Selama Piala Dunia Polisi New York Bakal Perketat Lokasi Prostitusi
NYPD juga akan memantau kawasan yang selama ini dikenal sebagai lokasi prostitusi komersial.
Kepolisian New York atau NYPD menyatakan akan meningkatkan operasi pemberantasan perdagangan manusia selama perhelatan Piala Dunia yang berlangsung di Amerika Utara.
Inspektur Gary Marcus, Kepala Unit Korban Khusus NYPD, mengatakan pihaknya mengantisipasi meningkatnya jumlah korban perdagangan manusia yang masuk ke New York seiring lonjakan pengunjung selama turnamen berlangsung.
“Kami mempersiapkan diri menghadapi peningkatan volume dan kemungkinan bertambahnya korban perdagangan manusia yang melintas di kota ini,” kata Marcus mengutip The New York Post, Senin (15/6/2026).
Menurut dia, polisi akan memperketat pengawasan di sejumlah lokasi yang selama ini dikenal sebagai jalur pergerakan pelaku perdagangan manusia, termasuk terminal bus, stasiun kereta, dan pusat transportasi besar lainnya.
Perketat Lokasi Prositusi
NYPD juga akan memantau kawasan yang selama ini dikenal sebagai lokasi prostitusi komersial, seperti Penn Track di Brooklyn serta Roosevelt Avenue di Queens.
Selain patroli lapangan, polisi bekerja sama dengan sektor perhotelan dan rumah sakit untuk membantu mengenali tanda-tanda korban perdagangan manusia.
“Kasus seperti ini tidak selalu terlihat seperti yang digambarkan di film,” ujar Marcus.
Ia menjelaskan korban sering kali menunjukkan tanda-tanda seperti mengenakan pakaian yang tidak sesuai cuaca, mengalami luka yang tidak ditangani, atau selalu melihat orang lain sebelum menjawab pertanyaan sederhana.
Eksploitasi
Asisten Komisioner NYPD untuk Kebijakan dan Perencanaan Kekerasan Berbasis Gender, Kathleen Baer, mengatakan pihaknya juga berkoordinasi dengan lembaga pendamping korban dan jaksa untuk memastikan korban mendapat bantuan sekaligus menjerat pelaku.
“Setiap kali ada lonjakan pengunjung dalam jumlah besar, permintaan terhadap praktik eksploitasi seksual biasanya ikut meningkat. Piala Dunia tidak akan berbeda,” kata Baer.
Menurutnya, korban perdagangan manusia berasal dari berbagai latar belakang. Sebagian merupakan warga lokal, sementara lainnya didatangkan dari luar negeri, termasuk dari Amerika Selatan.
“Mereka datang ke sini lalu terjebak dalam situasi perdagangan manusia. Dokumen mereka disita, mereka tidak memiliki uang dan tidak punya cara untuk bertahan hidup,” ujarnya.
Baer mengakui proses penyelamatan korban sering kali tidak mudah karena banyak korban takut kepada pelaku atau enggan bekerja sama dengan aparat.
Ia mengungkapkan pihaknya pernah menangani korban yang masih berusia 11 tahun.
Karena itu, NYPD meminta masyarakat segera melapor jika menemukan indikasi perdagangan manusia.
“Satu panggilan telepon bisa menyelamatkan nyawa seseorang,” kata Marcus.