Memasuki hari kedua erupsi Gunung Anak Krakatau, sebaran abu vulkanik masih menimbulkan dampak di sejumlah wilayah.
Aktivitas penerbangan terganggu hingga berujung pembatalan ribuan penerbangan. Selain itu, di Lampung, Jabodeta, dan Banten juga terpaksa menerapkan pembelajaran jarak jauh untuk melindungi peserta didik dari paparan abu vulkanik.
Lalu seberapa lama abu vulkanik bisa bertahan di udara dan sejauh apa sebarannya?
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Dr Ida Pramuwardani, menyebut tidak ada angka baku yang dapat memastikan lama partikel berada di udara maupun seberapa jauh persebarannya karena banyak faktor yang mempengaruhi.
"Karena ini sangat dipengaruhi kekuatan dan durasi erupsi, ukuran partikel debu, ketinggian kolom erupsi, serta kondisi dan arah angin di atmosfer. Namun, BMKG dapat melakukan pemantauan dari sebaran debu vulkaniknya," ujar Ida kepada Liputan6.com, Senin (7/9/2026).
Kepala Direktur Meteorologi Penerbangan, Achadi Subarkah, menambahkan ada tiga penentu utama yang memengaruhi pergerakan abu vulkanik.
"Pertama tinggi kolom erupsi ke udara, arah dan kecepatan angin pada setiap level ketinggian dan besar partikel yang terlontar ke udara," katanya.
Menurut dia, partikel berukuran kecil yang terlontar ke lapisan atas atmosfer berpotensi bertahan berhari-hari. Dengan kondisi angin yang kencang di ketinggian tersebut, abu dapat menyebar lebih jauh.
Ia menyebut, berdasarkan pemodelan, abu vulkanik Anak Krakatau saat ini bergerak ke arah timur dan mendekati ruang udara Jawa Tengah.
"Namun demikian, partikel yang jatuh sampai ke darat terkonfirmasi melalui paper test di bandar udara kertajati masih negatif," ujarnya.
Advertisement
Apakah Hujan Bisa Membersihkan Abu?
Hujan menjadi salah satu mekanisme alami yang dapat mengurangi konsentrasi debu/abu vulkanik di atmosfer. Debu dapat bertindak sebagai inti kondensasi—tergantung kandungan mineralnya—yang mengikat uap air melalui proses kondensasi menjadi butir air (water droplet) atau kristal es, lalu menghasilkan awan dan hujan.
"Namun demikian, agar dapat bertindak sebagai inti kondensasi, diperlukan faktor utama lainnya seperti kelembapan udara yang cukup dan labilitas atmosfer yang kuat. Keberadaan debu vulkanik saja tidak otomatis membentuk awan.
Jika terdapat potensi pembentukan awan yang menghasilkan hujan, abu vulkanik bisa tersapu melalui dua mekanisme berikut:
- Jika debu vulkanik berada di dalam awan hujan, butir air dan kristal es di dalam awan dapat menangkap atau mengikat partikel debu sehingga konsentrasinya berkurang.
- Jika debu vulkanik berada di bawah awan dan terjadi hujan, tetes hujan dapat menangkap partikel debu dan membawanya jatuh ke permukaan, sehingga konsentrasi debu di bawah awan ikut menurun.
"Tetapi awan hujan umumnya terbentuk pada ketinggain 3000 - 45.000 feet, sehingga di atmosfer bagian atas (>45.000 feet) debu vulkanik akan tetap terdeteksi dan tidak tersapu oleh awan hujan/hujan," ujar Ida.