5.700 Kematian di Prancis Akibat Suhu Panas Ekstrem

Para ilmuwan menyebut Eropa kini menjadi benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia.

Septian Deny
Oleh Septian Deny - Reporter
5.700 Kematian di Prancis Akibat Suhu Panas Ekstrem
Sejumlah turis mendinginkan tubuh dengan memanfaatkan kolam di lapangan dekat Menara Eiffel, Paris, Prancis di tengah gelombang panas ekstrem pada 26 Juni 2026. (dok. Dimitar DILKOFF / AFP)

Gelombang panas yang melanda Eropa terus menimbulkan dampak serius. Prancis melaporkan sebanyak 5.764 kematian berlebih selama periode 17 Juni hingga 2 Juli 2026, sementara Spanyol masih berjuang memadamkan salah satu kebakaran hutan terbesar dalam sejarahnya.

Dikutip dari The Guardian, Kamis (23/7/2026), Badan Kesehatan Nasional Prancis mencatat angka kematian berlebih tersebut meningkat hingga 36 persen dibandingkan kondisi normal.

Lebih dari separuh kematian terjadi hanya dalam tiga hari, yakni pada 25-27 Juni. Sekitar dua pertiga korban merupakan warga berusia 75 tahun ke atas.

Meski demikian, otoritas kesehatan Prancis menegaskan seluruh korban meninggal tercatat akibat berbagai penyebab. Hingga kini belum ada kepastian bahwa kematian tersebut berkaitan langsung dengan gelombang panas yang melanda negara itu.

Sebagai perbandingan, sepanjang musim panas tahun lalu Prancis mencatat 5.722 kematian berlebih.

Kebakaran Hutan Meluas di Spanyol

Di saat bersamaan, Spanyol masih menghadapi kebakaran hutan besar di wilayah Guadalajara, sebelah utara Madrid. Kobaran api telah menghanguskan sekitar 32.000 hektare lahan, menjadikannya salah satu kebakaran terbesar yang pernah terjadi di negara tersebut.

Bencana itu memaksa sekitar 1.200 warga dari 34 desa mengungsi. Otoritas juga mengeluarkan perintah bagi warga di 14 desa lainnya untuk tetap berada di dalam rumah demi alasan keselamatan.

Pada Rabu (22/7), pihak berwenang menyatakan kondisi kebakaran mulai terkendali. Lima desa bahkan telah diizinkan kembali dihuni setelah situasi dinilai lebih aman.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez mengatakan negaranya telah mengalami 22 kebakaran hutan besar sepanjang 2026. Jumlah tersebut meningkat hingga empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Menurut Sánchez, lebih dari 100.000 hektare lahan telah terbakar sepanjang tahun ini. Luas tersebut setara dengan rata-rata total area yang terbakar selama satu tahun penuh dalam satu dekade terakhir.

"Kita harus meningkatkan kesadaran publik dan tidak menganggap remeh darurat iklim," tegas Sánchez.

Suhu Bisa Capai 42-44 Celcius

Menara Eiffel dan Museum Louvre Paris Terdampak Gelombang Panas Ekstrem di Eropa
Para pengunjung menggunakan payung di area Museum Louvre untuk melindungi diri dari suhu panas yang sangat tinggi di Prancis.

Badan Meteorologi Nasional Spanyol (Aemet) memperingatkan risiko kebakaran hutan masih berada pada level "sangat tinggi hingga ekstrem". Kondisi itu diperkirakan akan memburuk dalam beberapa hari ke depan.

Aemet memperkirakan suhu udara akan mencapai 42 hingga 44 derajat Celsius, disertai angin barat yang kering sehingga berpotensi mempercepat penyebaran api.

Para ilmuwan menyebut Eropa kini menjadi benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia. Perubahan iklim akibat aktivitas manusia dinilai meningkatkan frekuensi dan intensitas gelombang panas, kekeringan, serta kebakaran hutan.

Kebakaran di Guadalajara terjadi kurang dari dua pekan setelah kebakaran mematikan di wilayah selatan Spanyol yang menewaskan 13 orang, termasuk sejumlah warga negara asing.

Menteri Transisi Ekologi Spanyol Sara Aagesen menyebut kebakaran di Guadalajara sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah terbaru negaranya. Berdasarkan data pemerintah, luas area yang terbakar hanya kalah dari kebakaran besar di wilayah barat laut Spanyol pada tahun lalu yang menghanguskan sekitar 37.000 hektare lahan.

Rekomendasi