"Kami Sekarat karena Kelaparan dan Pengeboman, Satu-satunya Pilihan Hanya Berharap Bantuan Datang"
Israel sengaja membiarkan warga Palestina di Jalur Gaza kelaparan dengan melarang masuknya bantuan kemanusiaan.
Di lingkungan Gaza yang hancur, di antara puing-puing yang menghitam dan dinding yang terbuka ke langit, anak-anak berdiri gemetar karena kelaparan pada Selasa, memohon makanan dan obat-obatan yang telah diblokir Israel selama dua bulan selama perang genosida yang berlangsung 19 bulan terakhir,
Dengan mata cekung, wajah pucat, dan tanda-tanda kekurangan gizi yang sangat nyata, beberapa anak hampir tidak dapat berdiri, mereka berkumpul untuk mengingatkan dunia tentang keadaan mereka.
Dalam acara yang diselenggarakan kelompok relawan Four Friends in Khan Younis, anak-anak mengangkat tangan gemetar sambil memegang poster bertuliskan “Pembunuhan Cukup Sampai di sini,” “Buka Perbatasan,” “Kami Kelaparan,” dan “Selamatkan Kami.”
Israel sengaja membiarkan warga Palestina di Jalur Gaza kelaparan dengan melarang masuknya bantuan kemanusiaan. Akibatnya, warga Gaza di ambang kelaparan akut dan anak-anak banyak mengalami gizi buruk dengan badan yang kurus kering dengan tulang yang hanya terbalut daging.
Penjajah kejam Israel menutup perbatasan sejak bulan lalu. Harga makanan pun meroket dan yang tersedia di pasar kebanyakan makanan kaleng dan itu pun dengan stok yang sangat terbatas.
"Kami mohon agar perbatasan dibuka. Kami sekarat karena kelaparan dan pengeboman,” kata Rama Abu al-Aynayn yang berusia 11 tahun, suaranya tercekat karena ketakutan dan kelaparan, saat berbicara kepada Anadolu.
“Sebagian besar dari mereka yang tewas akibat serangan udara adalah anak-anak. Sudah cukup. Selama dua bulan, kami kelaparan, tanpa rasa aman atau pendidikan,” tambahnya.
Dilansir Anadolu, lebih dari 1 juta anak menghadapi kelaparan setiap hari, dan 65.000 orang dirawat di rumah sakit yang tersisa di Gaza karena gizi buruk parah.
Komisaris Jenderal Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) Philippe Lazzarini mengatakan pada Jumat lalu, "anak-anak Gaza kelaparan."
"Pemerintah Israel terus memblokir masuknya makanan dan kebutuhan pokok lainnya. Kelaparan yang disengaja dan bermotif politik. Hampir 2 bulan pengepungan," tulisnya di X.
Makan Hanya Sekali Sehari
Seorang warga Gaza, Ibrahim al-Madhoun mengatakan persediaan makanannya habis sejak dua pekan lalu. Saat ini, ia hanya mampu memberi makan keluarganya sekali sehari hanya dengan manakeesh - roti pipih dengan taburan thyme.
"Bahkan manakeesh akan segera habis," kata pria berusia 46 tahun itu, yang tinggal bersama ibunya yang sudah tua dan lima orang anak.
"Tepung gandum yang tersisa sudah hampir habis," lanjutnya, dikutip dari Middle East Eye, Jumat (2/5).
Sejak Israel menutup perbatasan Gaza pada awal Maret, setidaknya 95 persen badan bantuan PBB dan internasional telah menghentikan distribusi setelah gudang mereka kehabisan stok.
Bantuan telah menjadi penyelamat bagi hampir seluruh 2,3 juta penduduk Gaza yang dibombardir dan diblokade Israel sejak Oktober 2023.
Pada 1 April, semua dari 25 toko roti yang didukung oleh Program Pangan Dunia (WFP) di Jalur Gaza tutup karena kekurangan tepung terigu dan bahan bakar. Saat ini, keluarga-keluarga Palestina di Gaza menggunakan sisa tepung terigu yang mereka terima dari WFP sebelum penangguhan bantuan untuk memanggang roti mereka dalam oven primitif buatan tangan menggunakan kayu bakar.
"Sering kali, kami kelaparan tetapi kami tidak bisa makan lebih dari satu kali sehari," kata Madhoun, seorang warga di lingkungan Jalaa di Kota Gaza.
"Bisa dibilang yang kami makan sekarang hanyalah roti dengan sedikit timi - cukup untuk membuat kami tetap hidup, tetapi tidak sehat."
Anak terakhirnya yang berusia dua tahun dinyatakan menderita gizi buruk parah setelah dibawa ke klinik PBB, seperti kebanyakan anak-anak Gaza lainnya.
"Ketika persediaan makanan yang tersisa habis, saya tidak punya rencana B. Kami hanya berharap bantuan akan segera datang. Ini satu-satunya pilihan yang tersedia," pungkasnya.