Dalam 1 Hari 15 Warga Gaza Meninggal karena Kelaparan, Bobot Tubuh Hanya 12 Kilogram
Lima belas warga Palestina meninggal karena kelaparan dalam 24 Jam terakhir di Gaza, termasuk Anak-anak dan penyandang disabilitas.
Kementerian Kesehatan Palestina kemarin melaporkan 15 warga Palestina meninggal akibat kelaparan di Jalur Gaza dalam 24 jam terakhir akibat blokade Israel.
Empat di antaranya adalah anak-anak, termasuk bayi Yousef al-Safadi, Abd al-Jawad al-Ghalban (16 tahun), dan Ahmad Hasanat.
Salah satu orang dewasa yang meninggal adalah seorang perempuan berusia 32 tahun dengan kebutuhan khusus, Raheel Rosros.
Dilansir Middle East Eye, Rabu (22/7), pejabat medis mengonfirmasi kematian-kematian ini terjadi di wilayah utara dan selatan Gaza. Tingkat kelaparan kian meluas akibat kekurangan makanan dan bantuan kemanusiaan.
Dengan kematian terbaru ini, jumlah korban tewas akibat kelaparan di Gaza telah mencapai setidaknya 101 orang Palestina, termasuk 80 anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.
Ayah Rosros, Muhammad Rosros, mengatakan kepada Middle East Eye, putrinya menderita malnutrisi dan dehidrasi sejak lebih dari sebulan lalu.
“Sebelum perang dimulai, dia bisa makan apa pun yang dia inginkan, tapi sekarang dia telah kehilangan segalanya yang dulu dia minta,” ujarnya.
Beratnya kurang dari 25 kilogram
Ia mengatakan Raheel tidak bisa mencerna makanan yang masuk ke Gaza selama beberapa bulan terakhir.
Beberapa warga Palestina sebelumnya mengatakan kepada MEE bahwa bantuan makanan yang mereka terima sangat tidak memadai.
Rosros menjelaskan bahwa putrinya dulu memiliki berat sekitar 50 kilogram. Ia meninggal dengan berat kurang dari 25 kilogram.
Ia menambahkan bahwa saudara perempuan Raheel, yang juga memiliki kebutuhan khusus, tewas akibat pengeboman Israel awal tahun ini.
“Satu meninggal karena penembakan, yang satu lagi meninggal karena kelaparan,” katanya. “Segala puji bagi Allah.”
Rosros kini khawatir akan kehilangan dua anak lainnya — satu tuna rungu dan satu lagi penyandang autisme — karena kelaparan.
“Aku tak lagi takut anak-anakku terkena tembakan dan serangan. Sekarang, aku takut mereka mati karena kelaparan. Itu saja,” ujarnya.
Harga melonjak tajam
“Kelaparan yang melanda kami ini bukan kelaparan biasa. Kami tak pernah membayangkan. Tak ada satu pun yang peduli pada kami, tak satu pun negara Arab, muslim, atau Barat, tidak ada yang bersimpati pada kami dan apa yang terjadi pada anak-anak kami.”
Ayah dari empat anak ini mengatakan bahwa ia baru-baru ini membayar 120 shekel (sekitar Rp670 ribu) hanya untuk satu kilogram tepung, dan 70 shekel (sekitar Rp390 ribu) untuk segelas kecil minyak goreng.
Karena harga makanan dan kebutuhan pokok melonjak tajam, Rosros yang kini menganggur mengatakan bahwa ia tidak tahu lagi bagaimana bisa memberi makan anak-anaknya yang masih hidup di hari-hari mendatang.
“Hanya Tuhan yang tahu bagaimana kami bisa mendapatkan apa pun sekarang, bagaimana kami mengumpulkan setiap suapan, bagaimana kami memberi makan anak-anak kami.
“Tapi tak ada yang bersimpati. Tak ada uang, tak ada penghasilan, tak ada kehidupan,” katanya.
Bagaimana mungkin seorang anak bisa menahan ini?
AFP afp
Ibu dari Ghalban, Marwa al-Ghalban, menjelaskan bahwa anaknya menderita kelumpuhan otak, dan kondisi itu memburuk karena pengungsian, malnutrisi, serta dehidrasi sebelum akhirnya ia meninggal pagi ini.
“Hari ini, Allah memanggilnya, dengan segala rahmat-Nya,” kata Ghalban kepada MEE.
Ia menambahkan bahwa terakhir kali anaknya makan makanan yang layak adalah saat Ramadan pada bulan Maret.
“Situasinya hanya semakin memburuk sejak saat itu,” jelasnya.
Ghalban mengatakan bahwa berat badan anaknya turun drastis dalam beberapa bulan terakhir, dan ia memperkirakan bahwa massa tubuh anaknya hanya tersisa 12 kilogram.
Anaknya membutuhkan susu, suplemen gizi, dan popok, namun semua itu tidak tersedia karena blokade Israel dan kekurangan pasokan.
Pamannya, Abdel Sattar al-Ghalban, mencatat bahwa Abd al-Jawad memerlukan diet khusus yang mencakup makanan tinggi protein, susu, dan gula.
“Kelangkaan makanan, air, dan susu memengaruhi semua anak Palestina. Banyak yang sudah meninggal karena malnutrisi, dan lebih banyak lagi yang akan meninggal karena kekurangan makanan dan air,” katanya kepada MEE.
“Kebanyakan anak-anak di Palestina sedang sekarat karena kelaparan. Bahkan orang dewasa mulai tumbang karena malnutrisi dan dehidrasi — bagaimana mungkin anak-anak bisa bertahan?”
Israel 'membuat warga sipil kelaparan'
Badan PBB untuk Pengungsi Palestina, UNRWA, menyebut Israel "membuat warga sipil kelaparan", termasuk satu juta anak-anak, melalui pengepungan dan pemblokiran pasokan makanan serta obat-obatan ke Jalur Gaza.
UNRWA mendesak Israel untuk mencabut blokadenya dan mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk dengan bebas. Di lokasi distribusi yang dimiliterisasi oleh badan bantuan yang didukung AS dan Israel, warga sipil yang mencoba mengakses makanan malah ditembak dan dibunuh oleh tentara Israel.
Sementara itu, badan pertahanan sipil Gaza melaporkan bahwa jumlah kematian bayi akibat kelaparan semakin meningkat.
“Kasus-kasus memilukan ini bukan disebabkan oleh bom langsung, melainkan oleh kelaparan, kekurangan susu bayi, dan ketiadaan layanan kesehatan dasar,” kata juru bicara pertahanan sipil Mahmoud Bassal kepada AFP.
Sejak Israel mengakhiri gencatan senjata selama enam minggu pada bulan Maret, Israel telah mempertahankan blokade ketat di Gaza.
Meskipun bantuan terbatas mulai masuk sejak akhir Mei, persediaan yang terakumulasi selama masa gencatan telah habis, mendorong wilayah tersebut ke dalam krisis kekurangan terburuk sejak perang dimulai.
Situasi ini sangat mengerikan bagi ibu hamil dan bayi baru lahir. Dokter Tanpa Batas (MSF) mengatakan bahwa klinik-klinik mereka melihat jumlah kasus malnutrisi tertinggi sepanjang masa.
“Banyak bayi yang lahir prematur karena ibu hamil mengalami kekurangan gizi yang parah,” kata dokter MSF, Joanne Perry.
Rosros memohon kepada dunia agar melihat warga Gaza dengan “mata kasih sayang”.
“Kami adalah orang-orang damai, kami tidak mencari perang, kami ingin segera ada gencatan senjata. Kami ingin bantuan masuk. Kami ingin hidup seperti Umat [negara-negara Muslim]. Seperti anak-anak di seluruh dunia yang hidup normal, kami ingin anak-anak kami hidup seperti itu juga.
“Seluruh Umat, dan seluruh dunia telah memalingkan mata dari kami. Seluruh dunia telah mengkhianati kami... tak ada yang berdiri bersama kami selain Allah.”