Saat Ribuan Jenazah pun Ikut 'Menderita' di Gaza Akibat Kekejaman Israel

Sekitar 10.000 warga Palestina dilaporkan masih hilang dan diyakini terkubur di bawah reruntuhan bangunan sejak dimulainya perang di Gaza pada Oktober 2023.

Mardani
Oleh Mardani - Reporter
Saat Ribuan Jenazah pun Ikut 'Menderita' di Gaza Akibat Kekejaman Israel
Warga Palestina melaksanakan salat jenazah di samping jenazah orang-orang yang dilaporkan tewas akibat serangan udara Israel, di Khan Yunis, Jalur Gaza Selatan, Sabtu (31/01/2026). (AFP/ Bashar Taleb)

Enam bulan setelah apa yang disebut sebagai “gencatan senjata” di Jalur Gaza, ribuan keluarga Palestina masih belum dapat menguburkan orang-orang tercinta mereka. Sekitar 10.000 warga Palestina dilaporkan masih hilang dan diyakini terkubur di bawah reruntuhan bangunan sejak dimulainya perang di Gaza pada Oktober 2023.

Pada 10 Oktober tahun lalu, kesepakatan yang dimediasi secara internasional ditandatangani antara Israel dan Hamas dengan tujuan mengakhiri konflik. Namun, bagi banyak keluarga di Gaza, perang belum benar-benar berakhir.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut pemboman Israel telah menghasilkan lebih dari 61 juta ton puing di wilayah Gaza yang terkepung dan hancur, sehingga menyebabkan seluruh komunitas tertimbun reruntuhan.

Kisah pilu datang dari kamp pengungsi Bureij di Gaza tengah. Abu Mohammed, seorang ayah Palestina, selamat setelah tim penyelamat berhasil menariknya dari bawah reruntuhan rumahnya. Namun, empat anaknya tidak berhasil diselamatkan.

Sejak saat itu, ia memilih tinggal di samping puing-puing rumahnya, tempat jasad anak-anaknya diyakini masih terjebak. Abu Mohammed mengatakan, ia hanya berhasil menguburkan istri, ibu, dan salah satu anaknya. Sementara jasad anggota keluarga lainnya masih tertimbun beton.

“Saya sudah berusaha selama tiga tahun untuk menyelamatkan anak-anak saya, tetapi ini adalah lempengan beton yang sangat besar. Tidak mungkin saya bisa melakukan ini, bahkan dengan ekskavator. Ini membutuhkan alat berat,” kata Abu Mohammed. “Bagaimana saya bisa melakukan ini sendiri?”

Ia mengaku telah berulang kali menghubungi tim pertahanan sipil, namun hingga kini belum ada bantuan yang datang. Dua anaknya yang masih hidup saat ini berada di Kairo, Mesir, untuk menjalani perawatan medis tanpa didampingi orang tua.

Seharusnya, gencatan senjata memungkinkan alat berat masuk ke Gaza untuk mempercepat proses evakuasi puing dan pencarian jenazah. Namun, hingga berbulan-bulan kemudian, hal itu disebut belum terjadi.

“Tidak ada yang masuk ke Gaza kecuali peralatan terbatas yang dibawa untuk komite Mesir dan tim Bulan Sabit Merah untuk menyelamatkan sandera Israel,” kata Mahmoud Basal, juru bicara pertahanan sipil Gaza, kepada Al Jazeera.

“Setelah jenazah-jenazah itu ditemukan, kasusnya ditutup.”

Di satu blok apartemen di Bureij saja, sedikitnya 50 jenazah disebut masih terperangkap di bawah reruntuhan sejak Oktober 2023.

Enam bulan setelah gencatan senjata diberlakukan, kondisi di lapangan disebut hampir tidak mengalami perubahan berarti. Keluarga-keluarga korban masih terus menunggu kepastian nasib anggota keluarga mereka yang belum ditemukan, sementara serangan militer Israel disebut masih terus berlangsung.

Pada Kamis lalu, pasukan Israel dilaporkan menembak dan menewaskan seorang siswi muda saat mengikuti kelas di sebuah tenda di Beit Lahiya, Gaza utara, menurut pejabat kesehatan dan pendidikan setempat.

Meski kesepakatan gencatan senjata telah diberlakukan, Israel disebut masih menduduki lebih dari separuh wilayah Jalur Gaza. Di area-area tersebut, sebagian besar bangunan telah diratakan dan warga dipaksa mengungsi.

Sejak gencatan senjata berlaku, setidaknya 738 orang dilaporkan tewas dan 2.036 lainnya mengalami luka-luka. Di saat yang sama, pihak berwenang baru berhasil menemukan 759 jenazah dari bawah reruntuhan.

Secara keseluruhan, perang di Gaza telah menewaskan lebih dari 72.317 warga Palestina dan melukai sedikitnya 172.158 lainnya.

Rekomendasi