Aktivis Inggris Ungkap Perlakuan di Tahanan Israel: Mereka Memperlakukan Kami Seperti Binatang!
Ia merupakan bagian dari Global Sumud Flotilla yang berupaya mengirim bantuan ke wilayah Gaza yang diblokade Israel.
Seorang aktivis asal Inggris, Katy Davidson, mengungkap pengalaman penahanannya oleh pasukan Israel saat mengikuti misi kemanusiaan menuju Gaza. Ia merupakan bagian dari Global Sumud Flotilla yang berupaya mengirim bantuan ke wilayah Gaza yang diblokade Israel.
Dalam keterangannya kepada koresponden Anadolu Agency di Istanbul, Davidson menyebut para tahanan diperlakukan tidak manusiawi selama penahanan.
Davidson menceritakan bahwa kapal kecil yang ia tumpangi bersama lima aktivis lainnya dicegat di perairan internasional oleh pasukan Israel.
"Kami mengalami pencegatan yang cukup menakutkan," kata Davidson.
"Itu memakan waktu cukup lama. Termasuk drone dengan lampu sorot terang yang diarahkan ke kami, dan kemudian sebuah fregat besar mendekat ke kapal kami".
Ia menuturkan, sempat muncul harapan mereka berhasil lolos setelah kapal pertama menjauh. Namun, harapan itu pupus ketika kapal lain mendekat dari belakang.
"Kami hanya berjarak empat hari perjalanan dari Italia, dari Sisilia. Kami tidak menduganya," katanya.
"Mereka Memperlakukan Kami Seperti Binatang"
Davidson mengakui perlakuan di atas kapal masih tergolong “cukup tegas, tetapi layak”. Namun, kondisi berubah drastis saat mereka dipindahkan ke fasilitas penahanan.
"Begitu kami sampai di penjara terapung ini, yang membuat kami terkejut, kami dibawa pergi dengan perahu karet, dan mereka memperlakukan kami seperti binatang," katanya.
Menurutnya, para tahanan ditempatkan di penjara darurat berbentuk kontainer pengiriman yang dikelilingi kawat berduri, dengan penjaga bersenjata yang berpatroli. Ia menyebut kondisi sangat padat, dengan lebih dari 60 orang dalam satu kontainer berukuran 40 kaki, sementara total tahanan mencapai 181 orang.
"Kami tidur di atas kasur busa yang menyerap air. Pada malam hari, terkadang mereka menyemprotkan air agar meresap ke dalam kasur orang-orang," katanya.
Ia juga menambahkan bahwa para tahanan hanya diberi roti dan air, serta menghadapi sikap penjaga yang “bersikap kasar, agresif, dan manipulatif.”
Kekhawatiran terhadap Aktivis Palestina
Davidson menyampaikan kekhawatiran khusus terhadap dua aktivis lainnya, yakni Saif (Saif Abu Keshek) dan Tiago. Ia menyoroti kondisi Saif yang memiliki identitas Palestina.
"Kami tahu betapa rentannya warga Palestina di tangan Israel," katanya.
Kelompok tersebut, lanjutnya, sempat menolak meninggalkan kapal sebelum memastikan keselamatan kedua aktivis tersebut.
Menurut Davidson, para aktivis akhirnya diberi pilihan untuk meninggalkan wilayah tersebut atau menghadapi pemindahan ke penjara di Israel. Insiden ini terjadi saat armada bantuan kemanusiaan tersebut dicegat pada Kamis di dekat sebuah pulau Yunani, sekitar 600 mil laut dari tujuan mereka, yakni wilayah Gaza yang berada di bawah blokade Israel.
Misi Kemanusiaan Global Sumud Flotilla
Diketahui, kapal-kapal awal dari armada ini berangkat dari Barcelona pada 12 April. Sementara armada utama berlayar dari Sisilia pada 26 April, dengan tujuan menembus blokade Gaza yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Sebanyak 59 aktivis dari berbagai negara, termasuk 18 warga negara Turki, akhirnya tiba di Turki pada Jumat malam menggunakan penerbangan Turkish Airlines dari pulau Kreta, Yunani.
Menutup pernyataannya, Davidson menyerukan kepada komunitas internasional untuk segera bertindak atas kejadian tersebut.
“Semua orang harus bangkit karena ini tidak hanya akan berhenti di Palestina, ini akan menyebar ke seluruh dunia,” katanya.