Polisi Soal Daycare Little Aresha: Motifnya Ekonomi, Sudah Overload tapi Masih Terima
Para anak ini diikat dengan memakai kain dari pagi hingga sore hari.
Puluhan anak menjadi korban penganiayaan, penelantaran dan tindakan tak manusiawi saat dititipkan di daycare Little Aresha yang berada di Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta.
Para anak ini diikat dengan memakai kain dari pagi hingga sore hari.
Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Eva Guna Pandia mengatakan dari pemeriksaan terhadap para tersangka diketahui motif ekonomi menjadi penyebab perlakuan tak manusiawi harus diterima oleh anak-anak ketika dititipkan di Little Aresha.
"Motifnya ekonomi. Semakin banyak menerima (anak dititipkan) semakin banyak pula keuntungannya," kata Eva Guna, Senin (24/7).
Sementara itu Kasatreskrim Polresta Yogyakarta Kompol Riski Adrian menerangkan bahwa kondisi di Little Aresha dinilai overload.
Jumlah antara pengasuh dengan anak yang dititipkan tak sebanding.
Adrian menyebut satu pengasuh bisa mengasuh atau mengawasi tujuh hingga sepuluh anak. Kondisi ini dinilainya tak ideal karena pengawasan anak menjadi minim.
"Satu shift itu ada yang 2 (pengasuh), ada yang 3, ada yang 4. Artinya seharusnya kan dia membatasi (jumlah anak yang diasuh)," urai Adrian.
"Karena dari keterangan dari wali murid, mereka dijanjikan satu miss (pengasuh) itu dua sampai tiga anak. Tapi kenapa masih menampung terus, berarti kan ini memang ada mencari keuntungan ya," imbuh Adrian.
Pengasuh Kewalahan
Para pengasuh ini kemudian merasa kewalahan. Untuk meringankan beban kerja pengasuh, kepala yayasan dan kepala sekolah memerintahkan untuk mengikat anak-anak ini.
"Dari keterangan pelaku, dua miss itu bisa menghandle sampai dua puluh anak. Mereka (pengasuh) kesulitan melakukan pekerjaan sehingga diperintahkan (ketua yayasan dan kepala sekolah) untuk melakukan perbuatan-perbuatan tak manusiawi tersebut," tutup Adrian.