Yogyakarta Bentuk Tim Khusus untuk Pendampingan Psikologis Korban Kekerasan Daycare
Pemerintah Kota Yogyakarta bergerak cepat membentuk tim pendampingan psikologis korban kekerasan daycare, menyusul kasus penelantaran anak di Daycare Little Aresha yang menghebohkan publik.
Pemerintah Kota Yogyakarta segera membentuk tim khusus untuk memberikan pendampingan psikologis kepada anak-anak korban kekerasan dan penelantaran di Daycare Little Aresha, Kelurahan Sorosutan, Umbulharjo. Langkah ini diambil setelah kasus penggerebekan tempat penitipan anak tersebut oleh aparat kepolisian beberapa waktu lalu, yang mengungkap adanya indikasi perlakuan tidak pantas terhadap anak-anak. Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam melindungi hak-hak anak dan memberikan dukungan penuh bagi pemulihan mereka.
Pembentukan tim ini merupakan respons atas permintaan para orang tua korban yang mengkhawatirkan kondisi psikologis anak-anak mereka. Banyak anak menunjukkan tanda-tanda kurang sehat secara psikologis akibat pengalaman traumatis yang mereka alami di daycare. Kondisi ini mendesak adanya intervensi profesional untuk memastikan tumbuh kembang anak tidak terganggu secara berkelanjutan.
Diskusi intensif telah dilakukan dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan dinas terkait untuk segera merumuskan struktur tim pendampingan. Tim ini akan melibatkan berbagai ahli, termasuk psikolog anak, ahli tumbuh kembang, ahli gizi, serta ahli pengasuhan, guna memberikan penanganan komprehensif.
Penanganan Komprehensif untuk Pemulihan Psikologis Anak
Wali Kota Hasto Wardoyo menjelaskan bahwa tim pendampingan psikologis yang dibentuk akan melibatkan berbagai ahli yang dibutuhkan. Keterlibatan multidisiplin ilmu ini sangat penting untuk memastikan setiap aspek pemulihan anak dapat tertangani dengan baik. Fokus utama adalah mengembalikan kondisi psikologis anak-anak agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal tanpa beban trauma.
Keluhan dari perwakilan orang tua korban menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Kota Yogyakarta. Mereka menceritakan perlakuan yang diindikasikan terjadi kepada anak-anak selama diasuh di Daycare Little Aresha, yang menimbulkan kesedihan mendalam. Wali Kota menyatakan keprihatinannya, "Sudah kami catat perlakuan-perlakuan yang diindikasikan dilakukan kepada anak-anak mereka. Mereka bersedih kami juga ikut sangat bersedih," ujarnya.
Pengalaman traumatis ini, terutama pada anak-anak yang belum mampu memprotes atau memiliki posisi tawar, menjadi fokus utama penanganan. Tim ahli akan bekerja keras untuk memulihkan kondisi mental dan emosional anak-anak. Pendekatan holistik akan diterapkan, mencakup terapi psikologis, dukungan tumbuh kembang, serta memastikan asupan gizi yang memadai.
Dukungan Psikologis Juga Diberikan untuk Orang Tua Korban
Dampak dari kasus kekerasan di daycare ini tidak hanya dirasakan oleh anak-anak, tetapi juga oleh para orang tua korban. Wali Kota Yogyakarta mengungkapkan bahwa banyak orang tua mengalami gangguan stres yang signifikan akibat kondisi mengejutkan tersebut. Mereka membutuhkan dukungan dan pendampingan psikologis untuk mengatasi tekanan emosional yang dialami.
"Sehingga kita pun juga bersama-sama menyiapkan pendampingan, dan kita punya psikolog-psikolog yang ada di psikolog klinis di puskesmas jumlahnya ada 18 psikolog juga kita siapkan," kata Wali Kota. Ketersediaan psikolog klinis di puskesmas akan dimaksimalkan untuk memberikan layanan konseling kepada para orang tua. Ini menunjukkan perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan mental seluruh keluarga korban.
Pemerintah Kota Yogyakarta juga mengapresiasi respons cepat aparat kepolisian dalam menangani kasus ini. Penggerebekan daycare pada Jumat (24/4) dan pemeriksaan maraton terhadap pengelola menunjukkan keseriusan penegakan hukum. Wali Kota berharap proses hukum dapat terus berjalan transparan dan memberikan keadilan bagi para korban.
Sumber: AntaraNews