Pasar Asia Tak Peduli Perang Iran Vs Israel, Tapi Takut Jika Terjadi Kondisi Ini
Sentimen pasar didukung oleh gencatan senjata yang masih bertahan antara Israel dan Iran.
Pasar saham Asia bergerak stabil pada Rabu (25/6), seiring harga minyak mentah yang berfluktuasi dekat level terendah multi-minggu. Sentimen pasar didukung oleh gencatan senjata yang masih bertahan antara Israel dan Iran, meskipun kekhawatiran akan pecahnya kembali konflik tetap membayangi.
Indeks saham utama seperti Nikkei Jepang dan ASX 200 Australia tercatat stagnan, sementara indeks saham Taiwan naik 1%. Hang Seng Hong Kong menguat 0,6%, sedangkan saham unggulan di Cina daratan turun tipis 0,1%. Kontrak berjangka saham AS juga mengalami sedikit perubahan.
Harga minyak mentah Brent naik 81 sen menjadi USD67,95 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 70 sen ke level USD65,07 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah harga minyak anjlok lebih dari USD14 dalam dua sesi sebelumnya.
Analis pasar dari Capital.com, Kyle Rodda, mengatakan pasar cenderung mengabaikan ketegangan yang masih ada antara Israel dan Iran.
“Yang lebih dikhawatirkan pasar adalah kemungkinan konflik berskala lebih luas, termasuk potensi intervensi militer AS atau gangguan di Selat Hormuz,” ujarnya.
Di pasar valuta asing, dolar AS melemah mendekati posisi terendah dalam hampir empat tahun terhadap euro. Indeks dolar AS turun 0,1% ke level 97,854. Euro menguat 0,1% menjadi USD1,1625, mendekati level tertingginya sejak Oktober 2021.
Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor dua tahun juga turun ke posisi terendah sejak 8 Mei, yakni di 3,787%. Penurunan harga minyak diyakini telah mengurangi tekanan inflasi, sehingga mendukung harga obligasi.
Sementara itu, Ketua Federal Reserve Jerome Powell memperingatkan bahwa tarif yang lebih tinggi berpotensi memicu kenaikan inflasi pada musim panas ini. Ia menyatakan hal tersebut dalam sidang bersama Komite Jasa Keuangan DPR AS. Powell juga menekankan bahwa periode mendatang akan menjadi krusial dalam pengambilan keputusan suku bunga oleh bank sentral.
Di sisi lain, data ekonomi terbaru menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen AS melemah secara tak terduga pada bulan Juni, mengindikasikan kemungkinan penurunan aktivitas pasar tenaga kerja.
Menurut alat CME FedWatch, pasar memperkirakan peluang sekitar 18% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada bulan Juli mendatang.