Proyeksi IHSG Pekan Depan: IPOT Perkirakan Konsolidasi di Level 9.000-9.200
PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) merilis Proyeksi IHSG pekan depan akan bergerak konsolidasi antara 9.000-9.200. Simak faktor domestik dan global yang akan memengaruhi pergerakan pasar saham Indonesia.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan cenderung bergerak konsolidasi pada pekan depan, 19-23 Januari 2026. Proyeksi IHSG ini disampaikan oleh PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), yang menetapkan rentang support di level 9.000 dan resistance di 9.200.
Menurut Equity Analyst IPOT, Imam Gunadi, fokus pasar akan beralih pada serangkaian rilis data dan keputusan kebijakan yang signifikan. Baik dari ranah global maupun domestik, berbagai indikator ekonomi akan menjadi penentu arah pergerakan pasar saham.
Pergerakan konsolidasi ini mengindikasikan bahwa investor akan mencermati dengan seksama setiap perkembangan. Hal ini penting untuk mengambil keputusan investasi di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah.
Faktor Domestik Pendorong Proyeksi IHSG
Dari dalam negeri, pelaku pasar akan memusatkan perhatian pada keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI). Bank sentral diperkirakan akan menahan BI-Rate di level 4,75 persen, dengan fokus utama menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Data penjualan ritel Indonesia juga menunjukkan kinerja positif. Pada November 2025, penjualan ritel tumbuh 6,3 persen (yoy), meningkat dari bulan sebelumnya dan menjadi pertumbuhan tercepat sejak Maret 2024. Pertumbuhan signifikan ini terjadi pada berbagai kategori, termasuk makanan dan minuman, suku cadang otomotif, serta barang rekreasi. Secara bulanan, penjualan ritel meningkat 1,5 persen, menjadi laju tertinggi dalam delapan bulan terakhir.
Selain itu, Foreign Direct Investment (FDI) Indonesia pada kuartal IV-2025 tercatat tumbuh 4,3 persen (yoy) menjadi Rp256,3 triliun. Angka ini berbalik arah dari kontraksi pada kuartal sebelumnya, menunjukkan pemulihan investasi asing langsung. Sepanjang tahun 2025, total FDI relatif stabil di Rp900,9 triliun, dengan sektor logam dasar dan pertambangan menjadi tujuan utama investasi.
Arus dana asing yang kembali masuk ke pasar domestik mencerminkan respons positif terhadap stabilitas makro Indonesia di tengah volatilitas global. Hal ini menjadi salah satu penopang utama bagi Proyeksi IHSG ke depan.
Pengaruh Ekonomi Global terhadap Pasar Saham
Dari Amerika Serikat (AS), pelaku pasar akan mencermati rilis US Core PCE Price Index. Konsensus memproyeksikan angka 2,7 persen year on year (yoy), yang akan menjadi indikator inflasi utama dan acuan kebijakan The Fed.
Perhatian utama dari China tertuju pada rilis pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025, yang diperkirakan tumbuh 4,4 persen year on year (yoy). Data ini akan menjadi indikator penting untuk menilai ketahanan ekonomi China di tengah stimulus moneter yang berlanjut. Data penjualan ritel dan tingkat pengangguran Desember 2025 juga perlu dicermati untuk membaca kekuatan konsumsi domestik dan kondisi pasar tenaga kerja di sana.
Selain itu, keputusan Loan Prime Rate (LPR) tenor 1 tahun dan 5 tahun di China juga akan menjadi sorotan. Meskipun bank sentral China (PBOC) membuka ruang pelonggaran lanjutan, konsensus pasar memperkirakan suku bunga akan tetap stabil. Sementara itu, surplus perdagangan China tercatat 1,189 triliun dolar AS sepanjang 2025, dengan ekspor tumbuh 5,5 persen (yoy) dan impor relatif datar. Pergeseran tujuan ekspor ke Uni Eropa dan Asia Tenggara menjadi pendorong utama, sementara surplus perdagangan China dengan AS justru menurun.
Merespons kondisi itu, People’s Bank of China (PBOC) menegaskan masih terdapat ruang untuk menurunkan suku bunga dan GWM. Hal ini mengindikasikan potensi kebijakan moneter yang lebih akomodatif di masa mendatang, yang dapat memengaruhi sentimen pasar global.
Volatilitas Geopolitik dan Perdagangan Internasional
Sentimen pasar global sempat terganggu oleh eskalasi risiko perdagangan. Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif 10 persen terhadap barang-barang dari sejumlah negara Eropa, dengan ancaman kenaikan hingga 25 persen mulai Juni. Kebijakan ini juga terkait sengketa Greenland.
Kebijakan yang menyasar negara-negara anggota NATO ini memicu respons keras dari Uni Eropa. Respons tersebut termasuk potensi pembatalan kesepakatan dagang AS-Uni Eropa (UE) yang telah dicapai pada Juli lalu.
Hingga akhir pekan, dasar hukum dan mekanisme penerapan tarif tersebut masih belum jelas, menjaga ketidakpastian di pasar global. Ketidakpastian ini dapat menambah tekanan pada Proyeksi IHSG di tengah upaya stabilisasi ekonomi domestik.
Sumber: AntaraNews