Israel Sungguh Keji, Bayi-Bayi Baru Lahir di Gaza Cacat dan Terancam Nyawa karena Tak Ada Susu Akibat Blokade

Blokade bantuan yang dilakukan Israel ke wilayah Gaza mengancam nyawa bayi-bayi yang kekurangan susu.

Khulafa Pinta Winastya
Oleh Khulafa Pinta Winastya - Reporter
Israel Sungguh Keji, Bayi-Bayi Baru Lahir di Gaza Cacat dan Terancam Nyawa karena Tak Ada Susu Akibat Blokade
Anggota keluarga Palestina Abu Dayer menangis di rumah sakit Al-Shifa setelah kematian anggota keluarga dalam serangan udara Israel di Kota Gaza, Senin (17/5/2021). Tercatat ada 212 pendud (© 2025 Liputan6.com)

Puluhan bayi yang dirawat di Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis kini dalam kondisi memprihatinkan karena mengalami malnutrisi akibat blokade bantuan yang dilakukan Israel di wilayah Jalur Gaza, Palestina.

Larangan Israel atas masuknya pasokan medis termasuk inkubator dan susu formula bayi, mengancam nyawa bayi-bayi yang baru lahir dan memperburuk krisis kemanusiaan di daerah kantong tersebut.

Melansir dari laman middleeastmonitor, Rabu (25/06/2025), seorang dokter bernama Al-Nawajaa menyebut jika kelangkaan susu formula berisiko menyebabkan para bayi tertular banyak penyakit, seperti gastroenteritis dan penyakit pernapasan.

Pihak rumah sakit berulang kali memperingatkan tentang bencana kesehatan yang mengancam ribuan bayi karena menipisnya semua jenis susu. Risiko kematian semakin meningkat karena para ibu juga menderita kekurangan gizi, sehingga tidak mampu untuk menyusui.

"Akibat kurangnya pasokan makanan bergizi yang masuk ke Jalur Gaza, baik ibu maupun anak-anak terpapar penyakit akibat kekurangan gizi," kata Dokter Al-Nawajaa dikutip dari middleeasteye.

Menurut data Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, beberapa fasilitas kesehatan yang masih beroperasi di daerah kantong yang terkepung itu berada di bawah ancaman serius karena kurangnya pasokan bantuan mulai dari makanan hingga kebutuhan medis.

Blokade Bantuan di Gaza

Selama hampir dua tahun, di samping pemboman tanpa henti dan penargetan rumah sakit yang disengaja, militer Israel telah menggunakan kelaparan penduduk sebagai senjata perang, menurut penyelidik independen PBB.

Dalam kurun waktu delapan bulan, Israel bahkan sempat melakukan pengepungan ketat di Jalur Gaza yang secara drastis membatasi aliran makanan pokok dan barang-barang medis.

Kemudian pada Senin (19/5/2025), Israel akhirnya memperbolehkan hanya sembilan truk bantuan kemanusiaan untuk memasuki Gaza. Diketahui, Israel sempat menutup seluruh jalur masuk ke Gaza untuk pengiriman makanan, obat-obatan, dan bantuan kemanusiaan.

Hal ini memperburuk krisis kemanusiaan yang telah sangat parah di wilayah tersebut. Berdasarkan data Bank Dunia, hampir seluruh populasi Gaza sekitar 2,4 juta orang sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan.

Namun kini, otoritas Israel kembali membatasi pengiriman makanan yang menyelamatkan nyawa. Dilansir dari laman middleeasteye, disebutkan jika program distribusi makanan yang dijalankan AS-Israel menewaskan puluhan warga Palestina yang mencari bantuan setiap harinya.

Massa yang berkumpul di titik distribusi bantuan ditembaki oleh tentara Israel dan tentara bayaran yang disewa untuk mengamankan staf di sana. Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang dijalankan AS mengoordinasikan operasinya secara erat dengan pemerintah Israel.

Rekomendasi