Sosok Madleen, Wanita Palestina Hebat dari Gaza Jadi Inspirasi & Nama Kapal Bantuan yang Diserang Israel

Siapa sosok "Madleen" yang namanya jadi kapal kemanusiaan Palestina?

Thomas
Oleh Thomas - Reporter
Sosok Madleen, Wanita Palestina Hebat dari Gaza Jadi Inspirasi & Nama Kapal Bantuan yang Diserang Israel
Madleen Kulab (TikTok @aljazeeraenglish)

Militer Angkatan Laut Israel menyerang Kapal "Madleen" di Laut Mediterania dalam laporan Freedom Flotilla Coalition. Komunikasi dengan kru kapal terputus akibat serangan tersebut.

Menurut kabar, sejumlah Tentara Israel menculik para aktivis di atas kapal bantuan Madleen yang menuju Gaza pada Minggu malam.

Dikutip dari Anadolu, Selasa (10/6) peristiwa penyerangan terhadap para relawan terjadi saat Freedom Flotilla Coalition berusaha menghubungi mereka.

“SOS! Para relawan di 'Madleen' telah diculik oleh pasukan Israel,” kata LSM tersebut melalui Telegram.

Pelapor Khusus PBB Francesca Albanese saat menghubungi kapten kapal mengatakan para relawan tidak mengalami luka apapun saat dicegat, namun ia meminta agar seluruh peristiwa direkam.

Dalam sebuah rekaman, Albanese mendengar seorang tentara Israel berbicara di latar belakang sebelum sambungan terputus.

“Saya kehilangan koneksi dengan kapten saat dia memberi tahu saya bahwa ada kapal lain yang mendekat,” tambahnya.

Usai peristiwa tersebut terjadi, banyak perhatian datang dari masyarakat internasional dan mengecam keras tindakan Israel tersebut.

Selain itu tak sedikit yang mulai penasaran dan mencari tahu asal usul Kapal "Madleen" yang diserang Israel itu.

Melansir dari TikTok @aljazeeraenglish, kapal "Madleen" merupakan kapal bantuan yang menuju Gaza dan diberi nama "Madleen" untuk menghormati nelayan wanita pertama dan satu-satunya di daerah tersebut.

Seorang wanita asal Palestina bernama Madleen Kulab adalah inspirasi di balik kapal tersebut. Menurut informasi, Madleen merupakan seorang nelayan yang sudah lama melaut sejak usia 13 tahun setelah ayahnya jatuh sakit.

Wanita berusia 30 tahun tersebut menentang norma gender kala itu yang mana nelayan identik dengan pekerjaan kaum pria. Namun karena keterbatasan ekonomi, ia memilih cuek demi menghidupi keluarganya dan mengejar apa yang dicintainya.

Madleen telah menjadi simbol perlawanan terhadap blokade Israel. Ia sudah beberapa kali dirugikan atas ulah Israel meski selalu memberikan perlawanan balik.

Seperti pada tahun 2016, ketika Angkatan Laut Israel menyita kapalnya dalam upaya untuk menghentikannya menangkap ikan, dia memilih menolak untuk mundur. Sebaliknya, dia membeli peralatan baru dan kembali ke laut.

Dia juga mendirikan kelompok untuk memberdayakan dan mengajar wanita lain cara menangkap ikan. Sayangnya, perang Gaza membuat impiannya tersebut sempat terhambat dan gagal terwujud.

Kulab juga telah kehilangan ayahnya dan telah mengungsi beberapa kali selama perang.

Bukan hanya itu, serangan Israel juga telah menghancurkan kapalnya, peralatan menangkap ikan, dan mencegahnya mendekati laut.

Parahnya lagi, blokade bantuan Israel telah membuat enam orang anggota keluarganya kelaparan dan tidak punya penghasilan.

Keberanian Madleen menginspirasi sebuah kapal yang bertujuan untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada warga Palestina yang kelaparan.

Madleen bahkan sempat terharu saat mengetahui namanya diberikan kepada sebuah kapal yang bertujuan untuk mematahkan pengepungan Gaza. Kapal yang telah mencapai lepas pantai Mesir membawa 12 orang relawan terdiri dari 11 aktivis dan satu jurnalis.

Di antaranya adalah aktivis iklim Swedia Greta Thunberg, Anggota Parlemen Eropa keturunan Prancis-Palestina Rima Hassan, Yasemin Acar dari Jerman, Baptiste Andre, Pascal Maurieras, Yanis Mhamdi, dan Reva Viard dari Prancis; Thiago Avila dari Brasil, Suayb Ordu dari Turki, Sergio Toribio dari Spanyol, Marco van Rennes dari Belanda, dan Omar Faiad, seorang jurnalis Al Jazeera Mubasher, juga dari Prancis.

Kapal tersebut membawa berbagai perlengkapan yang sangat dibutuhkan oleh warga Gaza, termasuk susu formula bayi, tepung, beras, popok, produk sanitasi wanita, peralatan desalinasi air, perlengkapan medis, kruk, dan prostetik anak-anak, menurut penyelenggaranya.

Kapal Madleen tergabung dalam misi terbaru yang diselenggarakan oleh Freedom Flotilla Coalition untuk memutus blokade di Gaza dan mengirimkan bantuan ke wilayah tersebut.

Perahu layar sepanjang 18 meter Madleen berlayar menuju Gaza pada tanggal 1 Juni dari Pelabuhan San Giovanni Li Cuti di Catania, Sisilia, Italia.

Meski bertujuan baik bagi masyarakat Palestina, kapal tersebut justru mendapat penolakan keras dari zionis Israel.

Israel bahkan telah meminta aktivis itu untuk kembali dan memerintahkan militernya untuk menghentikan Madleen.

Ancaman tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran akan serangan mematikan Israel terhadap kapal itu sewaktu-waktu.

Seperti dalam rekaman terbaru saat pengepungan di Laut Mediterania, menunjukkan kapal-kapal Israel mengelilingi kapal, dengan tentara memerintahkan para aktivis di atas kapal untuk mengangkat tangan mereka.

Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan Angkatan Laut Israel telah memerintahkan Madleen untuk mengubah arah karena pendekatannya terhadap apa yang disebutnya sebagai “wilayah terlarang.”

Rekomendasi