Sejarah Mencatat, Israel Pernah Bantai 10 Aktivis Flotilla Pada 2010, Begini Kisahnya
Sejarah pernah mencatat tragedi kapal Mavi Marmara pada Mei 2010 yang diserang Israel hingga menewaskan 10 aktivis, terbanyak dari Turki.
Zionis Israel kemarin pagi menangkap lima warga negara Indonesia di atas kapal yang sedang dalam misi kemanusiaan menuju Gaza dalam gerakan Global Sumud Flotilla. Di antara relawan asal Indonesia itu ada empat jurnalis dari sejumlah media nasional yaitu Republika, Tempo, dan Inews.
Kementerian Luar Negeri mengecam keras tindakan Israel tersebut dan mendesak seluruh awak kapal dibebaskan.
Kejahatan Israel mengepung kapal bantuan bukan kali ini aja.
Sejarah pernah mencatat tragedi kapal Mavi Marmara pada Mei 2010 yang diserang Israel hingga menewaskan 10 aktivis, terbanyak dari Turki.
Mavi Marmara adalah kapal penumpang asal Turki yang menjadi bagian dari armada internasional bernama Gaza Freedom Flotilla. Armada ini membawa ratusan aktivis, bantuan kemanusiaan, obat-obatan, dan material pembangunan untuk Gaza. Flotilla tersebut diorganisasi oleh sejumlah organisasi internasional pro-Palestina, termasuk IHH Humanitarian Relief Foundation dari Turki.
Latar Belakang
Sejak tahun 2007, Israel memberlakukan blokade terhadap Jalur Gaza, yang membatasi pergerakan barang dan orang secara ketat. Israel berdalih blokade ini diperlukan untuk mencegah penyelundupan senjata ke Hamas. Namun berbagai organisasi HAM dan PBB menyebutnya sebagai bentuk hukuman kolektif yang melanggar hukum internasional dan menyebabkan krisis kemanusiaan di Gaza.
Kapal MV Mavi Marmara merupakan armada terbesar yang berangkat dari Turki bersama dua kapal lainnya, yakni Gazze I dan Defne. Selain itu, terdapat dua kapal dari Yunani, Eleftheri Mesogios dan the Sfendoni, serta Challenger I dan Challenger II dari Amerika Serikat dan the Rachel Corrie dari Irlandia. Sebanyak 700 orang dari 36 negara, termasuk 11 warga Amerika Serikat, beberapa anggota parlemen Eropa, ikut dalam armada yang mengangkut 10 ribu ton bantuan kemanusiaan.
Di atas kapal terdapat para pembela hak asasi manusia, termasuk mantan presiden, anggota-anggota parlemen, pemenang hadiah Nobel perdamaian, para diplomat, para penulis, dan seniman.
Kronologi Serangan
Mavi Marmara berlayar pada 22 Mei dari pelabuhan Sarayburnu, Istanbul, bertujuan menembus blokade Israel di Gaza. Sepekan kemudian, di Laut Mediterania di selatan Siprus, kapal tersebut bergabung dengan armada bantuan lainnya
Pada 31 Mei 2010, ketika armada masih berada di perairan internasional Laut Mediterania, pasukan komando laut Israel, Shayetet 13, melakukan operasi penyergapan terhadap kapal-kapal flotilla.
Sesaat setelah jarum jam menunjuk ke pukul 04.30, tentara Israel dari kesatuan elite Flotilla 13/Shayetet 13 menyergap kapal tersebut dari laut dan udara. Satu persatu tentara bertopeng turun dari helikopter, menuju dek kapal berbendera Turki itu, yang berada di wilayah perairan internasional atau 130 km di luar perairan teritorial Israel. Prajurit yang bersenjatakan senapan, granat kejut, dan gas air mata ditugaskan melancarkan serangan fajar pertama.
Sementara itu, kapal jenis assault craft menyorot target dengan cahaya menyilaukan. Speaker besar dengan suara menggelegar dipakai untuk memberi peringatan, agar para aktivis menghentikan misi mereka.
Hasil otopsi mengungkapkan bahwa sembilan pria Turki yang berada di atas kapal ditembak seluruhnya 30 kali. Israel kemudian menarik kapal-kapal tersebut ke pelabuhan, menahan seluruh penumpang dan menyita seluruh barang bantuan. Selain itu, insiden tersebut juga melukai sekitar 50 orang lainnya.
Israel menyatakan tentaranya diserang menggunakan batang besi, pisau, dan benda tumpul setelah naik ke kapal. Faktanya tak ada senjata di kapal itu. Sementara aktivis menyebut pasukan Israel menggunakan kekuatan berlebihan terhadap misi sipil kemanusiaan.
Reaksi Dunia
Serangan ini memicu kecaman internasional luas.
Turki mengecam keras tindakan Israel dan memutus hubungan diplomatik kedua negara.
PBB melakukan penyelidikan dan menyatakan penggunaan kekuatan Israel berlebihan serta tidak masuk akal dalam banyak kasus.
Hubungan Israel–Turki memburuk akibat insiden ini, hingga akhirnya Israel menyampaikan permintaan maaf secara resmi pada 2013 dan menyetujui kompensasi sebesar $20 juta kepada keluarga korban pada tahun 2016. Sebagai bagian dari kesepakatan normalisasi, Turki setuju untuk mengesahkan undang-undang yang melindungi pasukan Israel dari tuntutan hukum.
Setelah misi tahun 2010, FFC dibentuk untuk menyatukan dan mengoordinasikan berbagai kampanye dari seluruh dunia yang berusaha untuk menghentikan pengepungan Israel.
FFC mencakup organisasi anggota dari beberapa negara, termasuk Kanada, Italia, Malaysia, Selandia Baru, Norwegia, Afrika Selatan, Spanyol, Swedia, Turki, AS, Irlandia, Brasil, Australia, dan Prancis.