Kisah sukses Cho Tak Wong (yang juga dikenal sebagai Cao Dewang) dimulai pada tahun 1980-an. Saat itu, ia nekat mengambil alih Pabrik Kaca Gaoshan, sebuah perusahaan milik pemerintah daerah di Provinsi Fujian yang sedang sekarat. Berkat tangan dinginnya, bisnis tersebut berhasil diselamatkan dan bertransformasi menjadi Fuyao Glass.
Kini, setelah lima dekade berlalu, Fuyao Glass telah menggurita menjadi salah satu produsen kaca terbesar di dunia dengan kapitalisasi pasar mencapai USD 20 miliar (sekitar Rp326 triliun). Mempekerjakan lebih dari 40 ribu karyawan secara global, perusahaan ini menjadi pemasok utama bagi raksasa otomotif dunia seperti Tesla, GM, dan Ford. Keberhasilan ini mengantar Cho masuk dalam jajaran miliarder dunia versi Forbes dengan kekayaan bersih USD 4,7 miliar.
Ekspansi ke AS dan Sorotan Barack Obama
Nama Cho mulai dikenal luas di Amerika Serikat setelah ia melakukan gebrakan besar dengan berinvestasi sebesar USD 1,5 miliar untuk menghidupkan kembali bekas pabrik yang telah tutup di Moraine, Ohio. Langkah berani ini berhasil menciptakan sekitar 4.000 lapangan kerja bagi warga lokal.
Perjalanan Fuyao di Negeri Paman Sam tersebut bahkan diabadikan dalam film dokumenter berjudul 'American Factory'. Film yang diproduksi oleh Higher Ground Productions, perusahaan media milik mantan Presiden AS Barack Obama dan Michelle Obama, ini sukses menarik perhatian dunia dan melambungkan nama Cho di kancah internasional.
Advertisement
Ketika menginjak usia 70-an, Cho mulai berpikir untuk melepaskan tongkat estafet kepemimpinan perusahaannya kepada generasi yang lebih muda. "Saat itu saya bersiap pensiun, namun saya merasa masih relatif muda. Apa lagi yang harus saya lakukan selanjutnya?" kenangnya melansir Forbes di Jakarta, Jumat (10/7).
Momentum karantina di rumah selama pandemi Covid-19 akhirnya memberi Cho waktu untuk merenung dalam-dalam hingga ia memantapkan diri terjun ke dunia filantropi.
Sebenarnya, aksi sosial ini bukan hal baru baginya. Pada tahun 2011, Cho sudah mendonasikan 300 juta saham Fuyao senilai USD 500 juta untuk mendirikan Heren Charitable Foundation yang telah mendanai 260 proyek sosial dan pendidikan. Namun, memasuki usia senja, ia ingin melakukan sesuatu yang jauh lebih masif bagi negaranya.
Mendirikan Universitas dan Budaya Hormat pada Pendidikan
Terinspirasi dari pengusaha sukses AS yang mendirikan kampus top seperti Carnegie Mellon, Cho memutuskan membangun universitas sains dan teknik. Pada tahun 2021, yayasannya menggelontorkan dana fantastis sebesar USD 1,5 miliar (sekitar Rp24,4 triliun) untuk mendirikan Universitas Sains dan Teknologi Fuyao di Fuzhou, China.
Saat ini, Cho bertindak sebagai ketua pembina di kampus yang sudah mulai aktif menjaring akademisi dan mahasiswa dari seluruh dunia tersebut.
Langkah Cho ini sejalan dengan kultur masyarakat Asia, khususnya China, yang menaruh rasa hormat sangat tinggi terhadap pendidikan sebagai alat perubah nasib. Pemerintah China pun sangat mendukung gerakan ini. Melalui prinsip “kemakmuran bersama (common prosperity)”, Beijing mendorong para miliarder baru untuk menyumbang ke sektor pendidikan tinggi demi mencetak pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang berkelanjutan.
Advertisement
Kini di usianya yang genap 80 tahun, Cho telah resmi mundur. Kepemimpinan Fuyao Glass telah diserahkan kepada putranya yang berusia 56 tahun, Tso Fai. Menunjukkan posisi strategis perusahaan, Tso Fai bahkan sempat menghadiri jamuan makan malam resmi bersama Presiden AS Donald Trump di Beijing beberapa waktu lalu.
Melihat situasi ekonomi dunia saat ini yang sedang bergejolak, Cho yang sarat pengalaman menangggapinya dengan bijak. Menurutnya, fluktuasi ekonomi global yang terjadi di AS, China, Eropa, hingga Jepang adalah hal yang wajar.
"Ekonomi itu tidak bergerak lurus ke atas seperti roket, melainkan berbentuk gelombang. Tantangan ekonomi dan aksi filantropi harus dilihat dalam sudut pandang yang sama, yaitu untuk mendukung kemajuan pendidikan dan teknologi. Sebagai pengusaha, kita harus memiliki keberanian dan tanggung jawab untuk menghadapi realitas ini," pungkas Cho.
Reporter Magang: Hanan Mahira Amani