BMKG Prediksi Musim Kemarau Malang Raya Lebih Kering hingga November 2026
BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur memprediksi musim kemarau di Malang Raya akan berlangsung lebih panjang dan kering hingga November 2026, akibat El Nino. Masyarakat diimbau waspada terhadap potensi dampaknya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur memperkirakan musim kemarau di wilayah Malang Raya akan berlanjut hingga periode Oktober-November 2026. Prakiraan ini menjadi perhatian mengingat potensi dampaknya terhadap berbagai sektor kehidupan masyarakat.
Awal musim kemarau di Malang Raya, yang meliputi Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu, telah dimulai sejak dasarian I Mei 2026. Saat ini, hampir 75 persen wilayah Malang Raya sudah memasuki musim kemarau.
Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Linda Fitrotul, menyatakan bahwa musim kemarau tahun ini diprediksi akan berjalan lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini diperkuat oleh fenomena El Nino yang diperkirakan akan berlangsung hingga awal tahun 2027.
Prakiraan Durasi Musim Kemarau Malang Raya
Musim kemarau di Malang Raya telah dimulai sejak dasarian pertama bulan Mei 2026, menandai dimulainya periode kering yang signifikan. BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur memproyeksikan bahwa musim ini akan berlanjut hingga Oktober dan November 2026.
Sebagian besar wilayah Malang Raya, sekitar 75 persen, kini telah memasuki musim kemarau. Namun, terdapat beberapa area yang masih berada dalam masa transisi dari musim hujan ke kemarau.
Salah satu wilayah yang masih dalam masa peralihan adalah bagian tenggara Kabupaten Malang yang berbatasan dengan Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Wilayah ini belum sepenuhnya memasuki musim kemarau seperti daerah lainnya di Malang Raya.
Dampak El Nino dan Kondisi Lebih Kering
Analisis BMKG menunjukkan bahwa durasi musim kemarau pada tahun ini diprediksi akan lebih kering dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh pengaruh kuat fenomena El Nino.
El Nino, yang diperkirakan akan berlangsung hingga awal tahun 2027, akan memperkuat karakteristik musim kemarau di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Malang Raya. Dampak ini berpotensi menyebabkan kondisi yang lebih ekstrem.
Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau yang lebih panjang dan kering ini. Potensi penurunan debit air menjadi salah satu kekhawatiran utama.
Selain itu, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga meningkat, khususnya di area yang terletak di wilayah lereng gunung. Oleh karena itu, BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur menyarankan masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi kondisi cuaca ke depan dan mengambil langkah pencegahan yang diperlukan.
Sumber: AntaraNews