Pasar Saham RI Dinilai Masih Menarik, Kenapa Investor Asing Belum Tergoda Masuk?
Pasar saham Indonesia saat ini berada dalam fase selective value.
PT Manulife Aset Manajemen Indonesia menilai pasar saham Indonesia dinilai masih menawarkan valuasi yang menarik dibandingkan dengan sejumlah pasar negara berkembang lainnya.
Senior Portfolio Manager Equity Manulife Aset Manajemen Indonesia, Caroline Rusli, CFA, dalam ulasan pasar Seeking Alpha edisi Juni 2026 menyebutkan namun kondisi tersebut belum cukup untuk mendorong arus masuk modal asing secara agresif di tengah minimnya katalis jangka pendek dan masih rendahnya kepercayaan investor terhadap arah kebijakan.
"Secara valuasi, pasar saham Indonesia sangat menarik. Tetapi murah saja belum cukup, karena saat ini kepercayaan investor terhadap arah kebijakan dan visibilitas katalis jangka pendek sedang kurang kondusif, sehingga investor asing belum melihat alasan yang cukup kuat untuk kembali masuk agresif," kata Caroline dalam ulasan pasar Seeking Alpha edisi Juni 2026, Senin (15/6).
Menurutnya, pasar saham Indonesia saat ini berada dalam fase selective value. Dalam kondisi tersebut, investor perlu lebih selektif dengan mengedepankan strategi defensif serta pendekatan bottom-up dalam memilih saham dan sektor yang memiliki fundamental kuat.
Caroline menjelaskan, salah satu perubahan penting yang perlu dicermati investor adalah pergeseran ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter global maupun domestik. Dalam beberapa bulan terakhir, ekspektasi pasar terhadap langkah bank sentral mengalami perubahan yang cukup signifikan.
Pada Desember 2025, pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve akan memangkas Fed Funds Rate (FFR) sebesar 50 basis poin sepanjang 2026. Namun sejak Mei 2026, ekspektasi tersebut berbalik arah menjadi potensi kenaikan suku bunga sekitar 20 basis poin.
Perubahan serupa juga terjadi di Indonesia. Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin pada Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar yang hanya memperkirakan kenaikan 25 basis poin. Kenaikan tersebut kemudian kembali berlanjut pada awal Juni sebesar 25 basis poin, yang juga di luar perkiraan sebagian pelaku pasar.
"Kombinasi pengetatan moneter, kenaikan imbal hasil obligasi, pelemahan Rupiah, kekhawatiran terhadap postur fiskal, dan klasifikasi saham Indonesia oleh lembaga-lembaga asing, semuanya berbaur membuat selera investor terhadap risiko terus menurun," ujar dia.
Asia Utara Dinilai Lebih Tahan Hadapi Gejolak
Dalam situasi ketidakpastian global saat ini, Caroline menilai investor mulai dapat melihat dengan lebih jelas kawasan, mata uang, dan kelas aset yang relatif lebih tahan terhadap tekanan eksternal.
Ketika likuiditas global tidak lagi seakomodatif beberapa tahun terakhir, pasar yang mampu bertahan dan mencatatkan kinerja lebih baik adalah pasar yang memiliki pertumbuhan struktural kuat serta didukung oleh fundamental laba korporasi yang solid. Caroline mencontohkan kawasan Asia Utara sebagai salah satu wilayah yang dinilai memiliki daya tahan lebih baik terhadap gejolak global.
"Ketika likuiditas global tidak seakomodatif sebelumnya, pasar saham yang dapat unggul adalah pasar yang memiliki potensi pertumbuhan struktural dan laba korporasi yang lebih kokoh bertahan, seperti misalnya Asia Utara," pungkasnya.