Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak, Banten, menyatakan belum ada laporan gagal panen atau puso akibat kekeringan hingga pertengahan Juli 2026. Fenomena El Nino yang menyebabkan musim kemarau panjang menjadi pemicu utama kondisi ini. Pihak Distan terus memantau dan mengambil langkah mitigasi untuk menjaga produksi pangan.
Kepala Distan Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, menegaskan bahwa meskipun sebulan lebih tidak turun hujan, belum ada tanaman padi yang dilaporkan mengalami gagal panen. Upaya proaktif dilakukan untuk memastikan ketersediaan air bagi areal persawahan. Hal ini penting demi mendukung program swasembada pangan nasional yang berkelanjutan.
Untuk mengatasi dampak kekeringan, Distan Lebak mengoptimalkan penggunaan pompa air guna menyedot air permukaan sungai. Air tersebut kemudian dialirkan ke areal persawahan yang membutuhkan. Bagi wilayah yang tidak memiliki sumber air, usulan pembuatan sumur bor telah diajukan kepada Kementerian Pertanian.
Advertisement
Advertisement
Dampak Kekeringan dan Upaya Mitigasi Distan Lebak
Data sementara Distan Lebak mencatat 372 hektare areal persawahan di Kabupaten Lebak mengalami kekeringan hingga pertengahan Juli 2026. Area terdampak tersebar di beberapa kecamatan, termasuk Kalanganyar, Cipanas, Rangkasbitung, Cibadak, Warunggunung, Muncang, dan Maja. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah.
Rahmat Yuniar meminta para petani untuk aktif mengaktifkan pompa air di wilayah yang memiliki akses sumber air. Langkah ini diharapkan dapat menjaga pasokan air ke areal persawahan. Kolaborasi antara pemerintah dan petani menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan kekeringan ini.
Sebagian besar areal persawahan yang mengalami kekeringan tersebut tidak memiliki sumber air yang memadai. Kondisi ini menyulitkan upaya penyedotan air melalui pompa. Oleh karena itu, solusi jangka panjang seperti sumur bor sangat dibutuhkan untuk keberlanjutan pertanian di Lebak.
Advertisement
Advertisement
Harapan Swasembada Pangan Melalui Sumur Bor
Distan Lebak berharap musim kemarau tidak menghambat produksi pangan di wilayah tersebut. Target utama adalah tetap menghasilkan pangan guna mendukung program swasembada pangan nasional. Ketahanan pangan menjadi prioritas di tengah ancaman perubahan iklim.
Usulan pembuatan sumur bor ke Kementerian Pertanian menjadi harapan besar bagi areal persawahan tanpa sumber air. Sumur bor diharapkan dapat menyediakan pasokan air yang stabil. Dengan demikian, tanaman padi dapat tetap tumbuh optimal meskipun di musim kemarau.
Rahmat Yuniar menekankan pentingnya solusi permanen untuk mengatasi masalah kekeringan. "Kami berharap areal persawahan yang tidak memiliki sumber air bisa dilakukan pembuatan sumur bor dan bisa dimanfaatkan untuk mengaliri tanaman padi," ujarnya. Ini menunjukkan komitmen Distan dalam mencari solusi terbaik.
Advertisement
Advertisement
Kondisi Kekeringan di Kalanganyar
Dike Cidrasari, seorang penyuluh pertanian di Kecamatan Kalanganyar, memberikan gambaran spesifik mengenai kondisi di wilayahnya. Luas tanaman padi di Kalanganyar mencapai 406 hektare. Dari jumlah tersebut, 104 hektare mengalami kekeringan ringan dan 98 hektare mengalami kekeringan sedang.
Cidrasari menambahkan bahwa hingga saat ini, belum ada data tanaman padi di Kecamatan Kalanganyar yang mengalami kekeringan berat. "Kami belum ada data tanaman padi di wilayahnya yang mengalami kekeringan berat dan gagal panen atau puso," katanya. Ini memberikan sedikit kelegaan di tengah kekhawatiran kekeringan.
Meskipun demikian, pemantauan intensif terus dilakukan oleh para penyuluh pertanian. Mereka berupaya memberikan pendampingan kepada petani. Tujuannya adalah untuk meminimalkan dampak kekeringan dan mencegah terjadinya gagal panen.
Advertisement
Sumber: AntaraNews