Iran Vs Israel Mereda, Saham Asia Menguat hingga Investor Berani ke Aset Berisiko
Saham-saham unggulan di Asia mencatatkan kenaikan bervariasi.
Pasar saham Asia menguat pada perdagangan Rabu (25/6), sementara harga minyak mentah dan dolar AS melemah. Pergerakan ini terjadi seiring sentimen investor yang mulai membaik, didorong oleh gencatan senjata antara Israel dan Iran yang dinilai sebagai sinyal positif untuk kembali berinvestasi pada aset-aset berisiko, sekaligus meredakan kekhawatiran akan guncangan pasokan energi global.
Melansir dari Reuters, saham-saham unggulan di Asia mencatatkan kenaikan bervariasi. Indeks Nikkei Jepang naik 0,3 persen, sementara indeks acuan Australia ASX 200 bertambah 0,1 persen.
Pasar saham Taiwan melonjak 0,9 persen, sedangkan Hang Seng di Hong Kong menguat 0,8 persen. Saham unggulan di Tiongkok daratan melalui indeks CSI 300 juga naik 0,5 persen.
Secara global, indeks MSCI yang mengukur kinerja saham dunia bertahan stabil setelah mencetak rekor tertinggi pada perdagangan sebelumnya.
Optimisme pasar ini muncul meskipun gencatan senjata antara Israel dan Iran dinilai rapuh. Meski demikian, pasar tampaknya mengesampingkan potensi eskalasi jangka pendek.
"Meskipun gencatan senjata antara Israel dan Iran tampak agak lemah, pasar mengabaikannya," ujar analis pasar keuangan senior di Capital.com, Kyle Rodda.
Menurut Kyle, secara realistis, pasar tidak terlalu peduli jika konflik terbatas berupa serangan udara terus berlanjut. Kekhawatiran utama adalah prospek perang yang lebih luas, termasuk kemungkinan intervensi langsung dari AS atau blokade Selat Hormuz oleh Iran. Namun, untuk saat ini, risiko tersebut terlihat rendah.
Dari sisi energi, harga minyak mentah sedikit pulih setelah mengalami penurunan tajam dalam dua sesi terakhir. Minyak mentah Brent tercatat naik 83 sen menjadi USD67,97 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga naik 83 sen menjadi USD65,20 per barel.
Tren Kepercayaan Konsumen
Sebelumnya, kedua jenis minyak ini mengalami koreksi besar akibat meredanya kekhawatiran pasar atas pasokan global pascagencatan senjata.
Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor dua tahun turun ke level terendah sejak 8 Mei, yaitu di 3,787 persen. Hal ini menunjukkan menurunnya tekanan inflasi seiring pelemahan harga minyak.
Di saat yang sama, dolar AS juga melemah. Indeks dolar yang mengukur kinerja dolar terhadap enam mata uang utama berada di posisi datar pada 97,977, mendekati posisi terendah dalam hampir empat tahun terhadap euro. Mata uang euro sendiri menguat 0,1 persen ke level 1,1612 dolar AS, mendekati titik tertingginya sejak Oktober 2021.
Komoditas logam mulia pun turut menguat. Harga emas tercatat naik 0,3 persen menjadi sekitar 3.333 dolar AS per ons, karena investor cenderung melirik aset lindung nilai di tengah ketidakpastian arah suku bunga.
Di sisi lain, perhatian investor juga tertuju pada kebijakan moneter Amerika Serikat. Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyampaikan bahwa tarif yang lebih tinggi berpotensi mendorong inflasi selama musim panas ini. Masa ini akan menjadi krusial bagi bank sentral AS untuk mengevaluasi kemungkinan penurunan suku bunga.
Data terbaru turut menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen di AS melemah secara tak terduga pada bulan Juni, yang mencerminkan mulai melunaknya kondisi pasar tenaga kerja.
Berdasarkan alat pemantau CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang sebesar 19 persen bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar seperempat poin pada bulan Juli.
Dengan meredanya ketegangan geopolitik dan berkembangnya harapan terhadap pelonggaran kebijakan moneter, pelaku pasar mulai menunjukkan minat kembali terhadap aset-aset berisiko, meskipun dinamika global masih menyisakan ketidakpastian.