PT BUMA Internasional Grup Tbk (IDX: DOID) melaporkan hasil keuangan dan operasional konsolidasi yang telah diaudit untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025 yang terdampak signifikan oleh gangguan operasional yang belum pernah terjadi sebelumnya dan cuaca buruk, serta ramp-down dan penyelesaian kontrak di Indonesia dan Australia.
Hasil kinerja tersebut juga dipengaruhi oleh biaya-biaya non-operasional (non-underlying charges), termasuk penyisihan piutang usaha dan penurunan nilai aset (asset impairment) di operasional Australia dan Amerika Serikat, yang sebagian diimbangi oleh keuntungan nilai wajar (fair value gain) sebesar USD 41 juta atas investasi Grup di 29Metals.
Meskipun faktor-faktor tersebut membebani kinerja setahun penuh, Grup mencatatkan pemulihan operasional yang konsisten sepanjang tahun, didukung oleh perbaikan struktural pada produktivitas dan penurunan biaya per unit. Grup juga menghasilkan arus kas bebas (free cash flow) positif, di mana kuartal IV-2025 mencatat arus kas bebas kuartalan tertinggi sepanjang tahun.
Selain itu, Grup memperkuat posisi likuiditasnya berkat dukungan berkelanjutan dari mitra perbankan dan pemegang obligasi sepanjang 2025, dan memasuki 2026 dengan profil jatuh tempo utang yang lebih seimbang.
Volume overburden removal turun 19 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi 439 juta bank cubic meters (MBCM), sementara produksi batu bara turun 6 persen menjadi 84 juta ton (MT), mencerminkan gangguan pada kuartal pertama, kendala cuaca, serta kontribusi yang lebih rendah dari site yang mengalami ramp-down dan yang telah selesai beroperasi.
Pendapatan turun 16 persen YoY menjadi USD 1,48 miliar, terutama disebabkan oleh penurunan volume, sementara Average Selling Price (ASP) kontraktor tambang relatif stabil (-1 persen YoY), didukung oleh porsi kontrak rise-and-fall yang lebih tinggi.
EBITDA turun menjadi USD 175 juta dengan margin 14 persen, dipengaruhi oleh volume yang lebih rendah, biaya pesangon yang lebih tinggi, serta kenaikan biaya bahan bakar. Jika biaya pesangon tidak diperhitungkan, EBITDA tercatat sebesar USD 207 juta dengan margin 17 persen.
Direktur BUMA International Group, Iwan Fuad Salim menjelaskan, grup mencatat rugi bersih sebesar USD 128 juta, yang dipicu oleh penurunan EBITDA, penyisihan piutang usaha dari kontrak di Australia yang telah berakhir, serta penurunan nilai aset pada operasional di Australia dan Amerika Serikat.
"Faktor-faktor tersebut sebagian diimbangi oleh keuntungan nilai wajar sebesar USD 41 juta dari investasi Grup di 29Metals, seiring pemulihan harga sahamnya sepanjang tahun, keuntungan selisih kurs sebesar USD36 juta (berbalik dari kerugian USD 19 juta pada FY24 menjadi keuntungan USD 17 juta pada FY25), serta pembalikan pencadangan piutang di Australia setelah putusan Mahkamah Agung Queensland yang memenangkan BUMA Australia, dengan penyelesaian keuangan yang diharapkan terealisasi di 2026," katanya.
Grup membukukan arus kas bebas (free cash flow) positif sebesar USD 8 juta, dibandingkan negatif USD 60 juta pada FY2024. Pada 4Q25 saja, Grup membukukan arus kas bebas sebesar USD 57 juta, menjadikannya capaian arus kas bebas kuartalan tertinggi sepanjang tahun. Belanja modal tetap terjaga secara disiplin sebesar USD 179 juta, relatif stabil YoY, dengan alokasi yang seimbang antara kebutuhan pemeliharaan (maintenance) dan pertumbuhan (growth).
Advertisement
Kinerja operasional Grup meningkat secara progresif sepanjang tahun, didukung oleh eksekusi dan disiplin biaya yang lebih kuat. Perbaikan struktural di BUMA Indonesia mendorong peningkatan kuartal-ke-kuartal yang konsisten, di mana overburden removal meningkat dari 76 MBCM pada 1Q25 menjadi 79 MBCM pada 4Q25.
Peningkatan ini ditopang oleh perbaikan yang terarah pada perencanaan, pelaksanaan shift yang lebih disiplin, pelaksanaan maintenance, serta penyelesaian hambatan operasional (bottlenecks). Dari Januari 2025 hingga Januari 2026, jam kerja alat meningkat 6 persen, waktu henti (downtime) berkurang 31%, jam non-produktif turun 17 persen, dan cycle time membaik 3 persen, yang menghasilkan biaya unit (unit cost) yang lebih rendah, turun dari USD 2,22/BCM pada 1Q25 menjadi USD 1,83/BCM pada 4Q25.
Di tingkat Grup, perbaikan-perbaikan ini menghasilkan kinerja keuangan yang semakin kuat secara progresif, dengan EBITDA meningkat dari US$14 juta pada 1Q25 menjadi USD 48 juta pada 4Q25, mencerminkan perbaikan bertahap (sequential improvement) yang kuat sepanjang tahun.
"FY2025 merupakan tahun yang menantang bagi Grup. Gangguan yang kami hadapi pada kuartal pertama berdampak signifikan terhadap produksi dan pendapatan, sekaligus menunjukkan area-area di mana pendekatan kami dapat diperkuat. Kami merespons dengan cepat melalui pengetatan disiplin operasional, penguatan pengendalian biaya dan fundamental pemeliharaan, serta pengambilan langkah-langkah tegas guna menjaga likuiditas dan memperkuat neraca keuangan. Langkah-langkah tersebut mendorong peningkatan produktivitas, biaya, dan arus kas sepanjang tahun, serta memberikan fondasi yang lebih kuat saat kami memasuki 2026."
Advertisement
Selama FY2025, Grup menyelesaikan sejumlah inisiatif pendanaan untuk memperkuat likuiditas dan memperpanjang profil jatuh tempo utangnya. Pada Februari, PT Bank Central Asia Tbk bergabung dengan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dalam fasilitas sindikasi sebesar USD 1 miliar, yang memperluas basis pendanaan Grup.
Pada Maret, Grup menerbitkan Sukuk Ijarah sebesar Rp2 triliun (USD121,7 juta), yang merupakan Sukuk Ijarah Korporasi Syariah Berperingkat A+ terbesar dalam Satu Kali Penerbitan di Indonesia, diikuti penerbitan Obligasi III BUMA Tahun 2025 sebesar Rp884 miliar (USD 53,8 juta) di Oktober.
Pada November, Grup melunasi lebih awal Senior Notes sebelum jatuh tempo senilai USD 212 juta, meningkatkan likuiditas dan fleksibilitas struktur permodalan. Secara keseluruhan, langkah-langkah ini memosisikan Grup dengan profil jatuh tempo utang yang lebih seimbang.
Advertisement
Sepanjang FY2025 hingga awal 2026, Grup mengamankan tiga kontrak signifikan yang mencakup operasional di Indonesia dan Australia. BUMA Australia memperoleh perpanjangan kontrak sekitar A$ 740 juta di Blackwater Mine hingga Juni 2030, serta perpanjangan kontrak di Goonyella Riverside Mine hingga September 2027.
Setelah penutupan tahun buku, BUMA mengamankan kontrak jangka panjang dengan PT Adaro Indonesia di Tambang Tutupan Selatan hingga Desember 2030, mencakup sekitar 239 MBCM overburden removal dan 44 juta ton produksi batu bara, memperpanjang kemitraan yang telah terjalin selama lebih dari 20 tahun.
Di luar jasa pertambangan, Grup terus mendorong strategi diversifikasinya. Grup memegang kepemilikan saham sebesar 22,60 persen di 29Metals, perusahaan pertambangan yang tercatat di bursa Australia dan berfokus pada tembaga, dengan eksposur tambahan terhadap seng, emas, dan perak, di mana Grup merupakan pemegang saham terbesar.
Atlantic Carbon Group, Inc., produsen antrasit ultra-high-grade yang 71 persen sahamnya dimiliki oleh Grup dengan tiga tambang aktif di Pennsylvania, terus menunjukkan peningkatan stabilitas dan kinerja operasionalnya. Grup juga memegang 44,15 persen saham di Asiamet Resources Limited, pemilik BKM Copper Project di Indonesia, aset pengembangan tembaga berkadar tinggi dengan umur tambang lebih dari 10 tahun.