Proyeksi Pergerakan Bursa Saham di Tengah Memanasnya Perang Iran Vs Israel, Ini Saham Layak Diincar
Djoko mengatakan, investasi saham di Indonesia masih berpeluang memberikan keuntungan bagi investor.
Head of Investment Product & Advisory PT Bank DBS Indonesia, Djoko Soelistyo memberikan proyeksi terkait peluang keuntungan dari investasi saham di tengah tren ketegangan geopolitik akibat konflik Iran vs Israel.
Djoko mengatakan, investasi saham di Indonesia masih berpeluang memberikan keuntungan bagi investor. Terlebih, harga saham di pasar modal saat ini mulai kembali bergerak ke zona hijau.
"Tentu saja menarik dengan valuasi (harga saham) yang sekarang ada. Bahkan kalau dilihat dari secara price to net ratio, relatively saham-saham Indonesia ini sangat menarik sebenarnya untuk mulai investasi," ucap Djoko dalam acara Media Group Discussion di Four Season Hotel, Jakarta, Kamis (19/6).
Meski demikian, Djoko meminta calon investor lebih jeli untuk memilih saham yang berpotensi memberikan keuntungan ditengah memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Dia menilai, saham yang diterbitkan oleh emiten teknologi kecerdasan buatan (AI) cenderung di bertahan zona hijau.
"(Saham) teknologi, terutama hubungan dengan AI, pada kenyataannya mereka relatif lebih resilient. Bahkan sempat beberapa saat lalu mengalami kenaikan lagi, jadi hal seperti ini yang harus kita manfaatin dengan jeli," bebernya.
Dia menambahkan, tren penguatan saham teknologi AI juga terjadi di bursa Asia. Hal ini dapat menjadi rekomendasi bagi para investor di tengah ancaman perang tarif hingga ketegangan geopolitik. "Karena semenjak adanya perang tarif dan sebagainya, kayaknya beberapa investasi mulai dari negara-negara ini mulai lari ke negara-negara Asia," bebernya.
Lebih lanjut, dia menyerahkan sepenuhnya keputusan investasi ke tangan investor. Menurutnya, masyarakat saat ini sudah lebih melek terkait keputusan investasi.
"Tapi mungkin kalau profil risiko dari Nasabahnya, tapi saya nggak mau yang model-model gitu lah," tandasnya.
Hari Ini IHSG Tersungkur 1,5 Persen
Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah pada perdagangan hari ini, Kamis 19 Juni 2025. IHSG turun 1,5 persen ke posisi 6.999 saat berita ditulis.
Analis memperkirakan IHSG hari ini masih akan melemah, salah satunya disebabkan tensi geopolitik luar negeri yang masih membara.
"Kami memperkirakan IHSG akan melemah disebabkan oleh tensi geopolitik yang masih tinggi antara US & Israel-Iran. Juga melemahnya nilai tukar Rupiah, serta kembali keluarnya dana asing," ulas Pengamat Pasar Modal Panin Sekuritas, Reydi Octa, Kamis (19/6).
Pada Rabu, 18 Juni 2025, IHSG ditutup di level 7.107, yang menandakan indeks masih bertahan di atas area psikologis 7.000 meski terus tertekan oleh ketegangan geopolitik Iran-Israel, pelemahan rupiah, serta sentimen global yang berhati-hati menjelang keputusan The Fed.
Volume transaksi saham yang mulai menyusut juga menunjukkan minat beli jangka pendek mulai meredup. Level support kuat berada di 7.000–6.960, sedangkan resistance jangka pendek berada di kisaran 7.170–7.200.