Israel mengancam kapal Madleen dari gerakan Freedom Flotilla yang sedang berlayar ke Jalur Gaza membawa bantuan kemanusiaan. Ancaman ini dilontarkan Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz pada Minggu (8/6).
Katz memerintahkan pasukannya mencegah kapal tersebut mencapai Gaza, seperti dikutip dari The Cradle, Senin (9/6).
"Saya telah menginstruksikan tentara Israel bertindak untuk mencegah Madleen Flotilla mencapai Gaza. Kepada Greta dan kawan-kawannya yang anti-Semit, saya tegaskan: Kalian sebaiknya berbalik arah - karena akalian tidak akan sampai Gaza," ancamnya.
"Israel tidak akan mengizinkan siapa pun menembus blokade laut di Gaza, yang bertujuan untuk mencegah Hamas menyuplai senjata."
Katz memimpin rapat pada 5 Juni membahas keputusan final bagaimana menanggapi kapal Madleen dan para penumpangnya.
Menurut laporan lembaga penyiaran Israel KAN dan Channel 12, angkatan laut Israel bersiap untuk mencegat kapal tersebut, menangkap, dan menyeretnya ke pelabuhan Ashdod. Tentara Israel juga berencana menangkap dan mendeportasi para aktivis di dalam kapal tersebut.
Dikutip dari Al Mayadeen, militer Israel dilaporkan telah memobilisasi pasukan angkatan lautnya, termasuk unit komando Shayetet 13 dan divisi kapal rudal, untuk mempersiapkan kemungkinan pencegatan dan penangkapan terhadap mereka yang berada di dalam kapal.
Kapal Madleen membawa 12 aktivis pro-Palestina, di antaranya aktivis iklim Greta Thunberg, aktor serial Game of Thrones asal Irlandia Liam Cunningham, aktivis asal Brasil Thiago Avila, dan anggota parlemen Uni Eropa perwakilan Prancis Rima Hassan. Mereka membawa susu formula untuk bayi, tepung, peralatan medis, penyaring air, produk higienitas wanita, dan prostetik (kaki palsu) untuk anak-anak yang terluka selama serangan Israel.
Pada Sabtu (7/6), kapal Madleen telah tiba di perairan Mesir, sekitar 160 mil laut dari Gaza.
"Kami berada di perairan internasional, dan Israel akan melakukan kejahatan perang jika menekan kami. Israel telah mengirim tiga kapal angkatan laut mengarah ke kami, dan kita akan lihat apa yang bakal terjadi," kata salah satu aktivis yang ikut dalam pelayaran tersebut, Yasemin Acar kepada Al Araby TV pada Minggu.
Menurut sejumlah laporan, gangguan komunikasi telah mulai menargetkan kapal tersebut.
Pada 2 Mei dini hari, sebuah pesawat tak berawak Israel mengebom kapal bantuan Freedom Flotilla yang sedang dalam perjalanan menuju Gaza, menyebabkan lubang pada kapal, kebakaran, dan membuatnya berisiko tenggelam.