"Kami Sudah Sekarat, Anak-Anak Menjerit Minta Makan, Mereka Tidur dengan Perut Kosong"
Badan PBB UNRWA menyerukan Israel mencabut blokade dan mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza tanpa hambatan.
Badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) menyebut Israel sengaja membuat warga sipil di Gaza kelaparan, termasuk satu juta anak-anak di Gaza, dengan memblokir pengiriman makanan dan obat-obatan penting ke Gaza.
UNRWA kemarin mengeluarkan peringatan, menyerukan kepada Israel untuk mencabut blokade dan mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk tanpa hambatan. Di lokasi distribusi yang dimiliterisasi dan dijalankan oleh GHF (Global Humanitarian Foundation) yang didukung AS dan Israel, warga sipil yang mencoba mengakses makanan dilaporkan ditembak dan dibunuh oleh tentara Israel.
Dilansir Middle East Eye, Senin (21/7), sejak GHF didirikan pada akhir Mei, hampir 900 orang telah tewas, menurut otoritas kesehatan Palestina.
Bbukan karena pengeboman
Badan pertahanan sipil Gaza menyatakan pada hari Minggu bahwa jumlah kematian bayi akibat kelaparan terus meningkat. “Kasus-kasus memilukan ini bukan karena pengeboman langsung, tetapi karena kelaparan, kurangnya susu formula bayi, dan ketiadaan layanan kesehatan dasar,” kata juru bicara pertahanan sipil Mahmud Bassal kepada AFP.
Dia mencatat sedikitnya tiga kematian semacam itu dalam satu pekan terakhir saja.
Kantor urusan kemanusiaan PBB (OCHA) juga memperingatkan bahwa keluarga-keluarga di Gaza menghadapi "kelaparan yang sangat parah", dengan anak-anak "mengurus" dan sebagian meninggal sebelum bantuan dapat mencapai mereka.
Dalam sebuah pernyataan yang diunggah di X (Twitter), OCHA mengatakan bahwa orang-orang yang mencari makanan ditembaki, dan menyebut situasinya sebagai “sesuatu yang tidak dapat diterima secara moral”.
Program Pangan Dunia (WFP) awal bulan ini menyatakan bahwa hampir sepertiga populasi Gaza melewati hari-hari tanpa makan. Lembaga itu memperingatkan ribuan orang menghadapi kelaparan yang mengancam jiwa dan kembali menyerukan gencatan senjata segera serta akses kemanusiaan tanpa hambatan.
Tenaga medis di lapangan menggambarkan situasi yang terus memburuk. “Kami sedang menuju ke arah yang tidak diketahui,” kata Mohammed Abu Afash, direktur Layanan Medis di Gaza. “Malnutrisi pada anak-anak telah mencapai tingkat tertinggi.”
Berbicara kepada Aljazeera Arabic, Abu Afash mengatakan bahwa perempuan dan anak-anak mulai tumbang karena kelaparan. “Kelaparan memengaruhi semua orang. Hari-hari mendatang bisa menjadi bencana jika makanan tidak diizinkan masuk.”
'Orang-orang sedang kelaparan'
Setidaknya 71 anak telah meninggal karena malnutrisi selama perang, dan 60.000 lainnya mengalami gejala-gejala malnutrisi, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.
Kemudian pada hari Minggu, kementerian itu menyatakan bahwa 18 orang telah meninggal karena kelaparan dalam 24 jam terakhir, termasuk seorang penyandang disabilitas Palestina yang meninggal karena kelaparan berkepanjangan dan kurangnya akses perawatan yang layak.
Ziad Musleh, seorang ayah yang mengungsi di Gaza tengah, mengatakan kepada AFP: “Kami sekarat, anak-anak kami sekarat dan kami tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikannya. Anak-anak kami menangis dan menjerit minta makan. Mereka tidur dalam rasa sakit, kelaparan, dengan perut kosong. Sama sekali tidak ada makanan.”
Direktur Program Pangan Dunia, Carl Skau, yang baru-baru ini mengunjungi Kota Gaza sebagai bagian dari misi PBB, menggambarkan bencana kemanusiaan ini sebagai “yang terburuk yang pernah saya lihat.”
Ia mengatakan seorang ayah yang ia temui telah kehilangan 25 kg hanya dalam dua bulan. “Orang-orang sedang kelaparan, sementara makanan berada hanya di seberang perbatasan,” katanya.
Sejak Israel memutuskan gencatan senjata selama enam minggu pada bulan Maret, negara itu telah mempertahankan blokade ketat atas Gaza. Meski bantuan terbatas mulai masuk sejak akhir Mei, persediaan yang dikumpulkan selama gencatan senjata telah habis, membuat Gaza dalam krisis kelaparan terburuk sejak perang dimulai.
Situasi sangat mengkhawatirkan bagi perempuan hamil dan bayi baru lahir. Dokter Lintas Batas (MSF) menyatakan bahwa klinik mereka melihat lonjakan kasus malnutrisi. “Banyak bayi lahir prematur akibat malnutrisi luas di kalangan perempuan hamil,” kata dokter MSF, Joanne Perry.
Ia menambahkan bahwa ruang perawatan bayi yang penuh sesak kini memiliki hingga lima bayi berbagi satu inkubator. “Luka-luka tidak sembuh karena kekurangan protein. Infeksi bertahan jauh lebih lama dari biasanya. Ini adalah krisis sepenuhnya,” kata Perry.