PBB Ungkap Dampak Genosida Israel terhadap Warga Gaza, Sungguh Memilukan
Israel menghancurkan leburkan Gaza. Bahkan, meski dalam kondisi gencatan senjata dengan Hamas, Israel tetap sama menyerang dan membunuhi warga Gaza.
Praktik koersif dan pembatasan yang diterapkan oleh Israel terhadap warga Gaza semakin memperburuk kebutuhan akan bantuan kemanusiaan, termasuk layanan psikososial. Hal ini diungkapkan oleh badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (12/5/2026).
Menurut laporan dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), mitra-mitra mereka di Gaza yang menyediakan saluran telepon bebas pulsa mencatat adanya peningkatan sebesar 14 persen dalam sesi konseling jarak jauh antara bulan Maret dan April tahun ini. Mereka berhasil mengadakan lebih dari 9.600 sesi konseling pada bulan lalu.
"Peningkatan ini sangat terlihat pada kasus-kasus yang melibatkan kemunculan niat untuk bunuh diri, yang naik 90 persen," kata OCHA.
"Ada juga peningkatan 46 persen dalam konseling terkait kekerasan fisik berbasis gender dan peningkatan 34 persen dalam konseling untuk kecemasan dan ketakutan."
Selain itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa lebih dari 43.000 orang mengalami cedera yang dapat mengubah hidup mereka, termasuk cedera tulang belakang, cedera otak traumatis berat, luka bakar berat, dan amputasi anggota tubuh, seperti dikutip dari Antara News pada Kamis (14/5).
WHO juga memperkirakan sekitar 53.000 cedera memerlukan rehabilitasi jangka panjang, dan satu dari lima orang yang mengalami amputasi adalah anak-anak. Meskipun ketersediaan layanan rehabilitasi telah meningkat sejak September 2025, kapasitasnya masih jauh di bawah level sebelum Oktober 2023.
Saat ini, tidak ada fasilitas rehabilitasi yang beroperasi secara penuh, dan lebih dari 400 pasien masih menunggu untuk mendapatkan perawatan rawat inap yang khusus.
Banyak Gedung Runtuh
Di Tepi Barat, OCHA melaporkan bahwa pada hari Jumat (8/5), buldoser yang dikendalikan oleh pemukim Israel menghancurkan bangunan yang dimiliki oleh komunitas pengungsi Palestina di Arab al Khouli, Kegubernuran Qalqiliya. Bangunan tersebut sebelumnya menjadi tempat tinggal bagi lebih dari 20 keluarga.
Setelah mengalami serangan berulang dari para pemukim Israel, anggota komunitas itu terpaksa meninggalkan lokasi tersebut pada tanggal 27 Februari.
"Ini adalah salah satu dari 45 komunitas Palestina yang sepenuhnya mengungsi sejak tahun 2023 akibat serangan pemukim yang terus-menerus dan pembatasan akses yang diberlakukan," ungkap kantor kemanusiaan tersebut.
OCHA juga mencatat bahwa lebih dari 60 persen pengungsian yang terjadi tahun ini berkaitan dengan serangan pemukim dan pembatasan akses yang terkait, terjadi di wilayah Lembah Yordania. Dalam konteks ini, warga Palestina di Tepi Barat harus mendapatkan perlindungan sesuai dengan hukum yang berlaku, dan mereka yang melakukan pelanggaran harus dimintai pertanggungjawaban atas tindakan mereka, tegas OCHA.