2 Aktivis Global Sumud Flotilla Diduga Disiksa di Penjara Israel
Dua anggota Komite Pengarah Global Sumud Flotilla, yaitu Saif Abukeshk dan Thiago Vila, kini sedang menjalani penahanan di Penjara Shikma.
Dua anggota Komite Pengarah Global Sumud Flotilla (GSF), yaitu Saif Abukeshk dan Thiago Vila, dilaporkan kini berada dalam tahanan di Penjara Shikma yang terletak di Askalan, wilayah utara Gaza, Palestina. Keduanya disebutkan mengalami penyiksaan serta perlakuan yang tidak manusiawi selama masa penahanan mereka. Informasi ini terungkap setelah perwakilan diplomatik melakukan pertemuan langsung dengan keduanya dan menyatakan kekhawatiran serius mengenai keselamatan serta kondisi kesehatan mereka.
"Keduanya melaporkan adanya penyiksaan, pemukulan, dan perlakuan tidak manusiawi. Terdapat pula kekhawatiran bahwa perawatan medis yang diberikan sejauh ini tidak memadai. Keduanya telah melakukan mogok makan sejak penangkapan mereka," ungkap Tim Komunikasi Internal GSF pada Minggu (3/5/2026). Maimon Herawati, anggota Steering Committee Global Sumud Flotilla, juga mengonfirmasi hal tersebut dengan menyatakan bahwa kedua aktivis itu menunjukkan tanda-tanda penyiksaan yang cukup serius.
Menurut Maimon, Thiago bahkan mengalami gangguan penglihatan pada salah satu matanya dan tidak mendapatkan akses medis yang memadai saat itu.
"Jadi kedua teman kami menunjukkan tanda-tanda penyiksaan. Tiago sempat tidak bisa melihat di satu matanya dan tidak ada akses kepada dokter yang cukup saat itu," ujarnya. Maimon menambahkan bahwa Saif dan Thiago telah menerima kunjungan dari perwakilan konsulat masing-masing negara, tetapi komunikasi dalam pertemuan tersebut sangat terbatas karena mereka dipisahkan oleh kaca.
"Tiago dan Saif sudah menerima kunjungan konsulat dari pemerintah masing-masing. Dan di situ mereka dibatasi oleh kaca, jadi tidak bisa secara bebas berkomunikasi," jelas Maimon. Penjara Shikma sendiri dikenal sebagai fasilitas penahanan dengan kondisi yang keras, sering digunakan untuk menahan warga Palestina. Dalam beberapa waktu terakhir, penjara tersebut juga dilaporkan digunakan untuk menahan warga sipil yang ditangkap dari Gaza.
Pihak Global Sumud Flotilla menyatakan akan segera merilis informasi lebih lanjut melalui pernyataan resmi dalam beberapa jam ke depan. Di sisi lain, desakan untuk segera melakukan intervensi diplomatik semakin menguat guna memastikan keselamatan kedua aktivis tersebut serta menuntut pertanggungjawaban atas dugaan pelanggaran yang terjadi selama proses penahanan.
Fokuskan Penanganan Medis Terlebih Dahulu
Sebelumnya, Maimon Herawati, anggota steering committee GSF dari Indonesia, menyatakan bahwa saat ini mereka memprioritaskan penanganan medis bagi para korban. Selain itu, mereka juga mendorong langkah diplomatik untuk membebaskan dua relawan yang masih ditahan oleh Israel.
"Fokus kami saat ini adalah memastikan 176 rekan-rekan kami itu baik kondisinya, bisa dirawat oleh dokter untuk yang memerlukan perawatan," ujar Maimon kepada wartawan, termasuk jurnalis Liputan6.com, di Marmaris, Turki, pada Jumat (1/5/2026).
Dari jumlah tersebut, sebanyak 34 orang dilaporkan mengalami luka-luka, dengan lima di antaranya dalam kondisi serius. Mereka memerlukan penanganan lebih lanjut di fasilitas kesehatan yang lebih besar.
"Ada yang patah hidungnya, ada yang matanya harus mendapatkan perawatan secara khusus, ada yang patah tulangnya. Lima di antaranya parah dan harus dibawa ke rumah sakit besar," jelasnya. Di tengah upaya pemulihan korban, GSF juga menghadapi kesulitan dalam mengakses dua relawan, Saif Abukeshek dan Thiago Avila, yang hingga kini belum diketahui kondisi pastinya.
Maimon mengungkapkan bahwa keduanya belum mendapatkan hak dasar untuk berkomunikasi dengan pihak luar maupun pengacara.
"Kami belum bisa memastikan kondisi mereka karena tidak ada akses kepada Saif dan Thiago sampai saat ini. Seharusnya mereka berdua mendapatkan akses telepon ataupun menghubungi pengacara, tapi itu tidak diberikan," katanya.
Solidaritas Lintas Agama
Tim hukum GSF saat ini sedang berusaha untuk mendapatkan tekanan dari komunitas internasional agar kedua relawan tersebut segera memperoleh akses bantuan hukum.
"Tim pengacara saat ini berusaha mencari jalan, meminta pemerintah di dunia untuk menekan Israel agar memberikan akses kepada pengacara," tambahnya.
Dalam kesempatan ini, Maimon juga menyoroti solidaritas lintas agama yang ditunjukkan oleh para relawan, termasuk Tiago yang bukan seorang muslim.
"Tiago itu bukan muslim. Tapi kalau kita lihat pengorbanannya untuk menolong bangsa Palestina itu luar biasa, bahkan dengan risiko nyawa," ungkapnya. Ia mengajak masyarakat Indonesia, khususnya umat muslim, untuk lebih peduli terhadap isu kemanusiaan di Palestina.
"Saya mengajak teman-teman muslim dari Indonesia, kita ini bagian dari komunitas muslim terbesar di dunia. Semoga kita bisa bergerak lebih masif dan solid untuk mendukung gerakan yang mencoba mendobrak blokade ilegal atas Gaza," imbuhnya.
GSF adalah sebuah inisiatif solidaritas global yang melibatkan lebih dari 80 kapal sipil dari berbagai negara. Tujuan utama dari misi ini adalah untuk menembus blokade Gaza dan membuka jalur kemanusiaan bagi masyarakat Palestina. Misi ini menjadi simbol perlawanan sipil global terhadap krisis kemanusiaan yang berkepanjangan di Gaza, sekaligus seruan moral kepada dunia internasional untuk bertindak lebih tegas.