Co-Founder FINE Institute, Kusfiardi, menyoroti pentingnya penegakan aturan secara konsisten. Hal ini krusial untuk mengembalikan stabilitas pasar saham domestik. Pernyataan ini muncul usai pengumuman MSCI terkait pembekuan sementara proses rebalancing indeks saham Indonesia pada Jumat (30/1).
Kusfiardi menilai pengunduran diri Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman hanya meredam tekanan jual jangka pendek. Namun, langkah tersebut belum menyentuh akar persoalan yang menjadi perhatian investor global. Investor global tidak menilai stabilitas dari pergantian figur, melainkan dari perubahan struktur dan kualitas pengawasan.
Tiga permasalahan utama disorot MSCI, yaitu ketidakjelasan struktur kepemilikan saham, rendahnya free float efektif, serta praktik perdagangan yang mengganggu penentuan harga. Oleh karena itu, konsistensi penegakan aturan menjadi fundamental untuk mengatasi volatilitas yang terjadi.
Advertisement
Advertisement
Akar Masalah Volatilitas Bursa Saham Indonesia
Kusfiardi menjelaskan bahwa MSCI dan investor global menyoroti beberapa isu fundamental. Mereka tidak melihat pergantian figur sebagai solusi utama. Sebaliknya, perubahan struktur, kualitas pengawasan, dan konsistensi penegakan aturan menjadi fokus utama.
Ada tiga permasalahan krusial yang menjadi perhatian MSCI. Pertama, ketidakjelasan struktur kepemilikan saham terkait pengendali akhir di bawah ambang 5 persen. Kedua, rendahnya free float efektif yang beredar di pasar.
Masalah ketiga adalah praktik perdagangan yang dinilai mengganggu mekanisme price discovery atau penentuan harga. Isu-isu ini secara kolektif berkontribusi pada kerentanan pasar. Ini juga memicu ketidakpastian di kalangan investor.
Advertisement
Advertisement
Respons Pasar dan Harapan Investor Global
Pola pergerakan IHSG menunjukkan pasar masih rapuh secara psikologis dan belum memiliki keyakinan arah yang solid. Indeks sempat menguat lebih dari 2 persen, lalu berbalik ke zona negatif, kemudian kembali menguat pasca pengunduran diri Dirut BEI. Volatilitas ini mencerminkan ketidakpastian yang masih melingkupi pasar.
Perilaku investor, terutama investor asing, belum mencerminkan indikasi akumulasi jangka menengah hingga panjang. Mereka cenderung selektif dan berorientasi pada perdagangan jangka pendek. Fokus investor asing masih pada saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid untuk memanfaatkan volatilitas.
Kusfiardi menambahkan bahwa tidak terlihat adanya broad-based buying atau pembelian saham secara luas di berbagai sektor. Pembelian semacam ini biasanya muncul ketika kepercayaan struktural mulai pulih. Saham-saham dengan isu tata kelola, free float rendah, dan kepemilikan terkonsentrasi tetap berada di bawah tekanan.
Advertisement
Respons regulator dan pengelola bursa pasca-keputusan MSCI sejauh ini masih berada pada level komitmen normatif. Pasar justru menunggu bukti implementasi nyata dari komitmen tersebut.
Advertisement
Pentingnya Implementasi Aturan untuk Stabilitas Jangka Panjang
Investor mengharapkan implementasi nyata, termasuk penegakan aturan free float minimum menjadi 15 persen. Peningkatan transparansi kepemilikan juga menjadi tuntutan utama. Penerapan sanksi yang kredibel terhadap emiten besar dan kelompok pengendali sangat dinantikan.
Kusfiardi menyatakan bahwa kegagalan memenuhi ekspektasi tersebut berisiko menurunkan bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets. Bahkan, hal ini bisa memicu reklasifikasi ke frontier market. Ini akan berdampak negatif pada daya tarik investasi Indonesia.
Rebound IHSG pada hari ini sebaiknya dipahami sebagai stabilisasi teknikal pasca koreksi ekstrem. Ini bukan resolusi krisis kepercayaan yang mendalam. Tanpa perubahan tata kelola yang terukur dan konsisten, volatilitas akan tetap tinggi.
Advertisement
Risiko koreksi lanjutan masih terbuka lebar jika tidak ada langkah konkret. IHSG terkoreksi dari 8.980,23 pada penutupan perdagangan Selasa (27/1) menjadi 8.232,20 pada penutupan Kamis (29/1). Pada Jumat (30/1), IHSG ditutup menguat 97,41 poin atau 1,18 persen ke posisi 8.329,61.
Sumber: AntaraNews