IHSG Diprediksi Rebound Efek Libur Lebaran
Secara historis, IHSG kerap mengalami technical rebound usai tekanan yang terjadi menjelang libur panjang, seiring kembalinya aktivitas investor ke pasar.
Pasar saham Indonesia diperkirakan memiliki peluang untuk bangkit setelah periode libur panjang Lebaran. Secara historis, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kerap mengalami technical rebound usai tekanan yang terjadi menjelang libur panjang, seiring kembalinya aktivitas investor ke pasar.
"Setelah periode libur panjang Lebaran, peluang terjadinya rebound tetap terbuka," kata Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana, kepada Liputan6.com, Minggu (22/3).
Namun, kondisi tahun ini dinilai berbeda. Sejumlah sentimen global dan domestik masih membayangi pergerakan pasar, membuat investor cenderung bersikap hati-hati dan memilih menunggu arah yang lebih jelas sebelum kembali agresif masuk ke pasar saham.
Hendra Wardana menilai, fase saat ini masih tergolong sensitif, sehingga meskipun peluang rebound terbuka, pergerakan IHSG tetap berpotensi volatil dalam jangka pendek.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tekanan global menjadi salah satu faktor utama yang menahan laju pemulihan pasar. Konflik geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga energi, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga oleh Jerome Powell masih menjadi perhatian utama investor global.
"Pasar saham Indonesia saat ini memang sedang berada dalam fase yang cukup sensitif. Tekanan global dari konflik geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga energi, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga oleh Jerome Powell di Federal Reserve menjadi faktor eksternal yang membebani pasar," ujar dia.
Kondisi tersebut diperparah oleh meningkatnya kehati-hatian investor asing dalam menempatkan dana di emerging market, termasuk Indonesia. Mereka cenderung menunggu kepastian arah kebijakan moneter global sebelum kembali masuk secara signifikan.
Pola Rebound Usai Lebaran Masih Relevan
Meski tekanan masih kuat, peluang rebound pasca Lebaran tetap terbuka. Dalam banyak kasus sebelumnya, koreksi yang terjadi menjelang libur panjang sering kali bersifat teknikal, dipicu kebutuhan likuiditas investor.
Setelah libur usai, tekanan tersebut biasanya mereda, sehingga membuka ruang bagi IHSG untuk bergerak naik kembali. Aktivitas investor yang kembali normal juga menjadi katalis penting bagi pemulihan pasar.
Namun demikian, Hendra menekankan bahwa rebound kali ini kemungkinan tidak akan berlangsung agresif. Investor cenderung masih dalam mode “wait and see”, sambil mencermati perkembangan global dan stabilitas ekonomi domestik.
Investor Disarankan Tetap Selektif
Dalam kondisi pasar yang masih bergejolak, investor disarankan untuk tetap disiplin dalam menerapkan manajemen risiko. Pembelian saham secara agresif dinilai belum tepat dilakukan ketika volatilitas masih tinggi.
Strategi yang lebih rasional adalah melakukan akumulasi bertahap pada saham dengan fundamental kuat, terutama ketika harga berada di area support yang menarik. Selain itu, menjaga porsi kas juga menjadi langkah penting untuk mengantisipasi potensi koreksi lanjutan.
"Hal yang sebaiknya dihindari adalah melakukan panic selling ketika pasar mengalami penurunan tajam, karena dalam banyak kasus koreksi yang terjadi menjelang periode libur panjang sering kali bersifat teknikal akibat kebutuhan likuiditas dari investor," pungkasnya.