Keponakan Ma'ruf Amin Buka Suara Masuk Bursa Calon Ketum PBNU

Menurut Zulfa, pemilihan Ketua Umum PBNU harus dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga marwah organisasi, memperkuat persatuan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Keponakan Ma'ruf Amin Buka Suara Masuk Bursa Calon Ketum PBNU
Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Zulfa Mustofa

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Zulfa Mustofa buka suara terkait namanya yang masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama.

Zulfa mengatakan tidak akan menolak apabila pencalonan tersebut merupakan aspirasi dari pengurus cabang dan pengurus wilayah Nahdlatul Ulama.

"Kalau itu permintaan dari pengurus cabang dan wilayah, saya tidak bisa menolak," kata Zulfa Mustofa dalam konferensi pers seusai peluncuran kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa di Aula Sakinah Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (11/7/2026).

Menurut Zulfa, pemilihan Ketua Umum PBNU harus dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga marwah organisasi, memperkuat persatuan, dan memastikan keberlanjutan peran Nahdlatul Ulama di tengah masyarakat.

Dia menilai kepemimpinan di tubuh NU bukan sekadar jabatan struktural, melainkan amanah untuk menjaga tradisi keilmuan, merawat umat, serta menghadirkan NU sebagai kompas moral bangsa.

Sementara itu, Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Abdullah Syamsul Arifin mengatakan aspirasi dari pengurus wilayah maupun pengurus cabang yang menginginkan Zulfa maju dalam bursa Ketua Umum PBNU terus menguat.

"Beliau jadi ikon perubahan dalam NU," ujar Abdullah.

Pernyataan tersebut disampaikan usai peluncuran Ithafu Ummati Al Muqtafa, karya Zulfa Mustofa yang menghimpun empat kitab berbahasa Arab mengenai metodologi Bahtsul Masail, ushul fikih, fatwa kontemporer, serta sejarah intelektual Syekh Nawawi al-Bantani.

Dalam kesempatan itu, Zulfa mengatakan karya tersebut merupakan upaya memperkuat tradisi intelektual di lingkungan Nahdlatul Ulama. Menurut dia, tradisi keulamaan tidak cukup hanya melalui pengajian dan ceramah, tetapi juga perlu diwujudkan dalam karya tulis yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

"Alhamdulillah, saya dapat menyelesaikan sebuah karya yang saya beri nama Ithafu Ummati Al Muqtafa. Jika diterjemahkan secara bebas, ini adalah hadiah bagi umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Isinya empat kitab; tiga di bidang fikih dan ushul fikih, serta satu kitab mengenai biografi dan sejarah Syekh Nawawi al-Bantani," ujar Zulfa.

Keempat kitab tersebut membahas berbagai persoalan fikih klasik yang dikaitkan dengan tantangan masyarakat modern, mulai dari transaksi digital, kebijakan publik, dinamika lembaga fatwa, hingga penyebaran pandangan keagamaan melalui media sosial.

 

Rekomendasi