IDAI Nilai Istilah Daycare Kurang Tepat, Ajukan Alternatif
Daycare bukan sekadar tempat penitipan anak, tetapi merupakan layanan pengasuhan yang dirancang untuk mendukung tumbuh kembang.
Istilah daycare selama ini sering diterjemahkan sebagai 'tempat penitipan anak'. Namun, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) berpendapat bahwa penggunaan istilah tersebut kurang tepat dan dapat menimbulkan kesalahpahaman mengenai fungsi lembaga pengasuhan anak.
Ketua Unit Kerja Koordinator Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Fitri Hartanto, menekankan bahwa istilah 'penitipan' seharusnya tidak digunakan dalam konteks pengasuhan anak.
"Ubah penerjemahan daycare sebagai Tempat Penitipan Anak menjadi Tempat Pengasuhan Anak," ujarnya dalam sebuah diskusi daring pada Rabu, 29 April 2026.
Menurutnya, kata "penitipan" lebih tepat digunakan untuk objek mati atau barang, bukan untuk anak yang memerlukan perhatian, kasih sayang, serta stimulasi perkembangan yang optimal.
Lebih dari Sekadar Dititipkan
Fitri menjelaskan bahwa konsep daycare seharusnya tidak hanya dipahami sebagai tempat menitipkan anak selama orang tua bekerja. Lebih dari itu, daycare merupakan lingkungan pengasuhan yang memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, baik dari segi fisik, emosional, maupun sosial.
Dalam praktiknya, lembaga pengasuhan anak idealnya menyediakan berbagai aspek penting, mulai dari keamanan fisik, kualitas pengasuh, hingga program stimulasi yang sesuai dengan usia anak. Hal ini menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kualitas pengasuhan anak, terutama setelah munculnya sejumlah kasus kekerasan di lingkungan daycare.
Pentingnya Standar dan Pengawasan Daycare
Selain mengkritisi istilah, IDAI juga mendorong adanya perbaikan sistem pengawasan dan regulasi terhadap lembaga pengasuhan anak.
Fitri menekankan bahwa pengawasan tidak boleh hanya bersifat administratif, tetapi juga harus menyentuh aspek kualitas layanan secara menyeluruh. Beberapa rekomendasi yang disampaikan antara lain penerapan audit berkala, transparansi hasil evaluasi, serta modernisasi sistem perizinan melalui digitalisasi. Pemerintah juga didorong untuk membangun sistem pengawasan real-time yang memungkinkan pemantauan langsung terhadap operasional daycare, demi menjamin keamanan dan kualitas layanan.
Peran Orang Tua Tetap Kunci
Di sisi lain, IDAI mengingatkan bahwa peran orang tua tetap menjadi faktor utama dalam memastikan keamanan anak. Orang tua diimbau untuk lebih selektif dalam memilih daycare, tidak hanya tergiur oleh harga murah atau promosi yang menarik. Ketua IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa kasus kekerasan terhadap anak di daycare tidak boleh dianggap remeh dan harus menjadi pelajaran bersama.
"Dengan berbagai fenomena tersebut kita tidak bisa berdiam diri saja, kita harus mencegah bagaimana agar setiap daycare itu diawasi dengan baik," ujarnya. Dia juga mengingatkan orang tua untuk peka terhadap tanda-tanda kekerasan pada anak, baik secara fisik maupun psikologis. Misalnya, anak yang tiba-tiba menolak pergi ke daycare, menunjukkan ketakutan berlebih, atau mengalami perubahan perilaku.