Israel Deportasi Greta Thunberg dan Tiga Aktivis Kapal Madleen, Sisanya Ditahan
Israel menangkap 12 aktivis yang menjadi awak kapal Madleen yang tengah menuju Gaza untuk memberikan bantuan kemanusiaan.
Israel mendeportasi aktivis Greta Thunberg yang berasal dari Swedia dan 3 orang lainnya setelah menyita Madleen, kapal bantuan kemanusiaan yang menuju Gaza. Kapal itu ditumpangi Thunberg dan 12 awak kapal lainnya.
Kementerian Luar Negeri mengatakan Thunberg terbang dari Tel Aviv, Israel, pada Selasa (10/6) pagi menuju Swedia melalui Prancis. Kantor tersebut merilis foto-foto aktivis asal Swedia itu di dalam pesawat penerbangan.
Saat tiba di Bandara Roissy-Charles de Gaulle di Paris, Thunberg mengatakan kepada wartawan bahwa dia dan teman-temannya telah “diculik di perairan internasional.”
Dikutip dari laporan jurnalis Al Jazeera yang hadir di bandara Paris, kondisi Thunberg terlihat sangat lelah.
“Ia mengenakan pakaian yang sama dengan yang dikenakannya saat ditahan. Ini merupakan waktu yang cukup sulit baginya,” kata jurnalis tersebut. Sementara Thunberg mengatakan bahwa dirinya “baik-baik saja”.
Tidak ada apa-apanya dibanding Gaza
Thunberg menggambarkan perlakuan “tidak manusiawi” yang dilakukan otoritas Israel untuk para aktivis. Namun ia menekankan bahwa penahanan singkatnya tidak ada apa-apanya dibanding dengan penderitaan yang dialami warga Palestina di bawah pendudukan Israel.
Menurut penasihat hukum kelompok hak asasi Adalah, yang mewakili para aktivis serta seorang jurnalis yang berlayar di kapal Madleen, Thunberg termasuk di antara empat awak kapal yang setuju dideportasi.
Omar Faiad, reporter Aljazeera Mubasher yang juga berada di Madleen dan dideportasi oleh Israel, mengatakan,
“Kami ditahan selama tiga hari berturut-turut. Hak kami ditolak untuk menghubungi siapapun, bahkan pengacara. Kami kemudian dipaksa menandatangani sejumlah dokumen, tapi tak seorang pun dari kami mengetahui isi dokumen-dokumen itu. Konsul Prancis menyarankan saya untuk menandatangani surat itu agar bisa terbang, jadi saya melakukannya,” ujar dia setelah kedatanganya di Paris.
Menurut Adalah, delapan aktivis yang ditahan dibawa ke Pengadilan Peninjauan Penahanan Israel di fasilitas penahanan Ramleh. Pengadilan meninjau perintah penahanan yang dikeluarkan terhadap mereka oleh Kementerian Dalam Negeri sembari menunggu waktu deportasi mereka.
Dilarang Masuk ke Israel Selama 100 Tahun
Israel memperlakukan ke-12 orang itu seolah-oleh mereka telah “memasuki negara itu secara ilegal.” Israel menahan mereka secara paksa di perairan internasional dan memindahkan mereka ke wilayah Israel tanpa persetujuan dari mereka.
Ke-12 orang itu juga diberitahu pada Senin (9/6) bahwa Israel telah memberlakukan larangan masuk selama 100 tahun kepada masing-masing dari mereka. Sidang diadakan selama lima jam kemarin.
Tim hukum Adalah berpendapat bahwa pencegatan Madleen oleh Israel dan penculikan relawan bersenjata melanggar hukum internasional.
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, mengatakan bahwa lima dari mereka yang menjadi sasaran proses deportasi paksa adalah warga negara Prancis yang telah menerima dukungan konsuler. Salah satunya adalah Anggota Parlemen Eropa Prancis Rima Hassan.
Menurut anggota Parlemen Prancis Clemence Guette, Hassan menolak menandatangani dokumen yang menyatakan bahwa ia telah memasuki wilayah Israel secara ilegal.
Unjuk rasa besar telah berlangsung di Prancis dan negara-negara lain untuk memprotes pencegatan Madleen oleh Israel dan penahanan awaknya.
Pasukan angkatan laut Israel menyita Madleen dan menahan awaknya pada Senin pagi, sekitar 185 km jauhnya dari pantai Gaza. Kapal tersebut didampingi oleh angkatan laut Israel dan tiba di pelabuhan Ashdod di Israel pada Senin malam.
Kapal itu membawa bantuan kemanusiaan seperti beras dan susu formula bayi ke Gaza. Bantuan tersebut merupakan upaya para aktivis untuk meningkatkan kesadaran tentang krisis kemanusiaan yang mengerikan di Gaza.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey