Orangtua Curhat ke DPR, Ungkap Anaknya Korban Daycare Yogyakarta Alami Trauma hingga Gizi Buruk
Hal itu terungkat dalam rapat dengar pendapat Komisi VIII DPR di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (9/6).
Para orang tua korban kekerasan di Daycare Little Aresha, Umbulharjo, Yogyakarta mengikuti rapat dengar pendapat Komisi VIII DPR di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (9/6). Salah satu orang tua korban, Ismanto, yang mengikuti rapat secara daring menyampaikan kondisi anaknya mengalami tidak hanya kekerasan fisik melainkan trauma psikologis selama dititipkan di daycare tersebut.
“Secara psikologis anak kami tentunya dampak seperti halnya anak kami itu mudah marah atau temperamen, kemudian yang kedua takut dengan orang baru, sulit makan, tidak bisa makan selama hari-hari, berteriak nangis histeris saat tidur malam hari, kemudian terbangun dan berpindah tidur ke lantai,” ujar Ismanto dalam rapat.
Terkait fisik, Ismanto mengungkapkan anaknya mengalami gangguan pertumbuhan atau stunting. Dia menyebut berat badan anaknya yang berusia 3 tahun 3 bulan hanya sekitar 10 kilogram.
“Dalam artian gizi buruk atau stunting ya. Jadi anak kami mengalami stunting yang cukup parah karena di bawah garis merah. Kemudian kejadian tangan melepuh dan lain sebagainya sering terjadi pada anak kami. Kemudian sakit bahkan sampai keluar darah dari hidung,” beber Ismanto.
Anak Alami Perubahan Fisik
Selain luka fisik, anaknya bahkan mengalami pneumonia baru beberapa bulan dititipkan di sana, sebab, anaknya yang baru berusia dua bulan dimandikan air dingin.
“Tiga bulan atau empat bulan selama anak kami ditempatkan di daycare tersebut, itu sudah mengalami pneumonia Bapak. Jadi informasinya juga anak kami tidak dimandikan dengan air hangat dalam kondisi usia dua bulan,” kata dia.
Sementara jtu, orang tua korban lainnya, Usi menyebut anaknya mengalami perubahan perilaku yakni stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD).
"Kemarin waktu di psikiater itu diagnosanya dua-duanya itu adalah PTSD atau post-trauma sindrom itu, Pak. Jadi, memang mereka berdua membutuhkan terapi yang berkelanjutan. Jadi, ini sampai sekarang dua minggu setiap minggu itu mereka menjalankan terapi," katanya.
Karena sering ditelantarakan di daycare, kini anaknya juga menjadi terbiasa tidur di lantai dan menunjukkan perilaku agresif.
"Perubahan-perubahan yang terjadi sekarang di Little Aresha itu seperti anak saya itu suka menali, kemudian suka lepas pampers, dan tidur hanya di lantai. Kemudian, juga suka menjambak, mencubit, dan lain-lain kekerasan yang sering dilakukan oleh anak saya di rumah," jelas dia.