Nama Sri Mulyani Indrawati kembali menyita perhatian publik. Bukan karena kembali menjadi Menteri Kabinet Merah Putih pimpinan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, melainkan kabar mantan bendahara negara itu ditunjuk sebagai anggota direksi Gates Foundation.
Gates Foundation merupakan yayasan swasta didirikan Bill Gates dan mantan istrinya Melinda. Yayasan ini didirikan sebagai penggabungan dua inisiatif amal yang sebelumnya dijalankan oleh Bill Gates dan Melinda French Gates.
CEO Gates Foundation Mark Suzman menyatakan, Sri Mulyani membawa pengalaman mendalam dalam membentuk kebijakan ekonomi yang berkeadilan. Keahlian tersebut dinilai krusial untuk mendukung tujuan jangka panjang yayasan, terutama dalam memastikan pemanfaatan sumber daya yang efektif untuk memperluas kesempatan, mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat global.
“Kepemimpinannya akan membantu memastikan bahwa sumber daya kita terus digunakan untuk memperluas kesempatan, mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif, dan meningkatkan hasil bagi masyarakat di seluruh dunia,” ujar Mark dalam laman resmi Gates Foundation dikutip Selasa (13/1).
Sri Mulyani mengaku terhormat bergabung dengan dewan pengurus Gates Foundation di tengah tantangan dan peluang global yang besar. Dia menyebut, kolaborasinya dengan yayasan tersebut telah berlangsung hampir satu dekade, terutama dalam kajian pemanfaatan teknologi baru untuk memperluas kesempatan dan mendorong pembangunan yang inklusif serta berkelanjutan.
“Dengan waktu 20 tahun untuk memberikan dampak sebesar mungkin dalam kehidupan mereka yang paling membutuhkan, saya merasa terhormat untuk bergabung dengan dewan direksi Gates Foundation guna berkontribusi pada momen penting yang penuh tantangan dan peluang ini,” kata Sri Mulyani.
Sri Mulyani akan bergabung bersama anggota dewan lainnya, termasuk Ashish Dhawan, Dr. Helene Gayle, Strive Masiyiwa, Thomas J. Tierney, Mark Suzman, dan Bill Gates. Sementara itu, Baroness Nemat (Minouche) Shafik saat ini tengah mengambil cuti untuk menjalankan tugas sebagai penasihat ekonomi utama Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.
Penunjukan Sri Mulyani menjadi dewan direksi Gates Foundation itu menambah rekam jejak jabatan perempuan kelahiran Bandar Lampung, 26 Agustus 1962, ini.
Sebelum ditunjuk menjadi dewan direksi Gates Foundation, Sri Mulyani kerap menjabat posisi di luar negeri termasuk Direktur Pelaksana Bank Dunia. Bahkan di dalam negeri, wanita yang akrab disapa Ani ini pernah menjadi Menteri Keuangan di tiga presiden Indonesia.
Advertisement
Usai menamatkan sekolah di SMA Negeri 3 Semarang, Sri Mulyani melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Ekonomi di Universitas Indonesia (UI). Dia tercatat sebagai lulusan Sarjana Ekonomi fakultas ini pada 1986.
Empat tahun berselang, Sri Mulyani meraih gelar Master of Science (M.Sc) di bidang Ekonomi Kebijakan dari University of Illinois Urbana-Champaign, Amerika Serikat.
Dia melanjutkan pendidikannya pada kampus yang sama untuk mendapatkan gelar Doktor (PhD), yang ia raih pada 1992.
Sri Mulyani memulai kariernya di lingkup akademik sebagai pengajar dan peneliti. Dia menjadi asisten pengajar Fakultas Ekonomi UI (1985-1986) dan asisten profesor di University of Illinois Urbana-Champaign (1990-1992).
Ia pun aktif menjadi pengamat ekonomi sambil menjabat sebagai Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI sejak 1998.
Sementara kariernya di pemerintahan dimulai ketika ia menjadi Staf Ahli Bidang Analisis Kebijaksanaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada 1994-1995.
Lalu pada 1998, ia bergabung menjadi anggota Tim Asistensi Menteri Keuangan Bidang Keuangan dan Moneter, Departemen Keuangan RI.
Namun, sebelum mendapatkan penugasan menteri di Indonesia, Sri Mulyani sempat terpilih menjadi Direktur Eksekutif Dana Moneter Internasional (IMF) mewakili 12 negara di Asia Tenggara pada 2002.
Baru dua tahun setelahnya, tepatnya pada 21 Oktober 2004, dia diberikan amanat di Kabinet Indonesia Bersatu pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas.
Berselang satu tahun kemudian, Sri Mulyani dipindahkan menjadi Menteri Keuangan menggantikan Jusuf Anwar karena perombakan kabinet oleh SBY. Ia bertahan dengan jabatan ini hingga Mei 2010.
Kapasitasnya itu memancing amanat baru dari SBY untuk menjadi Pelaksana Tugas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian lantaran Boediono dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI).
Setelah mengakhiri masa jabatan sebagai Menteri Keuangan pemerintahan SBY, Sri Mulyani berkarier di tingkat internasional lantaran diangkat menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia. Dia adalah orang Indonesia pertama yang memegang posisi ini.
Akan tetapi, pada tahun ketiga pemerintahan Jokowi, Sri Mulyani ditarik kembali ke Indonesia untuk menduduki lagi posisi Menteri Keuangan.
Pada masa jabatannya kali ini, ia dinobatkan sebagai Menteri Keuangan Terbaik di Asia Pasifik atas penanganan pandemi Covid-19 oleh Global Markets.
Kemampuan Sri Mulyani mengelola anggaran negara ketika pandemi juga tercermin pada akselerasi konsolidasi fiskal, di mana defisit APBN berhasil ditekan kembali ke bawah 3 persen dalam kurun waktu dua tahun setelah sempat menyentuh 6 persen pada tahun pertama pandemi.
Selanjutnya, ia terpilih sebagai Co-Chair Coalition of Finance Ministers for Climate Action dan menerima penghargaan Distinguished Leadership and Service Award pada 2021.
Lalu pada akhir tahun 2024, ia dianugerahi gelar kehormatan Honoris Causa dari Australian National University karena kontribusinya dalam pembangunan ekonomi, baik di Indonesia maupun internasional.
Sri Mulyani kemudian kembali menjadi Menteri Keuangan pada Kabinet Merah Putih di bawah pemerintahan Presiden dan Wakil Presiden RI Prabowo-Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Pelantikan itu menandai eksistensi Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan RI di tiga periode pemerintahan berturut-turut, mulai dari kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Joko Widodo (Jokowi), hingga kini Prabowo Subianto.
Kepercayaan yang berlanjut terhadap Sri Mulyani tak mengherankan bila melihat rekam jejaknya dalam bidang ekonomi. Perempuan kelahiran Bandar Lampung, 26 Agustus 1962, ini konsisten menempuh perjalanan di bidang ekonomi sejak masuk ke jenjang perkuliahan tingkat sarjana.
Namun menjelang setahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Sri Mulyani digantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Saat itu, Sri Mulyani mengaku ingin fokus bersama keluarga dan mengajar di kampus. Kini, Sri Mulyani ditunjuk sebagai anggota direksi Gates Foundation. Mengingat rekam jejaknya, Sri Mulyani layak mendapatkan kepercayaan yang memadai dari dunia internasional.
Advertisement