Pasar Global Menguat, Dolar AS Malah Anjlok Terparah dalam 3 Tahun
Di pasar AS, kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq masing-masing naik tipis sebesar 0,1 persen, mencerminkan sentimen investor yang tetap optimistis.
Pasar saham Asia melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun pada hari ini Jumat (27/6), seiring dengan reli yang terjadi di Wall Street. Namun, penguatan di pasar saham ini kontras dengan pelemahan dolar AS yang tertekan oleh kekhawatiran mengenai independensi Federal Reserve serta ekspektasi penurunan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan.
Melansir dari Reuters, secara global, indeks saham menunjukkan performa positif yang konsisten sepanjang pekan ini. Para investor tampaknya mulai mengabaikan kekhawatiran jangka pendek terkait ketegangan geopolitik di Timur Tengah maupun ketidakpastian mengenai tarif dan kesepakatan dagang.
Indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang (.MIAPJ0000PUS) mencetak rekor tertinggi sejak November 2021 di awal sesi perdagangan, sementara indeks global (.MIWD00000PUS) memperpanjang rekornya dengan kenaikan selama empat sesi berturut-turut.
Kontrak berjangka saham di Eropa menunjukkan tren serupa. EUROSTOXX 50 dan DAX masing-masing menguat lebih dari 0,5 persen, sedangkan FTSE bergerak datar.
Di pasar AS, kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq masing-masing naik tipis sebesar 0,1 persen, mencerminkan sentimen investor yang tetap optimistis.
Sentimen positif ini turut didorong oleh kabar bahwa Washington dan Beijing telah mencapai kesepakatan penting mengenai percepatan pengiriman logam tanah jarang ke Amerika Serikat, sebuah langkah yang dinilai strategis dalam konteks geopolitik dan ekonomi global.
Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan bahwa dirinya telah mendesak Partai Republik di Kongres untuk mencabut pasal 899 dalam RUU pajak dan pengeluaran mereka.
Pasal ini sempat memicu kekhawatiran investor asing karena dinilai memberatkan, namun kesepakatan AS dengan negara-negara G7 tampaknya telah membuka jalan untuk revisi tersebut.
"Itulah yang sempat membuat investor asing cemas ketika aturan itu disahkan DPR. Jika ketentuan itu benar-benar dihapus, maka sentimen negatif dari kalangan investor pun akan menghilang. Serangkaian perkembangan positif ini secara kolektif mendorong pasar untuk kembali percaya diri," kata Kepala Riset Asia di ANZ, Khoon Goh.
Tertuju Pada Pergantian Pimpinan Federal Reserve
Indeks Nikkei Jepang (.N225) meroket hingga 1,4 persen dan kembali menembus angka psikologis 40.000 untuk pertama kalinya dalam lima bulan terakhir.
Sementara itu, meski pasar saham di Hong Kong dan daratan Tiongkok bergerak melemah, indeks CSI 300 (.CSI300) mencatat kenaikan mingguan sebesar 2,6 persen, terbesar sejak November 2024.
Namun, sebagian besar perhatian pasar kini tertuju pada potensi pergantian pimpinan Federal Reserve. Wall Street Journal melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan untuk mengganti Ketua Fed Jerome Powell pada September atau Oktober mendatang. Spekulasi ini memperburuk tekanan terhadap dolar AS, yang sudah terpukul sebelumnya.
Akibatnya, dolar jatuh ke level terendah dalam 3,5 tahun dan mencatat pelemahan mingguan sebesar 1,4 persen penurunan tertajam dalam lebih dari sebulan. Secara akumulatif sejak awal tahun, dolar telah melemah lebih dari 10 persen.
Jika tren ini berlanjut hingga akhir Juni, maka ini akan menjadi penurunan semester pertama terbesar sejak era sistem mata uang mengambang bebas yang dimulai pada awal 1970-an.