Pengamat Ungkap Dampak Jangka Pendek dan Panjang Perubahan Kriteria Indeks BEI
Dalam jangka menengah hingga panjang, kebijakan ini justru berpotensi meningkatkan kualitas indeks
Pengamat pasar modal Hendra Wardana menilai langkah PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam mengubah kriteria indeks IDX30, LQ45, dan IDX80 akan membawa dampak beragam bagi pasar saham Tanah Air.
Dikutip dari Keterangan BEI, penyesuaian dilakukan dengan penambahan kriteria, yaitu mencakup minimum free float, jumlah hari transaksi, dan ketentuan saham yang masuk dalam Kepemilikan Saham Terkonsentrasi Tinggi/High Shareholding Concentration (HSC).
Menurut Hendra, dalam jangka menengah hingga panjang, kebijakan ini justru berpotensi meningkatkan kualitas indeks. Hal ini karena hanya saham-saham dengan likuiditas tinggi, free float yang memadai, serta distribusi kepemilikan yang sehat yang akan mampu bertahan dalam seleksi baru tersebut.
"Kebijakan ini secara jangka menengah hingga panjang justru berpotensi meningkatkan kualitas indeks karena hanya saham dengan likuiditas tinggi, free float memadai, dan distribusi kepemilikan sehat yang akan bertahan," kata Hendra kepada Liputan6.com, Sabtu (25/4/2026).
Maka dengan demikian, indeks dinilai menjadi lebih “investable” dan mencerminkan kondisi pasar yang lebih realistis, khususnya bagi investor institusi besar termasuk dana asing.
Ia menjelaskan, perbaikan kualitas ini penting untuk meningkatkan kredibilitas pasar modal Indonesia di mata global. Indeks yang lebih selektif dinilai mampu menjadi acuan investasi yang lebih akurat dan efisien, sekaligus mengurangi distorsi yang sebelumnya mungkin terjadi akibat dominasi saham dengan likuiditas rendah atau kepemilikan terkonsentrasi.
Dampak Jangka Pendek
Namun demikian, Hendra mengingatkan bahwa dampak jangka pendek dari perubahan ini tidak bisa diabaikan. Risiko volatilitas pasar diperkirakan meningkat, terutama karena adanya potensi penyesuaian portofolio secara paksa (forced rebalancing) oleh reksa dana indeks dan ETF yang harus mengikuti komposisi indeks terbaru.
"Namun dalam jangka pendek, risiko volatilitas meningkat tidak bisa dihindari, terutama karena adanya potensi forced rebalancing dari reksa dana indeks dan ETF yang wajib menyesuaikan portofolionya dengan komposisi baru," ujarnya.
Jika saham unggulan keluar dari indeks, maka akan terjadi tekanan jual mekanis (technical selling), bukan karena fundamental memburuk, melainkan karena aturan. Hal ini bisa menciptakan dislokasi harga sementara, bahkan pada saham-saham berkualitas.