Aktivis Gaza Tantang PM Anthony Albanese usai Disiksa Israel: Saya Ceritakan Kebiadaban Mereka!
"Israel memukuli, menyiksa dan melecehkan saya secara seksual bersama rekan-rekan aktivis perdamaian kemanusiaan lainnya selama berhari-hari," ujarnya.
Aktivis kemanusiaan kapal Gaza Flotilla, Violet Coco mengungkap fakta mengejutkan mengenai kekejaman yang dilakukan oleh aparat keamanan Israel terhadap para relawan perdamaian di perairan Internasional.
Violet Coco membeberkan kronologi penangkapan hingga berbagai bentuk penyiksaan fisik dan psikologis yang ia alami bersama rekan-rekannya sesama aktivis dari berbagai belahan dunia.
Aksi kekerasan ini terjadi saat rombongan kapal kemanusiaan tersebut berusaha menembus blokade ilegal yang diterapkan Israel di wilayah Jalur Gaza demi menyalurkan bantuan logistik.
"Sangat-sangat melegakan bisa kembali ke rumah. Saya telah menyiapkan sebuah pernyataan tertulis. Jika boleh saya bacakan," kata Aktivis Gaza Flotilla 'Violet Coco' yang diunggah akun @jazirah_tv_indonesia seperti dikutip merdeka.com, Senin (25/5).
Coco menjelaskan, militer Israel melakukan tindakan di luar batas kemanusiaan sejak pertama kali mereka menguasai kapal bantuan tersebut secara paksa.
"Israel memukuli, menyiksa dan melecehkan saya secara seksual bersama rekan-rekan aktivis perdamaian kemanusiaan lainnya selama berhari-hari," ujarnya.
Bagi para aktivis, situasi di dalam tahanan sangat menekan, namun keinginan kuat untuk berkumpul kembali dengan keluarga menjadi motivasi utama mereka untuk tetap bertahan hidup.
"Kekuatan yang membuat saya bisa bertahan dan lolos adalah harapan untuk pulang," ucapnya.
Setelah berhasil dibebaskan dan kembali ke negara asalnya, Coco mengaku tidak bisa melupakan penderitaan warga Palestina serta aktivis lain yang masih mendekam di sel tahanan.
"Namun sekarang, setelah tiba di rumah, saya tidak bisa berhenti memikirkan saudara-saudara kami yang tertinggal di sana, yang masih berada dalam cengkraman militer, polisi, dan penjaga penjara Israel yang sangat menikmati rasa sakit serta penderitaan kami," ungkapnya.
Berdasarkan data yang diterimanya, jumlah warga Palestina yang kini ditahan oleh otoritas Israel mencapai angka ribuan orang, termasuk kelompok rentan seperti anak-anak di bawah umur.
"Saat ini masih ada hampir 10.000 penjara Palestina yang disandera di sistem penjara Israel. Ratusan diantaranya adalah anak-anak, bahkan ada yang baru berusia dua tahun," jelasnya.
Coco mengungkapkan, bukti-bukti visual dan kesaksian langsung dari lapangan menunjukkan perlakuan yang diterima warga sipil Palestina jauh lebih kejam daripada apa yang dialami para relawan Internasional.
"Berbagai foto, kesaksian dan rekaman video warga Palestina di penjara-penjara ini membuktikan kondisi yang jauh lebih buruk daripada yang kami alami," ungkapnya.
"Meskipun apa yang kami hadapi sudah sangat mengerikan termasuk kasus nyata dimana tentara Israel melatih anjing-anjing untuk memerkosa tahanan. Israel ingin mempermalukan kami, tetapi kami tidak merasa malu," sambungnya.
Menurutnya, tindakan keji yang dilakukan secara sistematis oleh otoritas penegak hukum dan militer tersebut justru memperlihatkan degradasi moral dari bangsa Israel sendiri.
"Aib ini sepenuhnya milik Israel, yang telah menodai jiwa mereka sendiri dengan kekejaman yang sangat terencana," ucapnya.
Relawan kemanusiaan ini menegaskan, misi pelayaran mereka murni bersifat sosial demi menolong warga Gaza yang sedang mengalami krisis pangan akut akibat blokade menahun.
"Kami berlayar untuk menembus blokade ilegal Israel terhadap rakyat Palestina yang secara sengaja menciptakan bencana kelaparan massal," paparnya.
"Sebagai orang-orang yang memiliki hati nurani, kami melihat bahwa pemerintah Australia terlibat aktif dalam mendukung genosida yang nyata-nyata dilakukan oleh Israel. Padahal kaki hanyalah aktivis perdamaian yang membawa makanan, obat-obatan dan buku-buku anak-anak," tambahnya.
Penyiksaan mulai meningkat intensitasnya ketika para aktivis dibawa ke lokasi interogasi yang gelap dan terisolasi setelah proses penangkapan di laut lepas.
"Setelah diculik dari perairan Internasional, pakaian setiap peserta di kapal kami dilucuti. Kami didorong melewati ruang penyiksaan gelap, di mana lima tentara Israel sudah bersiap untuk memukuli dan menganiaya kami," kenang Violet.
Selama masa penahanan di fasilitas militer, para relawan dipaksa menghadapi kondisi fisik yang ekstrem serta dilarang untuk beristirahat.
"Kami kemudian dibiarkan kelaparan, dehidrasi, kedinginan ekstrim, dipaksa menahan posisi tubuh yang menyiksa di bawah todongan senjata, di bawah terik matahari selama berjam-jam, tidak dibiarkan tidur, dan mengalami banyak siksaan lainnya," cerita Violet.
Tim medis yang ikut dalam rombongan tersebut sempat melakukan pencatatan secara rahasia mengenai jenis-jenis luka fisik yang diderita para korban sebelum dipindahkan ke penjara utama.
"Kami kemudian dipindahkan ke kapal penjara di Ashdod dan kemudian ke penjara penyiksaan di darat, di mana tim medis kami mendata seluruh cedera kami. Kami menghafalnya jika sewaktu-waktu bisa bertemu pengacara. Meskipun ada lebih banyak luka yang terdata sejak saat itu, angka-angka inilah yang terekam jelas di otak saya," ujarnya.
Dari pendataan internal tersebut, ditemukan puluhan kasus cedera berat mulai dari patah tulang, penyalahgunaan zat medis, hingga tindakan kekerasan seksual terhadap relawan.
"35 kasus patah tulang, lima cidera kepala, satu cedera telinga serius, satu cidera mata serius, satu orang tanpa insulin selama dua hari, satu orang tanpa obat tekanan darah selama dua hari, tiga orang disuntik zat misterius, beberapa orang disetrum dan 14 kasus kekerasan seksual," bebernya.
Violet juga melayangkan kritik keras terhadap sikap politik Pemerintah Australia yang dinilai lambat dan gagal memberikan perlindungan diplomatik kepada warga negaranya yang disandera.
"Pemerintah Australia telah gagal melindungi kami. Mereka gagal mengatasi pembunuhan massal terhadap perempuan di pantai-pantai ini," sesal Violet.
Ia menuntut adanya tindakan nyata dari jajaran sanksi eksekutif tertinggi Australia dan menantang Perdana Menteri untuk mendengarkan langsung bukti-bukti kekejaman tersebut.
"Mereka gagal melindungi kami sebagai sandera Israel, dan terus-menerus gagal membela rakyat Palestina yang menjadi korban kekejaman dan kebrutalan Israel. Anthony Albanese, temuilah kami. Dengarkan kisah kami secara langsung," pinta Violet.
Desak Evaluasi Bilateral Australia-Israel
Violet meminta pemerintah Australia mengevaluasi ulang hubungan bilateral mereka dengan Israel setelah melihat fakta kekerasan yang terjadi di lapangan.
"Tatap mata saya saat saya menceritakan kebiadaban yang kami hadapi, lalu katakan pada saya bahwa anda masih berteman dengan Israel. Saya menantang anda, pemerintah ini telah mengecewakan kita semua," ucapnya.
Serukan Solidaritas Global
Violet menyerukan gerakan solidaritas global kepada masyarakat sipil untuk aktif melakukan pemutusan jalur ekonomi dan pasokan militer guna menghentikan agresi.
"Mereka gagal mewakili nilai-nilai kemanusiaan kita, dan saat pemerintah gagal, orang-orang biasa harus melakukan tindakan luar biasa untuk memperbaiki kesalahan ini. Hentikan pasokan senjata Austrlia ke Israel dengan tubuh anda jika anda bisa," ucapnya.
"Lakukan divestasi dan boikot segala hal yang mendatangkan keuntungan bagi Israel. Kita harus berjuang untuk melumpuhkan mesin penyiksaan mereka. Free Palestina," pungkasnya.