Angka Mengerikan: Korban Agresi Israel di Gaza Tembus 65.000 Jiwa, Apa Pemicunya?

Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan korban agresi Israel di Gaza mencapai 65.062 jiwa dan 165.697 luka-luka. Konflik ini bermula dari serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Angka Mengerikan: Korban Agresi Israel di Gaza Tembus 65.000 Jiwa, Apa Pemicunya?
Setelah PBB menyimpulkan genosida tengah berlangsung di Gaza, lebih dari 20 lembaga kemanusiaan mendesak pemimpin dunia bertindak cepat, memperingatkan konsekuensi serius. (Merdeka.com)

Kementerian Kesehatan Gaza pada Rabu (17/9) mengungkapkan data terbaru yang mengejutkan terkait agresi Israel di Jalur Gaza. Jumlah warga Palestina yang tewas akibat agresi Zionis Israel sejak Oktober 2023 telah menembus angka 65.062 orang. Selain itu, 165.697 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka akibat konflik berkepanjangan tersebut.

Data ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam jumlah korban jiwa dan luka-luka di wilayah yang terkepung itu. Dalam kurun waktu sehari terakhir saja, sebanyak 98 orang tewas dan 385 lainnya yang terluka telah dirawat di berbagai rumah sakit di Jalur Gaza. Situasi kemanusiaan di sana semakin memburuk dengan terus bertambahnya jumlah korban.

Agresi Israel ini merupakan respons terhadap serangan roket dan infiltrasi yang dilakukan oleh kelompok perjuangan Palestina, Hamas, pada 7 Oktober 2023. Konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan ini telah menimbulkan krisis kemanusiaan parah, dengan jutaan warga sipil terpaksa mengungsi dan kekurangan akses terhadap kebutuhan dasar.

Eskalasi Korban dan Kondisi Terkini di Gaza

Pernyataan dari Kementerian Kesehatan Gaza menegaskan bahwa jumlah korban agresi Israel terus bertambah setiap harinya. Sejak 7 Oktober 2023, total 65.062 orang telah kehilangan nyawa dan 165.697 lainnya terluka. Angka ini mencerminkan dampak destruktif dari operasi militer yang dilancarkan oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF).

Kondisi di Jalur Gaza semakin memprihatinkan, terutama sejak 18 Maret, ketika pasukan penjajah melanjutkan serangan mereka. Dalam periode tersebut, lebih dari 12.500 orang di Gaza tewas dan 53.600 lainnya terluka. Fasilitas kesehatan di Gaza kewalahan menangani banyaknya korban, sementara pasokan medis dan bantuan kemanusiaan sangat terbatas.

Serangan yang terus-menerus ini menyebabkan kehancuran infrastruktur sipil yang masif, termasuk rumah sakit, sekolah, dan tempat tinggal. Ribuan bangunan hancur atau rusak parah, memaksa jutaan warga Palestina mengungsi dari rumah mereka dan hidup dalam kondisi yang tidak layak.

Kronologi Pemicu Konflik dan Serangan Balasan Israel

Konflik yang menyebabkan tingginya korban agresi Israel di Gaza ini bermula pada 7 Oktober 2023. Pada tanggal tersebut, Zionis Israel menghadapi serangan roket yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Jalur Gaza. Setelah itu, kelompok perjuangan Palestina, Hamas, menembus wilayah-wilayah perbatasan dan menembaki militer serta warga sipil Israel.

Dalam serangan tersebut, Hamas juga menyandera lebih dari 200 orang, memicu krisis sandera yang berkepanjangan. Menurut otoritas Israel, sekitar 1.200 orang di pihak Israel tewas dalam peristiwa tersebut. Insiden ini menjadi titik balik yang memicu respons militer besar-besaran dari Israel.

Sebagai aksi balasan, IDF kemudian meluncurkan Operasi Pedang Besi. Operasi ini meliputi serangan target terhadap warga sipil dan pengumuman pengepungan total terhadap Jalur Gaza. Pasokan air, listrik, bahan bakar, makanan, serta obat-obatan diputus, memperparah krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.

Operasi Militer dan Klaim Penguasaan Wilayah

Pada awal September, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mulai membombardir gedung-gedung tinggi di Kota Gaza. Menurut militer Israel, gedung-gedung tersebut diduduki oleh kelompok-kelompok Palestina. Pembombardiran ini merupakan bagian dari upaya IDF untuk menguasai dan membersihkan wilayah tersebut dari kehadiran kelompok bersenjata.

Pada 4 September, juru bicara IDF, Efi Defrin, mengklaim bahwa IDF telah menguasai 40 persen Kota Gaza. Defrin juga menyatakan bahwa operasi militer akan diperluas dalam beberapa hari ke depan. Klaim ini menunjukkan intensitas dan skala operasi darat yang dilakukan oleh Israel di Jalur Gaza.

Operasi militer ini terus berlanjut dengan tujuan untuk melumpuhkan kemampuan militer Hamas dan mengamankan wilayah perbatasan Israel. Namun, dampaknya terhadap warga sipil Palestina sangat besar, dengan terus bertambahnya korban jiwa dan kerusakan yang meluas di seluruh Jalur Gaza.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi