Jelang Libur Panjang, Investor Diminta Hindari Panic Selling
Pengamat pasar modal menilai IHSG berada dalam fase sensitif jelang libur Idulfitri akibat tekanan global dan domestik. Investor diminta fokus pada manajemen.
Pasar saham Indonesia dinilai berada dalam kondisi yang cukup sensitif menjelang periode libur panjang Idulfitri.
Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana mengatakan situasi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal maupun domestik yang menimbulkan ketidakpastian di pasar.
Menurut Hendra, kondisi global menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi sentimen investor.
Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, kenaikan harga energi, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat membuat investor global lebih berhati-hati menempatkan dana di pasar negara berkembang.
Selain itu, kebijakan moneter yang berada di bawah kepemimpinan Ketua Federal Reserve Jerome Powell juga menjadi perhatian pelaku pasar.
Di sisi lain, pasar saham domestik masih menjalani proses penyesuaian setelah adanya sorotan dari MSCI terkait transparansi dan mekanisme perdagangan di pasar modal Indonesia.
"Kombinasi faktor tersebut membuat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan cenderung volatil karena investor masih menunggu kepastian arah kebijakan ekonomi dan stabilitas pasar keuangan," ujar Hendra kepada Liputan6.com, Selasa (17/3/2026).
Strategi Investor di Tengah Volatilitas
Dalam kondisi pasar yang masih berfluktuasi, Hendra menilai investor perlu menerapkan disiplin dalam manajemen risiko.
Investor disarankan tidak melakukan pembelian saham secara agresif ketika pasar masih berada dalam fase koreksi.
Pendekatan yang dinilai lebih rasional adalah melakukan akumulasi secara bertahap pada saham yang memiliki fundamental kuat ketika harga berada di area support yang menarik.
Selain itu, menjaga porsi kas dalam portofolio juga dianggap penting untuk mengantisipasi kemungkinan koreksi lanjutan.
"Investor juga sebaiknya menghindari panic selling karena dalam banyak kasus penurunan pasar menjelang periode libur panjang sering kali dipicu oleh kebutuhan likuiditas jangka pendek, bukan perubahan fundamental," ujarnya.
Sektor dan Saham yang Jadi Sorotan
Meski menghadapi tekanan, Hendra menilai pasar saham Indonesia masih memiliki daya tarik dibandingkan beberapa bursa di kawasan Asia, seperti Hang Seng Index dan Shanghai Composite Index.
Hal tersebut didukung oleh pertumbuhan ekonomi domestik serta basis konsumsi masyarakat yang besar.
"Kekuatan utama pasar Indonesia tetap berada pada sektor perbankan, energi, dan komoditas," ujarnya.
Beberapa saham berfundamental kuat yang disebut masih menjadi penopang pasar antara lain Bank Central Asia, Bank Mandiri, Medco Energi Internasional, dan Aneka Tambang.
Selain itu, sektor tambang emas juga mulai menarik perhatian investor di tengah volatilitas pasar global. Hal ini terlihat dari masuknya sejumlah emiten tambang emas Indonesia, seperti Archi Indonesia, Amanah Gold Resources, dan J Resources Asia Pasifik ke dalam MVIS Global Junior Gold Miners Index.
"Inklusi ini berpotensi meningkatkan visibilitas emiten emas Indonesia di pasar global serta membuka peluang masuknya arus dana pasif dari investor institusional internasional yang mengikuti indeks tersebut," ujarnya.
Untuk perdagangan jangka pendek, beberapa saham juga dinilai menarik untuk diperhatikan, antara lain Saratoga Investama Sedaya dengan rekomendasi buy target 1.755, Medco Energi Internasional dengan speculative buy target 1.900, serta Surya Citra Media dengan rekomendasi trading buy target 320.
"Dalam kondisi pasar yang masih volatil, pendekatan selektif dengan fokus pada saham berfundamental kuat serta memiliki katalis sektoral tetap menjadi strategi yang paling rasional bagi investor," pungkasnya.