Kasus Daycare Little Aresha, Dokter Ungkap Bahaya Mengikat Kaki Bayi
Penting untuk memahami dampak praktik ini terhadap perkembangan anak serta mengenali tanda-tanda bahaya yang perlu diwaspadai.
Kasus Daycare Little Aresha di Yogyakarta yang menjadi viral di media sosial telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua. Salah satu praktik yang menjadi sorotan adalah dugaan mengikat kaki bayi, yang dianggap berisiko bagi perkembangan anak.
Para ahli pun mengingatkan bahwa pembatasan gerak pada bayi bukan hanya masalah kenyamanan, tetapi juga dapat memiliki dampak serius secara fisik dan psikologis. Ketua Health Collaborative Center (HCC), dr. Ray Wagiu Basrowi, menegaskan bahwa bayi memerlukan kebebasan bergerak untuk mendukung proses tumbuh kembangnya.
"Gerakan bebas pada bayi bukan hanya aktivitas biasa, tapi bagian penting dari proses belajar. Dari menendang, berguling, hingga merangkak, semua itu adalah stimulasi motorik yang sangat krusial," ujarnya, seperti dikutip dari Instagram @hcc.indonesia pada Selasa, 28 April 2026.
Menurut dr. Ray, mengikat kaki bayi dapat menghambat perkembangan motorik kasar. Bayi yang seharusnya aktif mengeksplorasi gerakan justru kehilangan kesempatan untuk melatih otot dan koordinasi tubuhnya. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, dapat memengaruhi tahapan perkembangan berikutnya, seperti berdiri dan berjalan.
Tak hanya itu, pembatasan gerak juga berdampak pada perkembangan otak. Saat bayi bergerak bebas, otak membangun koneksi antara sensorik dan motorik.
"Eksplorasi adalah cara bayi belajar. Kalau gerakannya dibatasi, maka pengalaman belajar alaminya juga ikut berkurang," ungkapnya. Dari sisi emosional, bayi yang diikat berisiko mengalami stres. Mereka mungkin merasa tidak nyaman, panik, bahkan menangis berlebihan karena kehilangan rasa aman. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kelekatan (attachment) dan rasa percaya bayi terhadap lingkungannya.
Selain itu, risiko fisik juga perlu diwaspadai. Ikatan yang terlalu kencang dapat menyebabkan gangguan sirkulasi darah, bekas merah, lecet, hingga nyeri pada bagian kaki atau tangan. Bahkan, dalam kasus tertentu, bayi bisa mengalami mati rasa akibat tekanan yang berlebihan.
"Hal sederhana seperti ini sering dianggap sepele, padahal dampaknya bisa cukup serius jika terjadi berulang," kata dr. Ray. Kualitas tidur bayi pun bisa terganggu. Bayi memerlukan posisi yang nyaman dan fleksibel saat tidur. Jika gerakan mereka dibatasi, bayi cenderung gelisah, sering terbangun, dan tidak mendapatkan istirahat yang optimal. Lebih lanjut, Ray mengingatkan orang tua untuk peka terhadap tanda-tanda bahaya, terutama jika anak dititipkan di daycare.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain bayi yang mendadak takut saat ditinggal, menangis berlebihan saat dijemput, muncul bekas luka atau lebam, serta perubahan pola tidur dan nafsu makan.
"Kalau ada perubahan perilaku yang signifikan, jangan diabaikan. Itu bisa menjadi sinyal bahwa anak merasa tidak nyaman atau mengalami sesuatu," tambahnya. Sebagai langkah pencegahan, orang tua disarankan untuk rutin memeriksa kondisi tubuh anak, mengamati perubahan perilaku, serta menjalin komunikasi terbuka dengan pihak daycare. Jika memungkinkan, lakukan kunjungan mendadak untuk memastikan kondisi lingkungan pengasuhan.
"Orang tua juga harus percaya pada intuisi. Kalau ada yang terasa tidak wajar, sebaiknya segera ditindaklanjuti," pungkas Ray.