IDAI Tegaskan Daycare Wajib Pisahkan Area Anak Sehat dan Sakit
Daycare harus menyediakan area terpisah untuk anak-anak yang sehat dan yang sakit guna mencegah penyebaran penyakit di antara mereka.
Ketua Unit Kerja Koordinator Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Fitri Hartanto, menyatakan bahwa sebuah taman penitipan anak (TPA) seharusnya memiliki area khusus untuk anak yang sedang sakit.
"Daycare itu mestinya ada area anak yang sehat dan anak sakit. Namun, di daycare kita (Indonesia) enggak ada yang membedakan anak sehat dan sakit, sehingga sering kali menulari anak lain," ungkap Fitri dalam diskusi daring pada Rabu (29/4/2026).
Situasi ini berpotensi menyebabkan anak yang tertular jatuh sakit, kemudian setelah seminggu sembuh, ia bisa kembali tertular oleh teman di daycare. Jika kondisi ini dibiarkan, maka tumbuh kembang anak akan terganggu.
Fitri menambahkan bahwa para pengasuh harus memahami cara penularan penyakit dan tidak boleh sembarangan berinteraksi dengan anak sehat setelah mengasuh anak yang sakit.
"Di dalam layanan daycare, itu sebetulnya tidak mudah untuk membuat layanan, harus profesional. Petugas, guru, atau pengasuh daycare itu harus tahu tentang pendidikan, kesehatan, psikologi," jelasnya.
Dia juga menekankan pentingnya pengasuh daycare untuk mengetahui potensi penularan penyakit anak dan cara mencegahnya.
"Sekarang bicara kesehatan, pengasuh daycare harus tahu, anak ini berpotensi menularkan nggak, bagaimana cara untuk mencegah penularan itu," tambahnya.
Dirinya kemudian menegaskan bahwa pemisahan area anak sakit bukan hanya sekadar memisahkan ruangannya, tetapi pengasuh juga perlu memahami potensi penularan penyakit.
Jika pengasuh tidak melindungi diri saat merawat anak sakit dan kemudian langsung berinteraksi dengan anak sehat, maka pemahaman mereka tentang kesehatan masih kurang baik.
"Jadi usahakan pengasuh daycare itu memahami soal penyebaran kuman, tentang pengobatan sementara, tentang tindakan darurat, jadi harus kompeten," tutupnya.
Respons IDAI Soal Little Aresha
Dalam kesempatan yang sama, Ketua IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, memberikan tanggapan terkait kasus kekerasan yang terjadi pada anak di Daycare Little Aresha, Yogyakarta.
"Tentu ini sangat tidak bisa diterima. Ada anak diikat, ditelanjangi, itu kayak binatang perilakunya tidak mengenal perikemanusiaan apalagi pada anak. Kami sangat menyesalkan, kejadian ini jangan terulang lagi tapi malah terulang lagi di Aceh," ungkap Piprim.
Seperti yang telah diketahui, setelah insiden di Yogyakarta, kasus kekerasan pada anak kembali muncul di salah satu taman penitipan anak (TPA) di Aceh.
"Dengan berbagai fenomena tersebut kita tidak bisa berdiam diri saja, kita harus mencegah bagaimana agar setiap daycare itu diawasi oleh pakar. CCTV sangat penting, jangan sampai tergiur oleh promosi yang tidak benar atau tergiur harga murah. Intinya, ini tidak boleh terulang lagi," tegas Piprim.
Dia juga menekankan pentingnya kesadaran orang tua mengenai tanda-tanda kekerasan yang mungkin dialami anak, baik secara fisik maupun psikis.
"Buat orang tua, memang perlu lebih aware soal tanda kekerasan pada anak, baik tanda fisik mau psikis, misalnya kalau anak menolak dan ketakutan saat diajak ke daycare," jelasnya.
"Paling utama adalah pencegahan karena traumanya bisa mendalam dan membekas. Mudah-mudahan semua pihak ikut terus mengawal," harapnya.