Ahli PBB Simpulkan Israel Pelaku Genosida di Gaza dengan Kekerasan Seksual Sistematis terhadap Perempuan
PBB menyelidiki dan menemukan bahwa Israel menargetkan fasilitas kesehatan perempuan di Gaza sebagai tindakan genosida.
Para ahli PBB melaporkan, Israel melakukan “tindakan genosida” melalui penghancuran sistematis fasilitas layanan kesehatan perempuan di Gaza.
Dilansir Middle East Eye, Jumat (14/3), Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB untuk wilayah Palestina, termasuk daerah Yerusalem Timur, dan Israel, menyatakan penghancuran sistematis Israel terhadap fasilitas layanan kesehatan seksual dan reproduksi adalah bentuk kejahatan pemusnahan. Ditambah dengan pembatasan pasokan medis yang mengakibatkan kematian ibu dan perempuan di Palestina.
Selain itu, laporan tersebut mengatakan Israel menargetkan langsung fasilitas kesehatan perempuan, mengakibatkan dampak jangka panjang yang tidak dapat dipulihkan pada kesehatan mental serta prospek reproduksi dan kesuburan warga Palestina sebagai suatu kelompok.
Komisi menyimpulkan bahwa ini merupakan dua kategori tindakan genosida dalam statuta Roma dan Konvensi Genosida.
Pelanggaran yang dilakukan Israel adalah perbuatan yang disengaja, dengan tujuan untuk menghancurkan fisik warga Palestina. Mereka memberlakukan tindakan keji, seperti pencegahan kelahiran.
Seorang dokter kandungan di Gaza mengatakan kepada komisi PBB, pelanggaran Israel itu adalah “perang terhadap perempuan”.
“Melahirkan di Gaza seperti melahirkan di Abad Pertengahan. Tidak ada akses kepada perawatan neonatal, prenatal, atau pascapersalinan,” ungkap dokter kandungan yang lain, dikutip dari laporan tersebut.
“Peralatan dasar untuk melahirkan, seperti forsep, juga tidak tersedia. Dan obat-obatan penting seperti obat hipertensi untuk mengobati kondisi umum dan serius, seperti preeklamsia. Akibatnya morbiditas ibu, lahiran mati, dan keguguran meningkat.”
Menurut laporan itu, kurangnya obat pereda nyeri dapat berdampak pada perempuan yang melahirkan secara caesar, mereka terpaksa menjalani operasi tersebut tanpa ada obat pereda nyeri.
Selain itu, petugas medis Gaza menyatakan adanya kekurangan ruang rawat, obat-obatan, dan peralatan yang memadai, sehingga meningkatkan jumlah kematian ibu. Akibatnya, banyak perempuan Gaza memilih untuk melakukan persalinan yang tidak aman di rumah atau di tempat pengungsian.
“Dia dibiarkan berdarah di sana”
Komisi tersebut menemukan adanya lonjakan kematian perempuan di Jalur Gaza sejak Oktober, jumlah kematian meningkat dua kali lipat lebih banyak dari konflik 2008. Peningkatan ini juga disebabkan oleh pengeboman udara dan penargetan tempat tinggal penduduk Palestina oleh Israel yang dilakukan secara tidak proporsional dan berdampak langsung pada perempuan.
Disebutkan bahwa lonjakan tersebut juga dapat disebabkan oleh strategi militer Israel yang menargetkan rumah-rumah pribadi dengan tujuan membunuh para aktivis Gaza, mengakibatkan seluruh keluarga terbunuh bersama-sama.
Seorang konsultan laktasi di Gaza, mengatakan kepada komisi tentang seorang ibu yang baru melahirkan terbunuh bersama anak kembarnya pada bulan Agustus 2024.
“Salah satu pasien saya baru saja melahirkan anak kembar, ketika apartemennya diserang. Serangan itu terjadi ketika suaminya sedang berada di kantor pemerintah setempat untuk mendaftarkan kelahiran.”
“Ibu dan bayinya yang baru lahir itu tewas seketika dalam serangan itu. Kesedihan setelah kematiannya semakin bertambah karena ternyata tidak ada anggota perlawanan di lokasi itu.”
Seorang saksi dari rumah sakit al-Awda melaporkan bahwa mereka melihat seorang perempuan hamil ditembak dan dibunuh saat tengah berjalan menuju rumah sakit.
“Dia ditinggalkan di sana dalam keadaan berdarah. Tidak ada yang bisa menyelamatkannya karena rumah sakit dikepung oleh pasukan Israel. Dia ditemukan dalam keadaan membusuk setelah 20 hari kemudian,” kata mereka.
Laporan tersebut merinci bagaimana tindakan kekerasan seksual berbasis gender, termasuk pemaksaan menelanjangi diri di depan umum, adalah bagian dari prosedur operasi standar pasukan keamanan Israel.
Sementara tindakan lainnya, seperti pemerkosaan dan kekerasan pada alat kelamin adalah “berdasarkan perintah yang jelas atau dengan dorongan secara tidak langsung” oleh pemimpin sipil dan militer Israel.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey