Israel Culik 12 Aktivis Pro-Palestina di Kapal Madleen Saat Menuju Gaza Bawa Bantuan Kemanusiaan
Para aktivis nekat menembus blokade Israel untuk membantu rakyat Palestina di Gaza yang kelaparan akibat blokade yang diterapkan penjajah Israel sejak 2 Maret.
Sebanyak 12 aktivis pro-Palestina yang berada di kapal Madleen yang membawa bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza diculik pasukan penjajah Israel. Hal ini dikonfirmasi Kementerian Luar Negeri Israel, seperti dilansir Al Jazeera, Senin (9/6),
Kementerian tersebut mengatakan, kru Madleen dibawa ke Israel setelah komandan mereka memerintahkan menangkap kapal tersebut yang berlayar di perairan internasional.
Kapal yang dikirim Freedom Flotilla Coalition tersebut hanya berjarak sekitar 160 kilometer dari Gaza ketika dihentikan pasukan Israel. Kapal ini mulai berlayar dari Sisilia, Italia, pada 1 Juni, dan diharapkan tiba di Gaza tujuh hari kemudian.
Aktivis yang diculik yaitu enam warga negara Prancis (Baptiste Andre, Rima Hassan, Reva Viard, Omar Faiad, Yanis Mhamdi, Pascal Maurieras), Greta Thunberg dari Swedia, Suayb Ordu dari Turki, Sergio Toribio dari Spanyol, Mark van Rennes dari Belanda, Thiago Avila dari Brasil, dan Yasemin Acar dari Jerman.
Mereka membawa bantuan berupa susu formula untuk bayi, peralatan medis, kaki palsu, tepung, dan lainnya. Para aktivis nekat menembus blokade Israel untuk membantu rakyat Palestina di Gaza yang kelaparan akibat blokade yang diterapkan penjajah Israel sejak 2 Maret.
Dikutip dari laman Zeteo, salah satu foto yang diunggah akun Telegram Flotilla menunjukkan para aktivis di atas kapal dengan tangan terangkat.
Sebelum koneksi terputus, video dari kapal menunjukkan semacam zat putih disemprotkan ke kapal. Penumpang melaporkan cairan tak dikenal itu berasal dari pesawat nirawak yang terbang di atas kepala, sementara radio kapal mulai disadap.
Organisasi HAM Palestina, Al-Haq, mengutuk pencegatan kapal Madleen di atas perairan internasional dan menyerukan pembebasan segera para aktivis.
"Israel tidak punya otoritas hukum membatasi akses ke Palestina, karena hal tersebut merupakan hak eksklusif rakyat Palestina,” kata Al-Haq yang berpusat di Ramallah tersebut dalam sebuah pernyataan, dilansir Al Jazeera.
“Israel sengaja menciptakan kelaparan sebagai alat genosida, dan blokadenya terhadap Gaza, dirancang untuk mengisolasi, memecah belah, dan menghancurkan rakyat Palestina.”