PT Pertamina Patra Niaga memimpin pengembangan ekosistem bahan bakar penerbangan ramah lingkungan Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia melalui partisipasi pada forum ASEAN Sustainable Aviation Fuel (SAF) Workshop 2026.
Vice President Aviation Fuel Business Pertamina Patra Niaga Yosep Iswadi mengatakan forum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi pengembangan SAF di ASEAN.
"Pertamina telah membangun ekosistem SAF terintegrasi dari hulu hingga hilir melalui kolaborasi lintas sektor," ujarnya dikutip dari Antara, Jumat (24/7).
SAF tersertifikasi CORSIA yang diproduksi di Green Refinery RU IV Cilacap kini telah disalurkan melalui Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara I Gusti Ngurah Rai, yang menegaskan kesiapan Pertamina menyediakan bahan bakar aviasi berstandar internasional untuk mendukung dekarbonisasi penerbangan sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat pengembangan SAF di ASEAN.
Forum, yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan bersama European Union Aviation Safety Agency (EASA) di Denpasar, Bali, pada 13-15 Juli 2026, menjadi wadah kolaborasi negara-negara ASEAN untuk mempercepat implementasi SAF sebagai solusi dekarbonisasi sektor penerbangan.
Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan Sokhib Al Rokhman, yang hadir dalam forum, menyampaikan apresiasi kepada Pertamina atas komitmennya membangun ekosistem SAF di Indonesia.
Menurutnya, kolaborasi yang dibangun Pertamina bersama para pemangku kepentingan menjadi langkah strategis dalam mempercepat transisi menuju penerbangan rendah emisi sekaligus memperkuat daya saing industri aviasi nasional.
Sokhib menegaskan Kementerian Perhubungan terus mendorong pengembangan dan implementasi SAF melalui penguatan regulasi serta kolaborasi lintas sektor.
Advertisement
SAF Standar Internasional
Kehadiran SAF produksi Pertamina yang telah memenuhi standar internasional menjadi fondasi penting untuk mempercepat dekarbonisasi sektor penerbangan sekaligus mengukuhkan Indonesia sebagai salah satu motor pengembangan SAF di kawasan.
Pada kesempatan tersebut, Pertamina memperkenalkan ekosistem SAF terintegrasi (end-to-end ecosystem) sebagai bagian dari strategi mendukung target net zero emission (NZE) 2060 atau lebih cepat.
Vice President Corporate Communication Pertamina Patra, Niaga Kitty Andhora, mengatakan pengembangan SAF merupakan bukti komitmen Pertamina dalam menghadirkan solusi energi rendah karbon sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
"Kehadiran kami pada ASEAN SAF Workshop menegaskan komitmen Pertamina untuk mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan, memperkuat posisi Indonesia sebagai penggerak SAF di kawasan ASEAN, serta menghadirkan inovasi energi berkelanjutan yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan," ujarnya.
Menurut Kitty, pengembangan ekosistem SAF menunjukkan bahwa transisi energi dapat berjalan seiring dengan penerapan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku energi bersih. Kolaborasi pemerintah, industri, dan masyarakat menjadi kunci mempercepat adopsi SAF sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat pengembangan energi penerbangan berkelanjutan di kawasan ASEAN.