisement
Pelaku Memakai Identitas Digital Orang Lain
Dari sisi digital, pelaku diduga menggunakan identitas orang lain saat melakukan registrasi nomor telepon.
Nomor tersebut diketahui baru diaktifkan satu hingga dua hari sebelum kejadian, yang mengindikasikan upaya penyamaran identitas.
Komnas HAM juga menelusuri pergerakan salah satu pelaku yang disebut melakukan perjalanan dari sebuah rumah di Jalan Panglima Polim 3 Nomor 11, yang merupakan aset Kementerian Pertahanan yang diperuntukkan bagi BAIS.
Saksi-saksi di lokasi tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam pengungkapan kasus.
Advertisement
Pola Gerakan Terkoordinasi
Lebih lanjut, analisis rekaman CCTV menunjukkan adanya pola pergerakan yang terkoordinasi antar pelaku.
Beberapa pelaku terlihat bergerak dari kawasan Panglima Polim menuju Jalan Diponegoro, sebelum akhirnya berkumpul di sekitar Kantor YLBHI dan Taman Diponegoro.
"Dalam seluruh CCTV yang kita analisis juga, yang kita juga dapatkan dari berbagai pihak, kami meyakini setidak-tidaknya ada 14 orang yang berada di sekitar kantor YLBHI pada saat AY berada di lokasi tersebut," ungkap dia.
Saurlin membeberkan, terduga pelaku 5 mengikuti terduga pelaku 1 dan 2 dari Jalan Panglima Polim ke arah Jalan Sudirman. Kemudian, terduga pelaku 5 muncul du Kantor YLBHI, disusul dengan terduga pelaku 1, 2, 3, dan 4.
"Terduga pelaku 5 dan terduga pelaku 14 kemudian berdiskusi di depan, tepat di depan Kantor YLBHI ya. Nah, kemudian kita lihat foto itu mereka berkumpul ya artinya pasti berbicara, berkomunikasi satu dengan yang lain," jelas dia.
Lalu, pada sekitar pukul 20.54 para terduga pelaku berpindah tempat ke Taman Diponegoro dan bertemu terduga pelaku 11, 12, dan 13.
Kemudian, terduga pelaku 6 dan 7 bergabung di Taman Diponegoro dan membawa plastik putih. Pelaku 1 dan 2 turut bergabung di seberang Taman Diponegoro, mereka duduk di kursi depan RSCM Kencana.
Terduga pelaku 10 memanggil terduga pelaku 2, keduanya terlihat berbincang di depan Taman Diponegoro setelah menyebrang.
Saurlin menyebut, salah satu pelaku diduga menggunakan mobil dan sempat berhenti di Jalan Diponegoro. Beberapa orang yang keluar dari mobil ini diketahui bertemu dengan terduga pelaku lain.
"Nah, secara materiil begitu temuan kami yang berasal dari setidak-tidaknya delapan pihak yang kami mintai keterangan di berbagai tempat termasuk di Komnas HAM," tuturnya.