Jelang Libur Lebaran, Analis Sarankan Investor Lebih Selektif Pilih Saham
Analis KISI menyarankan investor menerapkan strategi defensif jelang libur Idulfitri, termasuk profit taking saham berisiko tinggi dan memperbesar porsi kas.
Analis Pasar Saham dari Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, mengingatkan investor untuk lebih berhati-hati dalam mengelola portofolio menjelang periode libur panjang Idulfitri.
Menurutnya, strategi investasi yang lebih selektif dan defensif perlu diterapkan untuk menghadapi potensi perubahan kondisi pasar selama masa libur.
Wafi menyarankan investor mempertimbangkan langkah profit taking secara bertahap pada saham yang memiliki tingkat risiko tinggi atau dikenal sebagai saham high beta.
"Profit taking bertahap pada saham berisiko tinggi (high beta), hold pada aset defensif, buy on weakness pada saham berfundamental kuat, dan perbesar porsi kas tunai," kata Wafi dikutip Liputan6.com, Selasa (17/3/2026).
Sektor Saham Berpotensi Bergerak
Wafi menjelaskan bahwa beberapa sektor saham biasanya menunjukkan dinamika yang cukup aktif menjelang maupun setelah Idulfitri.
Beberapa sektor yang dinilai berpotensi mencatat pergerakan menarik antara lain sektor consumer primer, ritel, serta telekomunikasi dan transportasi.
Pergerakan sektor-sektor tersebut umumnya dipicu oleh peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat selama bulan Ramadan hingga periode Lebaran.
"Sektor konsumer primer, ritel, dan telekomunikasi atau transportasi. Pendorong adalah kenaikan konsumsi masyarakat dan tingginya mobilitas mudik," ujarnya.
Antisipasi Risiko Saat Likuiditas Pasar Menurun
Selain memilih sektor yang potensial, investor juga diminta memperhatikan potensi penurunan likuiditas pasar selama periode libur panjang.
Dalam situasi tersebut, pengelolaan risiko serta waktu transaksi menjadi faktor yang perlu diperhatikan oleh investor.
Wafi menyarankan investor ritel untuk menyesuaikan komposisi portofolio serta mengamankan posisi kas sebelum hari terakhir perdagangan di bursa.
Ia juga mengingatkan agar investor tidak membuka posisi perdagangan jangka pendek secara terlalu agresif dalam kondisi pasar yang likuiditasnya menurun.
"Hindari membuka posisi trading jangka pendek yang agresif. Likuiditas yang tipis memperbesar peluang volatilitas harga yang tidak rasional," pungkasnya.