Pelapor Khusus PBB: Tentara Israel Paling Bejat di Dunia!
Pernyataan itu disampaikan sebagai respons atas sebuah video yang memperlihatkan penyiksaan brutal terhadap seorang anak Palestina oleh tentara Israel.
Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Francesca Albanese, melontarkan kritik tajam terhadap tentara Israel. Ia bahkan menggambarkan pasukan tersebut sebagai “tentara paling bejat di dunia,” seraya menilai praktik yang dilakukan telah melampaui batas dan melanggar hukum internasional.
Pernyataan itu disampaikan sebagai respons atas sebuah video yang memperlihatkan penyiksaan brutal terhadap seorang anak Palestina oleh tentara Israel.
“Saya telah melihat cukup banyak hal untuk mengatakan dengan pasti: tentara Israel adalah tentara yang paling bejat,” tulisnya melalui akun resmi dikutip dari Middle East Monitor, Selasa (21/4/2026).
Video Penyiksaan Anak Palestina oleh Tentara Israel
Reaksi keras Albanese muncul setelah beredarnya dokumentasi yang menunjukkan kekerasan terhadap anak Palestina yang dilakukan tantara Israel. Video tersebut memicu perhatian luas dan memperkuat kritik terhadap tindakan militer Israel di wilayah konflik.
Sebagai Pelapor Khusus PBB, Albanese dikenal vokal dalam menyoroti isu-isu kemanusiaan di Palestina, termasuk dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di lapangan.
Ancaman dan Tekanan Usai Laporan Israel Melakukan Genosida di Gaza
Sejak menyerahkan laporan resmi yang menyatakan Israel melakukan “genosida” di Jalur Gaza, Albanese mengaku menjadi sasaran kampanye penghasutan hingga ancaman pembunuhan.
Dalam wawancara dengan The Guardian, ia mengungkapkan kondisi pribadinya yang kini berada dalam situasi berbahaya.
Ia menyebut kehidupannya berubah drastis dan penuh tekanan sejak laporan tersebut dipublikasikan, menggambarkannya sebagai “perjalanan roller coaster” akibat ancaman yang terus datang.
Dampak Genosida Israel di Jalur Gaza
Dalam laporan yang sama, disebutkan bahwa Israel telah melancarkan perang genosida terhadap warga Palestina sejak 8 Oktober 2023. Konflik tersebut berdampak besar pada kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza.
Sejumlah fasilitas vital, termasuk rumah sakit, dilaporkan mengalami kerusakan parah. Selain itu, tenaga medis turut menjadi korban, baik dalam bentuk kematian, cedera, maupun penangkapan. Pengepungan yang diberlakukan juga memperburuk situasi, khususnya di sektor kesehatan.
Dampak konflik ini sangat besar. Lebih dari 72.000 warga Palestina dilaporkan meninggal dunia, dengan mayoritas korban merupakan anak-anak dan perempuan. Sementara itu, lebih dari 172.000 orang mengalami luka-luka.
Kerusakan infrastruktur juga meluas, dengan sekitar 90 persen fasilitas di Jalur Gaza terdampak, memperparah krisis kemanusiaan yang masih berlangsung hingga kini.